Spiritualitas Liburan 2 : Theologis, Politis, dan Harmonis Risalah kyai dari Ngaji dan Ngabdi 159

Lanjutan dari spiritualitas liburan, yang kedua, Walimat al-ursy kepada sepupu sambil shilaturahim ke saudara di Kendal Semarang. Walimah hukumnya wajib kecuali bagi yang berhalangan, juga shilaturahim juga hukumnya wajib. Dengan walimat al-ursy dan silaturahim berarti telah ditunaikan kewajiban menurut ukuran ajaran agama juga memenuhi hak-hak sebagai saudara. Banyak hikmah dapat diambil dari walimah dan silaturahim, di antaranya bertemunya kembali hubungan badaniyah dan ruhaniyah antar saudara yang pernah dipersatukan dalam sebuah ikatan saudara sedarah (li al-nasab). Yakni sama-sama cucu dari KH. Hamzah Syarif yang patut diteladani keilmuannya, perjuangannya untuk umat. Kagiatan akhirnya diisi dengan mengungkap kembali perjuangan KH. Hamzah yang mendidik keluarganya, pekerjaannya sampai kepada menjadi mursyid thariqah Naqsyabandiyah. Sebenarnya beliau adalah pengikut thariqah Naqsyabandiyah, Qadiriyah dan Syatariyah. Ini menurut penuturan saudara-saudara terdekat yang dapat digali datanya. Sehingga dari tersambungnya hubungan pertemuan jasadiyah ini dilanjutkan dengan ziarah kepada makam KH. Hamzah, orang tua dari KH. Mahmud Hamzah.
Ketiga, ziarah ke makam Mbah Kyai Haji Hamzah Syarif di Kendal Semarang. Seorang kyai pejuang untuk keluarga, ilmu dan masyarakat, yang harus dijadikan tauladan bagi generasi-generasi sesudahnya, terutama anak cucunya, masyarakat dan santrinya atau murid thariqah-nya. Yang ini tersambunglah keluarga li al-sabab, dari sisi perjuangan keluarga Kyai Hamzah menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab dengan memenuhi kebutuhan keluarganya, bekerja sebagai petani dari tanah yang diperoleh dari ayahnya KH. Syarif, yang akhirnya semua anaknya terpenuhi semua kebutuhan baik dari sisi sandang, pangan, papan, pendidikan dan kehidupan masyarakatnya masing-masing. Sehingga menjadi kader-kader perjuangan orang tua dalam pengajaran Islam dan mensyiarkan ajaran thariqah.
Keempat, menuju ke Yogjakarta dengan kegiatan awal silaturahim ke alumni Pesantren Al-Kamal Blitar angkatan 2000, bernama Istianah. Santri asal Tulungagung yang sekarang domisili di Yogjakarta, dengan kegiatan mengajar dan mengabdi di sekolah di bawah naungan Pesantren Krapyak Yogjakarta. Suaminya berasal dari Demak Jawa Tengah. Dari silaturahim ini mendapatkan banyak keberkahan baik dari sisi kesenangan jasadi maupun ruhani. Merasa bahagia melihat santri sudah berkeluarga dan dapat mengembangkan ilmunya sesuai dengan bidangnya, baik dalam bidang ilmiahnya maupun ekonominya. Semoga semua santri selalu dapat menebar kemanfaatan dan keberkahan dalam hidupnya, di manapun mereka berada.
Kelima, ziarah ke makam KH. Munawir dan KH Ali Maksum di makam Dongkelan Yogjakarta. Dua figur bersejarah dalam perjuangan Islam di Nusantara. KH Munawir adalah pendiri Pesantren Krapyak Yogjakarta dan terkenal dengan ulama ahli Al-Qur’an karena kecintaannya kepada Al-Qur’an. Sebagai pendiri pesantren pada abad 20 tentu jasa-jasanya begitu besar dalam pengajaran Islam, terutama mencetak kader-kader santri di Nusantara ini. Salah satu putranya Mbah Warson Munawir adalah penulis kamus Arab dengan nama Al-Munawir, sebagai rujukan dalam belajar Bahasa Arab dan ilmu-ilmu keislaman, tafaquh fi al-din.
Di makam ini juga ada KH. Ali Maksum seorang kyai alim Krapyak yang telah memperjuangkan Islam tidak hanya dari sisi pendidikan, ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam aktifitas gerakan. Di antara jasa Kyai Ali Maksum adalah mengasuh dan mengajar santri di Pesantren Krapyak Yogjakarta, Menjadi pengajar di IAIN Sunan Kali Jogo sejak tahun 1960, team penerjemah Al-Qur’an sejak tahun 1962, menjadi anggota konstituante Alim Ulama NU pada tahun 1955, menjadi Rais Am Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama setelah KH. Bisri Syansuri, tahun 1981 sampai 1984. Dalam bidang ilmu, kyai Ali Maksum menulis beberapa kitab, terutama kitab-kitab pendidikan agama seperti al-Amtsilah al-Tashrifiyyah (Ilmu Shorof), Badi’at al Mitsal dan al-Durus al-Falakiyah (Ilmu Falak), kitab argumentasi keagamaan Hujjah Ahlussunnah wa Al-Jama’ah, Kitab Hadits Jawami’ al-Kalim. Selain itu, juga menulis Manba Al-Ahkam, Irshad Al-Talibin, dan Syarh Fath Al-Bariyah.
Ziarah ke makam Kyai-Kyai Pesantren Krapyak dilakukan sebagai bagian dari ketersambungan ilmu, dalam hal ini KH. Mahmud Hamzah Al-Kamal Blitar pada waktu pendidikan menegahnya( SMA) dijalaninya di Pesantren Krapyak. Maka bagi penulis dan santri Al-Kamal Blitar berziarah ke makam para kyai Pesantren Krapyak layaknya menimba ilmu, menyambung sanad dan mengukuhkan hubungan supaya mendapatkan keberkahan dalam mengamalkan ilmu di masa-masa yang akan datang.
Keenam adalah rihlah tarikhiyah, sejarah perjuangan kerajaan Mataram Islam dan bangsa Indonesia di Yogjakarta. Peninggalan tradisi Islam di Yogjakarta mulai berkembang pesat di wilayah ini sejak akhir abad ke-16 dengan berdirinya Kesultanan Mataram Islam yang berasal dari Demak, dengan menjadikan Kotagede sebagai pusatnya. Pasa masa Panembahan Pasoepati, dibangun masjid Gede Mataram (Kotagede), masjid tertua di Yogjakarta menjadi pusat penyebaran Islam dan contoh arsitektur Jawa. Juga adanya konsep kota ideal Islam (Masjid, Kraton, Pasar, Alun-alun) yang diprakarsai oleh Sunan Kalijaga yang diterapkan di Kotagede, Keraton Yogyakarta, juga pusat pemerintahan kesultanan yang berakar dari Mataram Islam. Dan masih banyak lagi situs sejarah yang merupakan peninggalan perjuangan Kerajaan Islam masa itu.
Selain itu di Yogjakarta juga banyak peninggalan situs perjuangan bangsa Indonesia, di antaranya peranannya sebagai ibu kota Republik Indonesia Sementara (RIS), seperti stasiun Tugu, Benteng Vandenburg, Gedung Agung, Kepatihan, serangan umum 1949, dan adanya tokoh seperti Sultan Hamengkubuwono ke IX, Ki Hajar Dewantoro, KH. Ahmad Dahlan dalam mempertahankan kemerdekaan. Juga makam pahlawan, Malioboro sebagai simbol dan tempat perjuangan pelajar dalam dalam kemerdekaan, museum perjuangan sebagai simbol kebangkitan. Belum lagi sebutan untuk Kota pelajarnya dengan Perguruan Tinggi, sekolahan yang terstruktur dengan baik hasil dari perjuangan para pendahulu beberapa abad yang lalu.
Tokoh, situs, museum, tempat perjuangan yang ada di Yogjakarta sejak zaman kerajaan, kemudian perjuangan kemerdekaan berlanjut sampai sekarang masih menyimpan banyak pelajaran bagi kita semua. Yogjakarta merekam banyak sejarah perjuangan, baik agama, budaya, politik, perilaku manusia, teologi, ekonomi, dan nilai-nilai kebangsaan yang harus diteruskan oleh generasi-generasi selanjutnya. Maka sejak awal paparan peran vitalnya adalah menyambungkan historisitas kemanusiaan kita yang tidak berada dalam ruang hampa, tidak bebas nilai, tidak ujug-ujug, dimulai oleh para pendahulu sampai sekarang secara dinamis , sesuai dengan perjalanan hidup manusia, baik sebagai pribadi, keluarga, komunitas, kelompok organisasi dan bangsa. Di dalamnya ada nilai-nilai luhur yang harus diteladani, diteruskan semangat pergerakan, perjuangannya sesuai dengan cita-cita bersama. Sebagai orang yang beragama secara theologis, tercapai kebahagiaan dunia akhirat, sebagai bangsa secara politis, terwujudnya masyarakat adil dan makmur, sebagai sebuah keluarga yang harmonis, tercapai keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, sebagai pribadi menjadi shalihin wa shalihat. Wa Allahu A’lam!.
*Penulis : Prof. Dr. KH. Asmawi Mahfudz, M. Ag. (Pengajar UIN Sayyid Ali Rahmatullah, Khadim PP Al-Kamal, PCNU Blitar & Yayasan Bayturahman Kediri)

Tags :

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *