Isra’ Mi’raj: dari Keimanan Menuju Rasionalitas-Humanis (Risalah Ngaji dan Ngabdi Edisi 161)

Isra’ Mi’raj adalah sebuah kejadian penting yang terjadi dalam sejarah Islam, yakni perjalanan jeng Nabi Muhammad SAW. dari Masjid Al-Haram menuju ke Masjid Al-Aqsha, yang disebut dengan isra’.  Terus dilanjutkan dari Masjid Al-Aqsha di Palestina menuju ke Sidratul Muntaha. Sebagaimana diungkap dalam Al-Qur’an, surat Al-Isra’

 سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

(Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat).
Waktu terjadinya isra’ mi’raj, yang lumrah adalah tanggal 27 Rajab, 10 tahun setelah kenabian, atau sekitar tahun 620-611 M. Pembicaraan isra’ mi’raj begitu pentingnya bagi umat Islam, terutama bagi bangsa Indonesia, sehingga pada hari 27 Rajab, negara memutuskan untuk menjadikannya hari libur nasional, demi menghormati kejadian penting dalam Islam, mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. Dengan begitu mulai di kampung-kampung sampai Istana Negara, setiap tanggal terjadinya isra’ mi’raj selalu mengadakan peringatan yang variatif dengan tujuan meneladani berbagai hikmah dan pelajaran atas terjadinya isra’ mi’raj.
Di antara pelajaran isra’ mi’raj adalah menundukkan rasionalitas di bawah keimanan. Dari ayat di atas yang dimulai dengan kalimat subhana, yang berarti Maha suci Allah dzat yang Maha Sempurna dan bersih dari segala kekurangan. Kesucian Allah di sini membutuhkan keyakinan bagi orang-orang beriman terhadap Allah SWT. Dengan dimulainya kejadian isra’ mi’raj dengan lafadz subhana berarti terjadinya isra’ mi’raj atas kehendak dan kuasa Allah, yang harus diyakini dan dipercaya bagi seorang mukmin. Maka dalam hal kejadian isra’ mi’raj ini, pelajaran bagi seorang mu’min untuk menundukkan rasionalitas di bawah keimanan, mengingat peristiwa ini tidak mampu hanya diukur dengan kacamata rasional atau ilmu pengetahuan. Ini mungkin dapat diperkuat dengan surat Al-Mujadilah ayat 11,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ….

(Niscaya Allah akan meninggikan (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat….). Dalam ayat ini Allah menyebut orang yang beriman didahulukan baru orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan. Maknanya keimanan lebih didahulukan dibanding dengan ilmu pengetahuan yang bersifat rasional dan empiris. Maka dalam isra’ mi’raj terkandung keimanan terhadap Allah, iman kepada Rasulullah, iman kepada kitab Allah Al-Qur’an dan iman kepada yang ghaib tentang kejadian-kejadian yang terjadi dalam isra’ mi’raj.
Menundukkan rasionalitas yang kebenarannya tidak absolut, kecenderungan subyektif dan relatif, bagi seorang mukmin adalah keniscayaan. Apalagi dalam menjalani kehidupan nyata di era kekinian, rasionalitas yang sifatnya positifistik yang berakhir kapitalistik belum tentu relevan dengan kenyataan dalam hidup sehari-hari, belum tentu dengan idealisme seseorang. Dengan membebaskan rasionalitas dalam kehidupan dunia dapat berakibat kepada ketidaktentraman, ketidaktenangan, ketidakbahagiaan dalam menjalani kehidupan. Banyak aspek hidup ini yang tidak sesuai dengan harapan seseorang. Misalnya berharap mempunyai istri cantik ternyata biasa saja, berharap menjadi orang kaya ternyata tidak menjadi kenyataan, berharap menjalani pendidikan di lembaga favorit ternyata tidak tercapai, para petani berharap panennya melimpah ternyata tidak sesuai harapan, dan masih banyak sekali dalam kehidupan nyata tidak sesuai dengan harapan, tetapi ini mutlak qudrah dan iradah, ketentuan dan kehendak Allah SWT., yang dapat menundukkan itu semua adalah keimanan seseorang terhadap ajaran agamanya.
Hikmah lagi dalam isra’ mi’raj adalah perjalanan dari Masjid Al-Haram menuju Masjid Al-Aqsha, sebelum menjalani perjalanan menuju langit tingkat tujuh dan Sidratul Muntaha. Disebutnya dua masjid sabagai starting perjalanan isra’ menunjukkan begitu pentingnya masjid dalam ajaran umat Muhammad SAW. Masjid sebagai tempat ibadah utama, sebagai tempat sarana untuk berkumpul antara muslim satu dengan muslim yang lain, antar sesama manusia sehingga dapat mengenal kepada yang lain, bersaudara, saling membantu, tolong menolong, sehingga tercipta persatuan umat Islam, dengan persatuan dapat menjadikan agama menjadi kuat. Dengan kuatnya muslim akan menjadikan Islam juga kuat, sehingga Islam menjadi agama yang berwibawa dalam mengemban misi risalah tauhid.
Masjid juga sebagai tempat mengajarkan Islam sehingga nantinya tumbuh lembaga-lembaga pendidikan Islam, dimulai dari masjid. Ini telah dimulai pada masa Rasulullah, masa sahabat, sampai kepada kekhilafahan yang dapat mendirikan universitas yang dimulai dari masjid. Mengingat ini, pelajarannya adalah menjadikan masjid sebagai Islamic center, pusat kegiatan umat muslim dalam menebarkan ajaran ke-Islaman. Dari masjid dapat berinteraksi sosial, mengembangkan ilmu pengetahuan, sebagai ekspresi seni dan budaya, menggali potensi ekonomi, pemberdayaan masyarakat dan peran-peran kemanusiaan yang lain. Maknanya masjid harus difungsikan secara humanis, tidak hanya sebagai simbol sakralitas ibadah semata. Maka saat ini merasa bahagia membaca berita dari berbagai masjid di tanah air yang mengembangkan peran humanisnya di tengah-tengah masyarakat. Artinya dari masjid sebagai tempat ibadah bermetamorfosis menjadi berbagai lembaga-lembaga sosial di sekitar masjid. Di masjid ada lembaga pendidikan, lembaga pengasuhan anak yatim, lembaga pelayanan masyarakat lanjut usia, lembaga rumah sakit, lembaga ruhani berbentuk thariqah, lembaga keuangan umat, lembaga advokasi dan sebagainya, yang berpihak kepada misi-misi keumatan dan kemanusiaan.
Kalau isra’ mi’raj untuk menghibur Rasulullah SAW. yang sedang sedih menghadapi gangguan orang-orang kafir dan suasana kebatinan setelah ditinggal oleh istri dan pamannya, maka pelajaran isra’, dari masjid juga harus memberikan solusi, membuat program-program yang mebahagiakan masyarakat. Kegembiraan dan kebahagiaan masyarakat dapat diwujudkan dengan pendekatan lahiriyah dan bathiniyah. Dari sisi lahiriyah masjid harus dalam keadaan bersih, suci, suasana lingkungan sekitar yang membuat nyaman dan krasan bagi jamaahnya, mungkin juga disediakan program kesehatan bagi jamaah dalam bentuk olahraga bersama, pelayanan kesehatan yang diinisiasi oleh masjid, bakti sosial bagi jamaah yang kurang mampu.
Dari sisi bathiniyah diprogramkan kegiatan ibadah yang istiqamah, pendidikan akhlaq tashawuf, kadang diselenggarakan program motivasi bagi jamaah untuk selalu, “qalbuhu mualaqun bi al-masajid” hatinya selalu teringat masjid, pendidikan andragogi untuk para orang tua yang sudah usia lanjut untuk mempersiapkan diri menghadap Allah dalam keadaan Iman dan Islam dan program-program yang lain.
Dengan dua pendekatan inilah masyarakat akan menerima sisi humanitas dari masjid, yang tentunya di laksanakan oleh takmir masjidnya, sehingga tercapai tujuan adanya masjid sebagaimana diungkap dalam Al-Qur’an, “lamasjidun usisa ala taqwa”, masjid yang dibangun bertujuan untuk membentuk pribadi-pribadi muslim yang bertaqwa. Dalam Al-Qur’an yang menjelaskan tentang masjid, diungkap dalam surat At-Taubah 108,

…فِيْهِ رِجَالٌ يُّحِبُّوْنَ اَنْ يَّتَطَهَّرُوْاۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِيْنَ

(Di dalamnya ada orang-orang yang gemar membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang membersihkan). Dalam ayat ini yang dimaksud dengan membersihkan diri adalah membersihkan secara lahir dengan fisik yang suci dan bersih dengan cara thaharah yang diajarkan oleh fiqih, juga membersihkan secara bathin dengan tazkiyat al-nafs, pembersihan jiwa. Dengan kebersihan badan dan jiwa inilah profil dari orang-orang yang bertaqwa, yang dicintai oleh Allah SWT. Maka misi ketaqwaan seorang muslim ini harus dimulai dengan keimanan terefleksi dalam amal shalih yang berpihak kepada kemanusiaan, humanis. Wa Allahu A’lam!           
*Penulis : Prof. Dr. KH. Asmawi Mahfudz, M.Ag (Pengajar UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Pengasuh PP Terpadu Al Kamal Blitar)

Tags :

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *