Fiqih Ramadlan 2: Review Fath Al-Muin, Dalail, Tafsir dan Minhaj Al-Abidin (Risalah Ngaji dan Ngabdi Edisi 178)

Paparan Review amaliah Ramadhan selanjutnya adalah Ngaji kitab Fath Al-Muin syarah Qurat Al-Ayn karangan Zayn Al-Din Al-Malibary. Kitab fiqih syafi’iah yang kaya akan khazanah diskusi tentang aturan-aturan hukum dalam lingkup madhab Syafii. Kebetulan pada ramadhan kali ini, sampai kepada bab Muamalah tepatnya adalah bab ba’i (jual beli), pemesanan (salam), gadai (al-rahn), qard (utang piutang), wakalah (perwakilan), qiradh (bagi hasil), yang dalam diskusi ekonomi syariah disebut dengan fiqih muamalah. Materinya tentang aturan-aturan dalam melakukan transaksi, perjanjian, syarat dan rukun akad, beberapa kaidah dalam muamalah, perbedaan ulama dalam berbagai hal hukum ekonomi. Memang kajian terhadap Fath Al-Muin membutuhkan kemampuan analisa yang telisi terhadap struktur bahasa, redaksi, gaya dari penulis kitab, mengingat struktur bahasa kitabnya rumit, tanpa titik dan koma, banyak ta’aluq kalimat yang harus dipahami oleh pembacanya. Tetapi minimal para pengkaji hukum Islam, akan diberikan pengetahuan yang mendalam dalam bidang fiqih oleh syekh Zainudin Al-Malibary, untuk dikembangkan di lingkungan masyarakatnya masing-masing. Yang boleh jadi masalah yang ada dalam kitab kuning dapat dipraktikkan saat ini atau mungkin dapat dipersamakan karena logika berpikirnya yang sama, jawabannya sudah dibahas tinggal menerapkannya. Maka bagi peminat hukum Islam atau fiqih juga harus melewati ngaji Fath Al-Muin ini sebagai pengayaan, tidak hanya dalam core fiqihnya tetapi juga dari sisi logika berpikir, kaidah, hikmah, serta alasan-alasan rasional pengarang dalam menghasilkan hukum pada masanya, yang mungkin dapat diterapkan di era kekinian.
Ngaji lagi kitab Dalail Al-Khairot. Sebuah Kumpulan shalawat yang dikarang oleh ulama asal Maroko, Imam Abu Sulaiman Al-Jazuli (w 870 H/1465 M). Harapannya membaca kepada santri setiap hari setiap Ramadhan sebagai media untuk menanamkan kecintaan kepada Rasulullah SAW. membiasakan untuk membaca dzikir dan wirid yang akhirnya dapat dijadikan sebagai wasilah perantara untuk tercapai cita-cita para santri. Yang kita pahami bersama dalam kitab Dalail Al-Khairat berisi tentang shalawat atas Nabi untuk diberikan kedudukan yang tinggi, mulia kepada Jeng Nabi SAW. Dan beberapa akhlaq Rasululah. Maka harapannya para santri pengamal shalawat dalail juga mendapat derajat yang tinggi di sisi Allah dan Manusia, juga mendapatkan rahasia akhlaq dan sifat Rasul dapat tertanam diri mereka. Seperti cuplikan shalawat di bawah ini;

اللّٰهُمَّ ابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا يَغْبِطُهُ فِيْهِ الْأَوَّلُوْنَ وَالْآخِرُوْنَ

(Ya Allah, utuslah dia dengan maqam yang terpuji, yang bisa membuat para orang terdahulu dan orang di akhir masa menginginkan derajat itu).
Tetapi sebagaimana pesan dari almaghfurlah KH. Idris Marzuki, membaca kitab Dalail al-Khairat harus dengan niat yang Ikhlas, semua santri akan dapat mendapatkan kemanfaatan dan keberkahan ilmu yang dikaji selama dipesantren. Juga dawuh KH. Imam Yahya Mahrus membaca Dalail dapat dijadikan wasilah untuk mendapatkan derajat di sisi Allah dan pangkat di hadapan masyarakat.
 Ngaji lagi adalah kitab Tafsir Jalalain karangan Jalaludin Al-Suyuti dan Jalaludin Al-Mahali, sebagai kitab rujukan dalam bidang tafsir, dibacakan bersama para kyai masjid dan mushola, masyarakat umum baik laki-laki maupun perempuan di Desa Kunir dan sekitarnya. Pengajian ini sudah pernah khatam sekali pada tahun 2024. Saat ini masih mengaji di surat Al-Baqarah, tema kajiannya tentang hukum-hukum pernikahan, masalah thalaq, khitbah, mut’ah, iddah, wasiyat, nafkah, mahar, tentang kisah Bani Israil, tentang menginfaqkan harta, tentang kisah Thalut yang dijadikan pemimpin. Kajian tentang tafsir Al-Qur’an bagi masyarakat secara umum diharapkan tidak hanya satu perspektif, tetapi dalam penafsiran kita mendapatkan ilmu tentang bahasa arab, Sejarah asbab nuzul, kisah dalam Al-Qur’an, akhlaq, kaidah-kaidah ilmu tafsir, fiqih, israiliyat, tarikh, sejarah, budaya, filsafat dalam situasi kekinian sehingga tafsir akan kontekstual. Hal ini penting bagi masyarakat, lebih-lebih bagi para pemuka agama yang dihadapkan dengan berbagai problematika di sekitarnya juga harus dinamis dalam bidang ilmunya, supaya dapat memberikan jawaban terhadap Masyarakat.
 Lagi kajian kitab Minhajul Abidin karya Al-Ghazali, sebuah kitab tentang akhlaq dan tashawuf yang berisi tentang berbagai tantangan bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan melewati berbagai rintangan di antaranya tentang ilmu dalam beribadah, taubat, berpaling dari godaan yakni dunia, manusia, syaithan dan nafsu, selanjutnya aqabah, rintangan, aqabah pendorong, aqabah celaan, dan yang terakhir aqabah pujian dan syukur. Beberapa hal itu adalah urutan, tanjakan atau aqabah yang harus dilewati seseorang dalam menempuh perjalanan ibadahnya. Hanya saja penyampaian materi dalam kitab tashawuf model Min Haj Al-Abidin Al-Ghazali menggunakan bahasa yang lebih sederhana dibanding dengan kitab Ihya’ Ulum Al-Din.
Ngaji lagi adalah disampaikan di media sosial Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Dalam hal ini telah disampaikan dua tema, pertama tentang puasa untuk meningkatkan kualitas diri menjadi orang yang bertaqwa dengan cara pendekatan rasional aqliyah, teori-teori tentang puasa, pendekatan badaniyah, puasa biologis badani manusia dari segala yang dilakukan keseharian. Pendekatan ruhaniyah, dengan cara olah Rohani spiritual menambah kegiatan ibadah ruhaniyah. Dengan cara berpuasa baik pikiran, badan, dan hati ini maka manusia akan benar-benar menjadi profil ideal orang yang bertaqwa, yang akan memperoleh kebahagiaan yang abadi, baik didunia dan akhirat.
Tema kedua adalah mengkaji puasa dengan pendekatan maqashid al-syariah. Sebuah kajian Islam yang multi perspektif dalam dunia filsafat hukum Islam. Maka dalam hal ini puasa didekati dengan teks normatif, hifdl al-din, hifdh al-nafsi, memelihara jiwa psikologi manusia, hifdh al-aqli rasionalisasi puasa, hifdh al-mal, memelihara harta dalam konteks puasa Ramadhan, hifdh al-nasl, memelihara keturunan. Lima hal pendeketan ini nampaknya akan memberikan warna kajian terhadap puasa lebih menarik dan unik. Karena kajian menyangkut aspek yang paling privasi dalam diri manusia, aspek berhubungan dengan Allah juga aspek realitas sosial masyarakat di sekitarnya. Dengan begitu puasa akan menemukan momentumnya sebagai ajaran agama tauhid yang sifatnya universal, dapat diterima oleh manusia dengan lintas agama, aliran, kedaerahan dan benua. Maka puasa tidak hanya ajaran teologis semata, tetapi dapat menjelma menjadi ajaran ekologi, ekonomi, sosiologi, psichologi, biologi, medis dan lain-lain sejauh perspektif maqashid syariah yang dapat kita pahami bersama-sama, sehingga menghasilkan perspektif baru dalam memahami puasa, yang tidak hanya bidang ubudiyah tetapi seluruh aspek kehidupan umat manusia dapat dicover dalam puasa.
Dari Fiqih Ramadhan 1 dan 2 dapat dipahami ada jenis kajian selama Ramadhan yang dilakukan yakni di pesantren dengan model Kajian Islam berbasis kitab kuning dan di Kampus dengan kajian Hikmah Ramadhan untuk komunitas akademik dan masyarakat umum. Model kajian kitab kuning fokus kepada kitab kuning tertentu, dibacakan kepada para santri mulai awal sampai akhir bab. Yang ini membutuhkan pertemuan tiap hari selama sebulan penuh. Sedangkan di kampus dengan model tematik hikmah Ramadhan untuk diambil manfaatnya oleh realitas masyarakat. Di Pesantren banyak pengayaan materi-materi, di Kampus didialiktikakan dengan suasana kehidupan kekinian. Semuanya baik di Pesantren maupun di Universitas berharap Ramadhan dimaksimalkan dalam rangka mendapatkan pemahaman ilmiyah sedalam mungkin kepada ilmu-ilmu keIslaman yang diamalkan oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. Wa Allahu A’lam!
*Penulis : Prof. Dr. KH. Asmawi Mahfudz, M.Ag (Pengajar UIN Sayyid Ali Rahmatullah, PCNU Khadim PP Al-Kamal Blitar dan Yayasan Baiturahman Bendosari)

Tags :

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *