Haul Masyayikh: Tradisi, Intelektualitas dan Spiritualitas (Risalah dari Ngaji dan Ngabdi Edisi 160)

Haul 2026 ini diselenggarakan oleh keluarga besar Pondok Pesantren Terpadu Al-Kamal Blitar, yang meliputi ikatan alumni Al-Kamal (IKMAL), yayasan, pengurus madrasah, pesantren, sekolah-sekolah formal, paguyuban jaga malam,  lingkungan sekitar, para jamaah pengajian dan masyarakat umum. Dari sisi pendanaan dikoordinir oleh panitia yang berasal dari santri, alumni dan partisipan terhadap Pesantren Al-Kamal. Dengan telah diselenggarakannya Haul Masyayikh banyak hikmah dapat diambil dari beberapa even acara yang diselenggarakan oleh panitia Haul. Pertama adalah acara bedah buku dengan judul “Risalah Kyai: dari Pesantren untuk Indonesia dan Peradaban”. Dari acara ini dihadiri sekitar 300-an dari berbagai elemen masyarakat, santri, simpatisan, pengurus dan asatid. Dengan bedah buku dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang historisitas perjuangan para Kyai Nusantara yang telah memberikan kontribusi kepada bangunan peradaban. Para Kyai dan Ulama telah berjuang dalam hal kemerdekaan Indonesia, menanamkan sifat nasionalisme, mensyiarkan Islam, membentuk pribadi-pribadi yang akhlaqul karimah, melembagakan pendidikan mulai dari tingkat yang paling dasar yakni taman kanak-kanak sampai kepada Universitas, baik ilmu umum ataupun ilmu agama. Para kyai juga berjuang dalam ranah ekonomi, politik budaya dan aspek-aspek lain dalam rangka menanamkan pondasi peradaban di Nusantara. Dengan bedah buku ini akhirnya masyarakat mengerti historisitas keulamaan di Indonesia yang ada sekarang, adalah berkat jasa-jasa para ulama dan kyai, sudah semestinya sebagai muridnya kita melanjutkan perjuangannya.
Kedua, adalah sarasehan alumni di maqbarah Pesantren Al-Kamal Blitar. Alumni yang berdomisili di eks-karisidenan Kediri hadir untuk mengikuti tahlil dan kesan-pesan sesama alumni untuk mengenang kisah-kisah masa ta’limnya di pesantren. Dari kesan-kesan ini alumni menyatakan bahwa pendidikan yang dilakukan oleh para kyai dengan berbagai pendekatannya ternyata bermanfaat untuk masa depan para santri. Ada alumni yang dahulunya mendapatkan ta’zir, hukuman, ada yang hafalannya kurang, ada yang tukang memasak, ada yang tukang sopir, ada yang menjadi pengurus pesantren, ada yang bagian tukang sapu, ada yang biasa menjadi badal kyai, ada yang selalu berdiri dalam sekolah, ada yang disuruh tirakatan puasa dan sebagainya, semuanya mengungkapkan pesannya masing-masing selama di pesantren. Semuanya berkesimpulan bahwa pendidikan pesantren berkesan dan membahagiakan, seandainya masih muda dan belum sibuk oleh aktifitas di rumahnya masing-masing, mereka begitu senangnya hidup di Pesantren Al-Kamal.
Ketiga bahtsu masail, adalah kegiatan musyawarah ilmiyah yang dilakukan oleh santri dan para kyai dalam menyelesaikan masalah-masalah hukum Islam yang terjadi di masyarakat. Dalam hal ini diselenggarakan oleh panitia Haul Pondok Pesantren Terpadu Al-Kamal Blitar dalam rangkaian acaranya. Peserta terdiri dari para kyai pengurus Lembaga Bahtsu Masail Nahdlatul Ulama Blitar, baik dari tingkat Cabang, Majlis Wakil Cabang, Ranting, para Pengasuh Pesantren, asatid Madrasah Diniyah Al-Kamal, beberapa delegasi pesantren, mulai dari PP Induk Lirboyo, PP Al-Mahrusiyah Lirboyo, PP Darussalam Lirboyo, PP Nurul Falah Ploso, PP Mbah Dul Tulungagung, PP Lubabul Fatah Tulungagung, PP Manbaul Hikam Mantenan, Al-Hikmah Langkapan Srengat, Darur Raja’ Selokajang Srengat Blitar, Mahad Aly Al-Kamal, Fathul Ulum Wonodadi, dan seterusnya.
Problematika atau masalah yang dibahas adalah hukum bagi guru atau karyawan memakan jatah makan bergizi gratis (MBG) untuk siswa yang tidak hadir. Dari hasil musyawarah didapatkan jawaban,  “Tidak boleh memakan jatah siswa yang tidak hadir, kecuali diketahui ridla dari para siswa yang mempunyai hak, dengan dikuatkan oleh keterangan-keterangan yang kuat (qarinah qawiyyah)”. Dalam musyawarah itu dilakukan dengan paparan yang dimulai diskripsi masalah yang disepakati tentang status hukum “makanan” yang dikonsumsi para guru atau karyawan di sekolah penerima makan bergizi gratis, setelah disepakati gambaran masalahnya dimusyawarahkan konsepsi fiqihnya, setelah itu dimusyawarahkan  hukum makan jatah siswa, kemudian dibahas dimusyawarahkan jalan keluar dari problematikanya.
Bahtsu masail ini memang sebuah tradisi ilmiyah yang dimiliki oleh pesantren-pesantren yang memang mempunyai kompetensi yang kuat dalam hal khazanah kitab kuning. Dengan bermusyawarah sebagai wahana untuk menyelsaikan problematika yang terjadi di masyarakat, pesantren dapat memberikan kontribusi positif berupa norma hukum yang dapat dijadikan rujukan bagi masyarakat dalam malakukan sesuatu. Sehingga perbuatan masyarakat selalu dalam koridor hukum Islam, tidak lepas yang pada akhirnya tidak dapat dikontrol oleh hukum. Dengan patuh kepada hukum Islam berarti masyarakat dalam melakukan perbuatan akan dinilai sebagai ibadah kepada Allah SWT. Sebaliknya jika terjadi pelanggaran syariat berarti masyarakat durhaka, ma’siat kepada Allah SWT.
Keempat adalah tradisi shalawat Ishari, kepanjangan dari Ikatan Seni Hadrah Indonesia. Sebuah aktifitas puji-pujian kepada jeng Nabi SAW. Dilihat dari sisi shalawatnya, sudah jelas bahwa itu adalah perbuatan yang diperintahkan oleh ajaran Islam. Tetapi sisi lain dari itu dalam Ishari ada sisi merawat tradisi dan seni  yang telah ditinggalkan oleh para ulama Nusantara. Dan yang unik lagi adalah pengawal seni hadrah ini kelompok usia-usia tua, yang dengan ikhlasnya meluangkan waktunya mengikuti acara mulai jam 20.00 sampai jam 01.30 dini hari. Mereka datang tanpa difasilitasi apapun oleh panitia, pulang pun juga dengan menggunakan transportasi kelompok masing-masing. Ini menunjukkan motivasi yang tinggi ditunjukkan oleh pecinta seni hadrah dan keikhlasan niat dalam mensyiarkan shalawat dan rangkaian acara haul yang patut ditiru oleh generasi-generasi selanjutnya.
Acara Haul yang Kelima adalah bakti sosial dalam bentuk pengobatan gratis. Dilaksanakan oleh Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia bekerjasama dengan panitia Haul PP Al-Kamal 2026. Dalam pengobatan gratis ini melayani teknis-teknis pengobatan dengan metode tradisional, seperti akupuntur, pijat refleksi, pijat urat, cantuk, bekam. Dilihat dari sisi teknisnya memang pengobatan ini adalah non medis, memperlihatkan kemampuan para terapis dalam melayani para pasien dari berbagai penyakit untuk diobati. Acara ini memang murni pengobatan yang sifatnya gratis sebagai bakti sosial para alumni kepada masyarakat sekitar pesantren, sehingga kesan soiologisnya yang dikedepankan.
Acara ke enam adalah Khatmil Qur’an yang diikuti oleh para penghafal Al-Qur’an (hamil Al-Qur’an) dari wilayah Blitar, Kediri, dan Tulungagung di samping para asatid-asatid Majlis Muratil Qur’an (MMQ) sendiri. Acara ini dimulai sejak shubuh sampai sore dengan majlis semaan berjumlah 17. Acara semaan Al-Qur’an dalam rangkaian Haul merupakan kegiatan yang bertujuan untuk kirim doa berupa bacaan Al-Qur’an untuk para guru, alumni, santri, orang tua yang telah meninggal dunia. Semoga dengan berkirim doa ini semua arwah yang telah dibaca dalam tawasul diampuni semua dosanya, mendapatkan rahmat, dan kita yang berkirim doa dicatat oleh Allah sebagai anak yang berbakti kepada kedua orang tua.
Acara ketujuah adalah Majlis Dzikir dan Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jaylani. Majlis ini di Al-Kamal sudah berjalan sejak tahun 2015 sampai sekarang. Dalam majlis ini terdiri dari tawasul kepada para guru-guru sepuh, istighosah, Yasin tahlil, Manaqib Sykeh Adbul Qadir Al-Jaylani dan shalawat. Dilihat dari perjalanan acara dalam majlis ini terlihat kekhusyu’an dan keindahan dalam sebuah majlis seoralah para jamaah memang merasakan lezatnya bermunajat, bertaqarub kepada Allah melalui tawasul kepada para guru mursyid, Syekh Abdul Qadir Al-Jaylani, kepada Rasulullah SAW. Dengan rangkaian majlis yang panjang ini harapannya doa-doa para santri, alumni, keluarga dan seluruh yang berpartisipasi dalam acara Haul terkabulkan oleh Allah SWT, baik hajat-hajat dunia atau akhirat. Mengingat dunia pendidikan, dunia santri, pesantren adalah isntitusi yang mengajarkan ilmu, mengamalkan, juga insentif ruhaniyah supaya terbentuk insan-insan muslim yang tangguh dalam menjalani kehidupan di masa mereka masing-masing. Kekuatan kejiwaan dalam menjalani hidup, terutama di masa sekarang adalah keharusan, seiring dengan tantangan yang besar meliputi dari semua aspek kehidupan. Baik sisi ekonomi, politik, budaya, sosial dan sisi lain kemanusiaan kita. Maka salah satu cara untuk menjawabnya adalah membentuk ketangguhan jiwa-jiwa santri. Melalui rangkaian haul ini di Pesantren Al-Kamal di tranformasikan aspek intelektualitas, sosial, seni, budaya, dan pendidikan ruhani. Semoga cita-cita para guru dan santri semuanya dikabulkan oleh Allah SWT.  Wa Allahu A’lamu!
*Penulis : Prof.Dr.KH. Asmawi Mahfudz, M.Ag. (Pengasuh PP Terpadu Al Kamal, Pengajar UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung)

Tags :

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *