Ngaji dan Ngabdi 81: Majelis Pengajian Tafsir Surat al-Buruj 17-22

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ٱلْجُنُودِ فِرْعَوْنَ وَثَمُودَ

(Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, yaitu (kaum) Fir’aun dan (kaum) Tsamud?)
Yang dimaksud itu adalah kaum Fir’aun dan Tsamud, disebut secara khusus dalam ayat ini, karena dua kaum itu terkenal di kalangan orang Arab. Adalah kaum yang hancur karena menentang kebenaran utusan Allah. Fir’aun adalah penguasa Mesir yang sombong, menindas, kaumnya yang mengikuti menentang Nabi Musa AS, menindas Bani Israil. sedangkan Tsamud menentang Nabi Shalih AS. Fira’un ditenggelamkan di laut Merah, sedangkan kaum Tsamud disambar petir. Hikmahnya adalah peringatan bagi mereka yang menentang Rasul Muhammad Saw dan al-Qur’an, supaya mengambil pelajaran dari kedua kaum tersebut, akibat berbuat kekafiran, larut dalam kepalsuan akhirnya Allah menghancurkannya dari muka bumi ini.  Artinya bentuk kekafiran masa Nabi saat itu dalam hal ajaran tauhid, utusan Allah Muhammad Saw, dan kitab suci al-Qur’an sebagai risalah dan pedomannya. Ayat selanjutnya menjelaskan dan menguatkan:

بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ فِى تَكْذِيبٍ

(Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan).
Makna yang dikandung dari ayat ini juga dapat dipahami bahwa mereka orang-orang kafir selalu berbuat dusta kepada Jeng Nabi Saw dan al-Qur’an. Seolah-olah ayat ini dawuhi Jeng Nabi Muhammad untuk bersabar atas keingkaran orang kafir, sebagaimana yang Nabi Musa dan Nabi Shalih, memang sejak dahulu kekafiran mereka berdasar dari keras kepala dan mendustakan kebenaran yang ditunjukkan kepada mereka.

وَٱللَّهُ مِن وَرَآئِهِم مُّحِيطٌۢ

(padahal Allah meliputi mereka dari belakang mereka).
Artinya mereka orang-orang kafir dalam kuasa Allah atas balasan perbuatan yang mereka lakukan, tidak ada yang bisa menyelamatkan, juga tidak ada jalan untuk lari dari siksa Allah. Maka bagi Jeng Nabi Muhammad jangan bersedih atas kedustaan mereka, Allah dhat yang maha mengetahui dan menundukkan hati mereka.

بَلْ هُوَ قُرْءَانٌ مَّجِيدٌ فِى لَوْحٍ مَّحْفُوظٍۭ

(Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh).
Al-Qur’an adalah kitab suci yang tidak ada keraguan di dalamnya. Al-Quran datang sebagai bukti kerasulan Muhammad Saw. Maka pendustaan-pendustaan terhadapnya oleh orang-orang kafir tidak akan mengurangi kemuliaan al-Qur’an. Al-Quran adalah kitab yang terjaga di lauh al-mahfudz dari syaithan, dari pendustaan atau perubahan-perubahan yang dilakukan oleh orang-orang kafir.
Paparan di atas memberikan petunjuk kepada umat Muhammad untuk belajar dari kekafiran yang dilakukan oleh kaum Firaun dan pengikutnya, sebagai bukti bahwa kekafiran, penentangan terhadap ajaran Allah akan berakhir dengan kehancuran. Ajaran-ajaran pokok yang didustakan adalah ketauhidan, kebenaran risalah Muhammad dan kitab suci. Tiga hal ini merupakan ajaran pokok yang seharusnya diimani oleh setiap umat manusia di muka bumi ini. Karena semua yang terjadi, implikasi dari keimanan pasti dipertanggungjawabkan dan dalam kuasa Allah Saw. Perilaku-perilaku penentangan atas kekafiran Allah maha mengetahui, maha melihat, maha mengawasi dan siapapun tidak akan dapat menghindar dari kuasa Allah.
 Dalam ayat terakhir sebagai penguatnya Allah menjelaskan bahwa yang didustakan oleh orang kafir adalah Al-Qur’an, kitab suci yang terjaga di lauh al-mahfudh dari keingkaran atau perubahan-perubahan yang dilakukan dari para pendusta. Ini juga jawaban dari penentang yang menyatakan bahwa al-Qur’an itu adalah cerita-cerita Jeng Nabi. Al-Qur’an adalah kitab suci yang mutlak kebenarannya atas kehendak Allah. Maka siapapun tidak akan bisa memalsukan, merubah kepada al-Qur’an, karena keterjagaannya telah dijamin oleh Allah Saw. Maka bagi manusia bisa melakukan kajian, belajar, menikmati kebenaranya, mensyukurinya dan mengimaninya, bukan untuk menentang dan mendustakannya. Karena kebenaran al-Qur’an adalah kehendak dan kuasa Allah, bukan hambanya.
*Khadim PP al-Kamal, Pengajar UIN Tulungagung