Adab Hari Raya Idul Fitri untuk Muslim Nusantara 1 (Risalah Ngaji dan Ngabdi 180)

al-Quran menjelaskan tentang puasa Ramadhan disebutkan al-Baqarah 185,

…وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

(Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur)
Ayat ini memberikan paparan tentang akhir Ramadhan, dengan 3 tahapan yakni perintah untuk mencukupkan bilangan puasa Ramadhan (wa litukmil al-iddah), di akhir Ramadhan umat Islam akan selalu sibuk untuk menentukan hilal 1 syawal sebagai implikasi berakhirnya puasa Ramadhan, yang kadangkala membuat perbedaan di antara umat, karena berbeda metode dalam menentukannya, berbeda pandangan dan kesimpulan dalam mengakhiri bulan Ramadhan, dan semoga ini akan menimbulkan rahmat bagi bangsa Indonesia, sebagai diskursus perkembangan ilmu, mendidik umat Islam untuk beragama dengan ilmiyah. Tahapan selanjutnya adalah mengagungkan Allah (wa litukabbiru Allaha), bahwa apa yang dilakukan oleh hamba, semata karena hidayah Nya, petunjukNya, bukan atas kekuatan manusia sebagai hamba, maka di akhir ramadhan semua muslim dan mukmin mengagungkan Allah Swt. seraya membaca takbir, “Allahu Akbar” selanjutnya disambung dengan syukur kepada Allah (la’alakum tasykurun), atas semua nikmat yang telah dianugerahkan. Simbol bentuk rasa Syukur hamba kepada Allah Swt. adalah melaksanakan shalat idul Fitri.
Beberapa hal disunnahkan bagi muslim ketika hari raya, yaitu pertama, Sholat idul fitri, merupakan shalat sunnah, hukumnya sunah mu’akadah dan sebagai salah satu syi’ar agama Islam. Maka dalam melaksanakannya dijaga beberapa hal juga a). membaca takbir secara runtut sesuai yang diajarkan oleh Rasulullah Swt. dimulai pada malam hari raya sampai kepada pelaksanaan shalat id. b). Pada waktu subuh hari raya seseorang mandi besar, memakai hiasan, wewangian sebagaimana akan shalat jumat, memakai selendang dan surban. c). Seseorang berangkat menuju shalat id melewati jalan yang berbeda dengan pulangnya, d). mengajak perempuan-perempuan muda dan wanita-wanita yang biasanya dipingit, untuk ikut menghadiri shalat id. Sebagaimana Rasulullah bersabda: ”dan adalah Rasulullah Saw. memerintahkan untuk mengajak keluar para wanita muda (ikhraj al-awatiq) dan perempuan yang biasa dipingit (dhawat alhudhur)“. e). Disunnahkan shalat hari raya dilaksanakan di lapangan atau tanah terbuka (al-shahra) kecuali Makkah dan Bayt al-Maqdis , tetapi jika hari itu dalam keadaan hujan tidak apa-apa dilaksanakan di masjid. f). Menjaga waktu pelaksanaan shalat antara terbit matahari sampai tergelincirnya matahari (zawal). g). Sunnah untuk menyegerakan shalat idul adha untuk dilanjutkan berkurban, dan mengakhirkan shalat id Fitri untuk pembagian zakat fitrah.
Kedua, Tentang tatacara shalat id seseorang berangkat menuju tempat shalat dengan membaca takbir di jalan yang dilalui, ketika imam sudah sampai di tempat shalat (al-mushola) tidak usah duduk dan melaksanakan shalat sunnah, jamaah yang sedang melakukan sunnah diputus, untuk mengikuti imamnya memulai shalat id. Muadhin mengumandangkan panggilan untuk shalat dengan “ al-shalata jami’ah”, Imam melaksanakan shalat dua rakaat bersama jamaah, di rakaat pertama membaca takbir sebanyak tujuh kali selain takbiratul ihram, takbir ruku’, dan di antara takbir membaca “subhanallah wal hamdulillah wa lailaha illallah wa Allahu akbar, setelah takbir pembuka membaca “wajahtu wajhiya lilladhi fathara samawati wal ardli”, membaca al-fatihah diiringi dengan surat Qaf, dan di rakaat kedua membaca surat iqtarabat setelah al-Fatihah,
Ketiga. Perjalanan pulang mengambil jalan yang berbeda dengan berangkatnya. Supaya mendapatkan kesaksian yang lebih banyak dari semua yang dilewati bahwa telah melakukan amaliyah shalat id, pada akhirnya juga memperlihatkan syi’ar Islam dalam hari raya idul fitri.
Keempat. Setelah shalat Id biasanya masyarakat melaksanakan genduren dan doa bersama di mushola dan masjid sekitarnya disertai dengan ramah-tamah terhadap keluarga dan sanak tetangga. Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt. telah melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan penuh, dengan adanya syukur semoga amal berupa puasa dan ibadah-ibadah yang lain diterima oleh Allah Swt.
Kelima. Sungkem kepada kedua orang tua dan saudara terdekat. Ini sebagai adab Islam ketika seseorang menghendaki meminta maaf dan memaafkan kepada sesama terutama meminta maaf kepada orang tua untuk mendatangi yang tua, sebagai bentuk penghormatan dan yang muda akan mendapatkan kasih sayang dari yang tua (waqir kabirana wa yarham shaghirana). Maka tidak heran kemudian seiring sebagai tradisi para orang tua, bapaknya, ibunya, kakek, nenek, paman, bu lik dan yang lain sebagai ungkapan kasih sayang selalu menyediakan uang untuk anak-anak dan remaja yang datang ke rumahnya. Juga di Indonesia pada saat hari raya idul fitri sarat dengan aktifitas tukar uang pecahan untuk mengisi nuansa hari raya ini supaya kelihatan ajaran kasih sayangnya. Inilah ajaran inti Islam untuk selalu menebar kasih sayang kepada sesamanya. Kasih sayang antara yang muda kepada yang tua, yang laki-laki kepada yang perempuan, antara yang kota kepada yang di desa atau sebaliknya, sayang antara yang punya harta dengan yang kekurangan, antara sesama yang muslim atau dengan sesama manusia dan sesama makhluq Allah, teraktualisasikan dalam semangat idul fitri. Sebagaimana dawuh Allah, “tidaklah kami utus engkau Muhammad melainkan untuk Rahmat kasih sayang kepada seluruh alam”. Bersambung!
*Pengajar UIN Tulungagung, Khadim PP al-Kamal PCNU Blitar dan Yayasan Baiturrahman Kras Kediri

Tags :

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *