Spiritualitas Liburan: Theologis, Politis, dan Harmonis Risalah Kyai dari Ngaji dan Ngabdi 158

Mulai tanggal 20 Desenber 2025 sampai tahun baru 2026, diskursus yang berkembang di masyarakat dunia, khususnya dunia Pendidikan Indonesia adalah tentang liburan akhir tahun. Sebuah kegiatan mengisi waktu kosong akibat dihentikannya kegiatan yang sifatnya rutinitas. Menurut KBBI, liburan artinya masa libur, waktu bebas dari pekerjaan atau sekolah untuk beristirahat, bersantai, berekreasi, atau bersenang-senang. Kata dasarnya, libur, berarti tidak bekerja atau tidak bersekolah. Istilah yang berkembangpun di tengah-tengah masyarakat beragam, ada yang menyebut dengan healing (bersantai), traveling, melakukan perjalanan, peak season, waktu kosong, holiday. Juga dalam bahasa arab biasa disebut uthlah, liburan atau siyahah wisata, dan masih banyak sebutan-sebutan lain untuk liburan, tergantung kegiatannya, waktunya dilaksanakan. Intinya masyarakat berkeinginan untuk mengosongkan waktu selama waktu tertentu untuk tujuan beristirahat dari kegiatan-kegiatan rutin keseharian.
Kegiatannya pun beragam sesuai dengan kesenangan masing-masing orang, ada yang berlibur dengan berkumpul bersama keluarga yang lama tidak bertemu, misalnya obrolan-pembicaraan masyarakat abad 20 menyebutnya dengan “berlibur ke rumah nenek”. Ada menyebut dengan traveling, melakukan perjalanan ke pantai, berkemah di tengah hutan, perjalanan umrah ke tanah suci bagi umat muslim, melakukan ziyarah kubur keluarga atau para kekasih Allah (awliya’), kemudian disebut dengan “ziyarah wali songo”. Bagi mereka yang berkecukupan finansialnya ada yang libur dengan melakukan perjalanan wisata ke luar negeri, juga ada yang cukup dengan menyewa Villa di daerah-daerah yang menurut mereka memberikan kesejukan alami, misalnya di daerah Malang, di kawasan Puncak Bogor. Ada yang sifatnya pendidikan dengan berkunjung ke tempat-tempat yang mempunyai nilai Sejarah, misalnya ke Yogjakarta atau Solo. Masih banyak lagi varian liburan masyarakat yang tujuan utamanya adalah beristirahat dan mendapatkan ketenangan atau ketentraman hati, setelah sekian lama menjalankan aktivitas hidup yang penuh dengan dinamika suka dan duka, yang penuh dengan tantangan. Berhubungan dengan itu penting diingat dawuh Rasul Saw,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua kenikmatan yang kebanyakan manusia lalai, yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu senggang” 
Jeng Nabi Saw dawuh demikian dikarenakan memang banyak dari manusia mengabaikan nikmat Allah yang diberikan kepada hambanya berupa kesehatan dan waktu kosong, yang seharusnya disyukuri untuk sesuatu aktifitas bermanfaat baik untuk dirinya atau untuk manusia yang lain. Kadang orang dalam keadaan sehat tidak mensyukuri kesehatannya, baru merasakan nikmat sehat kalau dalam keadaan sakit. Kadang orang diberi nikmat waktu longgar juga lalai, baru merasakan nikmatnya waktu kalau telah mengalami kesempitan. Atau dua hal ini merupakan dua nikmat yang saling mengisi. Misalnya orang dalam keadaan sehat dan mempunyai waktu yang longgar sehingga dapat memanfaatkan waktu dan kesehatannya untuk beribadah, melakukan pekerjaan yang memberikan nilai guna untuk dirinya atau orang lain.
 Bisa juga seseorang dalam keadaan sehat tetapi tidak mempunyai waktu longgar untuk beribadah, waktunya habis untuk urusan-urusan yang tidak bermanfaat atau malah untuk berbuat yang merugikan orang lain, melanggar syariat Allah, tau disebut maksiat. Sebaliknya ada orang mempunyai waktu longgar dan kosong tetapi badannya tidak sehat, sehingga juga tidak mampu untuk berbuat kebaikan. Maka dua nikmat yang telah dianugerahkan Allah itu harus dipahami dengan sebenarnya, supaya dengan Kesehatan dan waktu yang ada ini memang benar-benar menghasilkan nilai kegunaan dan kemanfaatan. Dan yang lebih penting lagi bahwa seseorang harus ingat kepada yang memberi sehat dan yang mengatur waktu yakni Allah Swt. Sehingga apa yang dia lakukan memang dinilai sebagai ungkapan syukur kepadanya. Bisa jadi manusia dengan sifat-sifatnya banyak lalainya dalam melaksanakan dan mengisi liburan, sehingga aturan-aturan yang mengatur kegiatan-kegiatan semasa libur ini juga harus diperhatikan. Supaya tetap dalam koridor norma-norma ajaran Agama dan adab perilaku yang menjunjung tinggi harkat martabat kemanusiaannya.
 Di antara norma yang patut diperhatikan yaitu 1. Menjaga shalat lima waktu dalam keadaan apapun, 2. Niat yang baik dan berdoa ketika berangkat liburan, 3. Selalu menjaga aurat, 4. Harus menjaga pergaulan terutama dengan lain jenis, 5. Memperbanyak shadaqah bagi yang mampu, 6. Tidak memaksakan diri untuk memenuhi keinginan nafsu kesenangan, 7. Usahakan memilih obyek liburan yang dapat menambah wawasan baik dari sisi sejarah, ajaran agama terutama membuktikan kebesaran Allah, 8. Dapat juga dengan menjaga tali shilaturahim dengan saudara yang jarang bertemu, 9. Hindari sifat-sifat tercela sehingga memicu permusuhan dengan sesama, 10. Pastikan bahwa liburan ini membawa kemanfaatan untuk kehidupan yang progresif, maju di masa-masa yang akan datang, 11. Hindari konsumsi yang dilarang baik oleh negara atau Agama, 12. Jaga hak-hak orang lain, baik dalam perjalanan atau di tempat obyek liburan. 13. Ingatlah bahwa sebagai orang yang beragama, kita berkeyakinan semua amal perbuatan di catat dan dipertanggung jawabkan di akhirat. Dan mungkin masih banyak lagi hal-hal penting yang harus diperhatikan selama menjalani masa-masa kosong, yang oleh Hadits Nabi Saw di atas disingalir kebanyakan manusia lalai. Sehingga menjaga adab dan perilaku sebagai perisai supaya perbuatan kita selalu dalam rangka beribadah kepada Allah dan tidak melanggar syariatnya.
 Sebagaimana penulis kemarin mengisi waktu longgar dengan obyeknya, Pertama, Ziyarah maqbarah di makam keluarga al-Kamal Blitar. Sebagai Langkah awal untuk melakukan perjalanan panjang nyambung shilaturahim kepada keluarga di Kendal Semarang. Tentunya kirim doa untuk Kyai-kyai yang ada hubungannya dengan keluarga Kendal Semarang adalah tawasul, semoga shilaturahim yang wujudnya adalah kegiatan lahir juga berimbang dengan shilah bathiniyah. Dalam hal ini tawasulnya adalah kepada Kyai Thohir Wijaya, KH. Mahmud dan sesepuh-sesepuh al-Kamal lainnya yang pernah sambung badani dan ruhani ke keluarga Kendal. Dengan begitu perjalanan menuju Kendal semarang akan selalu diberi hidayah, maunah, sehat wa al-afiyat, dan sesuai dengan maqsud, tujuan dari shilaturahim dan ziyarah itu sendiri, yakni semua keluarga selalu dilimpahi Rahmat, keberkahan, para santri dapat ilmu yang bermanfaat, dhurriyah yang shalih shalihat, keluarga yang selalu menyambung ukhuwah, rukun, di bawah lembaga pesantren yang selalu dilimpahi keberkahan oleh Allah Swt. Bersambung.
*Penulis : Prof. Dr. KH. Asmawi Mahfudz, M. Ag. (Pengajar UIN Sayyid Ali Rahmatullah, Khadim PP Al-Kamal, PCNU Blitar & Yayasan Bayturahman Kediri)

Tags :

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *