Jejak-Jejak Kosmopolitanisme Intelektual: KH Mahmud Hamzah (Risalah Ngaji dan Ngabdi 163 dalam Haul 18)

Kyai Mahmud Hamzah sosok santri yang dilahirkan tahun 1948 di desa Kalirejo kecamatan Cepiring (waktu itu), sekarang kecamatan Kangkung Kendal Jawa Tengah. Putra dari KH. Hamzah Syarif dan Hj. Maryam. Berangkat dari keluarga santri desa yang menempuh Pendidikan kosmopolitan pada masanya. Dalam perjalanan intelektual yang dipersepsikan semua manusia sebagai satu kesatuan global, yang melintasi batas kedaerahan-teritorial, etnis atau bangsa. Hal ini Di mulai dari pendidikan bersama kyai Hamzah di rumah nya sampai tingkat SMP, kemudian dilanjutkan ke SMA di Pesantren Krapyak Yogjakarta. Terus kemudian ke Pesantren Bendo Pare Kediri, dilanjutkan ke Pesantren Lirboyo sambil Kuliah di Universitas Islam Tribakti Lirboyo, Kemudian ke Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dari sisi wilayah tempat Lembaga Pendidikannya berlokasi di berbagai Propinsi di Indonesia, dimaknai sebuah lompatan pada masa dia hidup. Mengingat abad 19-20 di Indonesia perilaku masyarakatnya berprinsip kepada jargon ”mangan ra mangan pokoke kumpul”. Dengan melampaui perilaku social masyarakat kala itu, yang dilakukan kyai Mahmud termasuk dalam katagori cosmopolitan, melewati sekat kedaerahan, prinsip sosial yang dipegangi masyarakat. Juga dengan latar Pendidikan yang lintas kedaerahan ini, dia mendapatkan kosmopolitanisme dalam berbagai hal. Ketika di Kendal setelah tamat SD, masyarakatnya banyak yang mendalami ilmu agama ansich, tetapi kyai Mahmud masuk ke SMP yang notabene adalah sekolah yang berbasis kurikulum ilmu-ilmu umum dalam bahasa orang Indonesia kala itu, miskin pengajaran ilmu agama. Maka pengayaan ilmu-ilmu umum dapat dia dapatkan ketika di sekolah formalnya, dan mengaji ilmu Agama bersama Kyai Hamzah di rumahnya sendiri. Di saat Masyarakat sekitarnya mempunyai karakteristik religious, kental pengayaan kepada ilmu Agama saja, dia telah berinisiasi untuk mengawinkan (integrasi) ilmu umum dan ilmu agama.
Setelah selesai ilmu-ilmu dasar di Kendal, Kyai Mahmud mulai rihlah ilmiyah, perjalanan intelektual ke Yogjakarta, tepatnya masuk di SMA Pesantren Krapyak Asuhan Kyai Warsun Munawir dan Kyai Ali Maksum. Dari sisi historis, Yogjakarta adalah ikon Pendidikan di Indonesia, mengingat Yogjakarta adalah kota latar Sejarah politik Indonesia dan Nusantara yang pernah menjadi pusat kekuasaan zaman Kerajaan dan Pemerintahan Indonesia. Akhirnya Yogja selain menjadi kota pusat politik pada masanya, juga menjadi pusat budaya, pusat ekonomi, pusat Pendidikan, juga menjadi kota kosmopolitan yang mengumpulkan banyak warga dari berbagai latar belakang. Baik latar daerah, status sosial, ragam budaya, ragam suku, etnis, ragam ekonomi, ragam agama. Dari background sosiologis ini kyai Mahmud menempa pengalaman intelektulitas menengahnya di sekolah Menengah Atas dan Pesantren Krapyak Yogjakarta. Artinya dialektika keragaman kosmopolitanisme dari Yogjakarta ikut membentuk Kyai Mahmud, terutama faktor social kemasyarakatn Yogjakarta, ajaran tafaquh fi al-din dari Kyai Warsun Munawir penyusun Kamus Bahasa Arab dan KH. Ali Maksum, yang alim dalam bidang kajian kitab-kitab Kuning. Pada saat itu krapyak terkenal dengan pusat penghafal al-Quran, Kamus bahasa Arab al-Munawir dan kajian kitab Kuning karangan dari KH. Ali Maksum.
Kondisi Sosiologis kemasyarakatan Yogja dan interaksi Intelektual Islam di Krapyak memberikan kontribusi kepada sikap sosiologis dan intelektual Kyai Mahmud yang cosmopolitan masa masa-masa selanjutnya.
Tradisi Intelektual selanjutnya adalah dijalani di Pesantren Darul Hikam Bendo Pare Kediri yang didirikan oleh KH Khozin atau Kyai Muhajir. Pesantren ini menurut penuturan Kyai Mahmud adalah salah satu Pesantren yang secara ekologis terawat dengan baik, bersih, dengan ciri khas utama kedisiplinan jamaah dan Ngaji Ihya’ Ulum al-Din. Kualitas Pesantren bendo dibuktikan dengan sederet ulama Nusantara pernah ngaji di Kyai Khozin bendo Pare. Di antaranya yang dikenal adalah Kiai Sahal Mahfudz Pati, Kiai Fuad Hasyim Cirebon, Abuya Dimyati Pandeglang Banten, Kyai Asrori al-Ishaqi Kedinding, Surabaya, Kiyai Shonhaji Kebumen, Kiai Hisyam Syafaaf Blokagung, Banyuwangi, dan lainnya. Pernah pada tahun 2005 an, 3 tahun sebelum meninggal, kita diajak oleh Kyai Mahmud untuk ngalap berkah khataman Ihya’ di pesantrren Bendo Pare.  Menurut penuturannya, Kyai Mahmud tinggal di bendo Pare sekitar 3 tahun untuk ngaji Ihya’, memperdalam bahasa arab dan Alfiyah Ibn Malik.  Nampaknya dari Pesantren Bendo ini juga berpengaruh kepada kyai Mahmud dalam sikap kosmopilitanisme terutama kedisiplinan dan tashawuf (misticisme).
Setelah istifadah, mengambil ilmu di Bendo Pare, Kyai Mahmud melanjutkan Pendidikannya di Pesantren Lirboyo kediri sambil kuliah di Universitas Islam Tribakti Lirboyo. Di Lirboyo mengaji kepada Kyai Mahrus Ali selama 4 tahun. Saat di Lirboyo ini juga Kyai Mahmud mendapatkan pengalaman untuk bersosial dengan santri yang berasal dari berbagai daerah, yang nota bene mempunyai karakteristik kosmopolitan, mengingat saat itu Pesantren Lirboyo sudah menasional baik secara asal santri, jaringan ulama, kelembagaan dan trust, kepercayaan masyarakatnya, di topang dengan mengikuti perkuliahan di Universitas dengan basis Agama santri yang mumpuni, membuat alumni-alumni Lirboyo mempunyai kualitas keilmuan yang me-nasional pula. Beda dengan sekarang pesantren Lirboyo telah menjadi rujukan secara internasional mengingat peran dan kontribusinya dalam menghasilkan kader-kader ulama yang diakui secara Internasional.
Kyai Mahmud saat di Pesantren Lirboyo juga mendapatkan pengalaman untuk menjadi pengurus Pesantren di Komplek HM lirboyo. Dari sini dia mendapatkan ilmu dalam hal kemanfaatan, utilitasnya. Dengan menjadi pengurus berarti dia berkhidmah kepada ilmu dan kyai Mahrus Ali sebagai ahl ilmi. Yang tentunya akan mendapatkan keberkahan diberikan kepadanya melalui pengabdian kepada ilmu dan Kyai. Sebagaimana dawuh jeng Nabi Saw yang dikomentari oleh Syekh Zarnuji,
البركة مع اكابركم اى البركة مع صحبة اكابركم واقدمكم زمانا لانهم جربوا الاشياء كثيرا فيعلمون ان الفائدة
فى اى فعل وفى اى قول
(Barakah itu dapat diperoleh melalui kebersamaan para sesepuh (ulama sepuh), maksudnya barakah itu ketika bersama-sama dengan para kyai sepuh, orang-orang yang lebih tua dari sisi ilmu dan masanya. Karena mereka telah melakukan uji coba, pengamalan (eksperimentasi) terhadap segala sesuatu, terus mengetahui bahwasanya faedah dari ilmu ada dalam perkataan dan perbuatan). Juga Kyai Mahmud ketika berguru, ngaji kepada kyai Haji Mahrus Ali, Ulama sepuh Pondok Pesantren Lirboyo yang kiprahnya meliputi dalam ilmu dan Pendidikan pesantren Lirboyo dan Universitas, perjuangan memberdayakan masyarakat dalam Nahdlatul Ulama, mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Kyai Mahrus Ali representasi dari dawuh “al-Barakah ma’a Akabirikum”. Maka sikap kosmopolitanisme Kyai mahmud dari Lirboyo meliputi intelektualitas ilmu agama dan perjuangan kepada Masyarakat ( umat).
Latar kehidupan Kyai Mahmud ekspresi dari kosmopilitanismenya dilakukan ketika melanjutkan kuliah di Universitas Islam Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam penyelesaian sarjananya kyai Mahmud juga mengajar di yayasan-yayasan Pendidikan sembari mengamalkan ilmu dan mendapatkan keberkahannya. Akhirnya setelah latar pendidikannya dilalui mulai dasar sampai tingkat sarjana dengan berbagai dinamika, kyai Mahmud kemudian diambil menantu oleh KH. Thohir Widjaya. Blitar Jawa Timur, seorang ulama alumni Lirboyo dan Pondok Termas, yang sejak tahun 1960an melakukan perjuangan Islam lewat dakwah Politik, dengan misi  membesarkan Pesantren, Pendidikan Islam,  Lembaga-lembaga sosial,Rumah Sakit, dan masjid amal bakti muslim Pancasila di seluruh Indonesia.
Di Blitar Kyai Mahmud Hamzah bersama Kyai Thohir dan saudara-saudara yang lain membesarkan Lembaga Pendidikan Pesantren al-Kamal. Nilai kosmopolitan yang telah diperoleh selama menjalani perjalanan intelektual diaktualisasikannya, di antaranya Mendirikan Madrasah Aliyah Unggulan yang diberi nama Madrasah Aliyah Program Khusus al-Kamal. Memang saat itu dari kementrian Agama menggalakkan program untuk mencetak kader-kader ulama lewat Madrasah Aliyah. Salah satu Lembaga swasta yang saat itu melaksanakan program unggulan adalah Pesantren al-Kamal. Di mana di madrasah itu kurikulumnya berbasis kitab kuning ala Pesantren, siswa diasramakan (bording school), Bahasa pengantar dengan bahasa Arab aktiv, diajar oleh para kyai termasuk KH. Mahmud Hamzah yang sekaligus menjadi mudir Madrasahnya. Pada saat sekolahan belum mempunyai program bahasa asing di al-Kamal sudah diterapkan, saat madrasah belum mempunyai group Drumband di al-Kamal sudah menjadi rujukan di Blitar Raya, Saat sekolahan belum ada safari perkemahan santri, di al-Kamal sudah diterapkan, di saat Lembaga lain masih belum ada sekolah unggulan di al-Kamal sudah dijalankan, di saat Lembaga lain belum ada integrasi keilmuan, di al-Kamal saat itu sudah ada. Juga berbagai program-program lain yang akhirnya al-Kamal Blitar menjadi besar, berkembang, berkat nilai-nilai kosmopolitanisme para pejuangnya, diaktualisasikan dalam Pendidikan pada masanya.
Belajar dari sikap kosmopolitanisme kyai Mahmud Hamzah para santri dan masyarakat juga harus berani untuk menjadi maju, progresif dengan inovasi-iniovasi baru dalam mendakwahkan ilmu pengetahuan, juga ladang-ladang perjuangan yang lain, sehingga dapat berperan sesuai dengan tuntutan zamannya, tanpa meninggalkan elan vital dari prinsip-prinsip ajaran Islam. Wa Allahu A’lam!

Tags :

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *