Alkamalblitar.com- Scripta manent, verba volant. Pepatah latin ini bermakna “yang ditulis akan permanen, yang diucapkan akan segera terlupa”. Budaya literasi pada dunia edukasi selalu menduduki posisi yang vital setiap saatnya. Begitu juga pada edukasi kaum bersarung, alias pesantren. Di PPTA, budaya literasi disalurkan melalui adanya kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik yang dinamai Jourtea. Tidak hanya menjadi penyalur bakat menulis santri, Jourtea juga memotivasi santri untuk senantiasa berkarya. Salah satu caranya adalah melalui seminar kepenulisan. Tahun ajaran 2017-2018, seminar kepenulisan ini dihadiri oleh Dr.H.Ngainun Na’im,M.H.I pada hari Ahad, 8 April 2018 bertempat di Aula HM. Seminar ini bertemakan “Menggali Potensi Literasi Santri Ma’had Aly”, karena fokus utama seminar ini adalah para santri Ma’had Aly, tetapi seminar ini juga diikuti oleh santri kelas 3 tingkat Wustho, dan anggota Jourtea.
Acara seminar dimulai pada pukul 09.00 WIB dengan Asfi Dea sebagai pembawa acaranya. Acara diawali dengan pembacaan surat Al-Fatihah, yang dilanjutkan dengan sambutan oleh musyrif ma’had, Dr. KH. Asmawi Mahfudz, M.Ag. Setelah itu, Pak Naim, begitu beliau akrab disapa, sebagai pengisi acara mulai menyampaikan materi kepenulisan. Beliau adalah dosen IAIN Tulngagung, kelahiran 19 juli 1975, yang berdomisili di Ds. Parakan Rt 11/Rw 4 Kec. Trenggalek, Kab. Trenggalek, bersama seorang istri, dan kedua anaknya. Pria pendiri komunitas menulis Sahabat Pena Kita ini, telah menulis 33 judul buku dengan berbagai genre, ratusan artikel, dan sering mengisi seminar-seminar kepenulisan di berbagai tempat. Bukunya yang paling laris adalah “The Power of Writing”. Dengan mottonya “Menulis setiap hari”, beliau mengaku bisa menulis karena belajar secara otodidak, serta tidak mempunyai target apapun dalam menulis, kecuali hanya menulis agar “berumur panjang” dalam artian meski pun beliau sudah tidak hidup di dunia, tapi karya-karyanya masih hidup, dan agar hidupnya berkah. Beliau menulis, karena beliau ingin menulis. Masalah ide, katanya, akan selalu ada seiring berjalannya waktu. Pak Naim bisa dihubungi melalui akun FB, dan Instagram “Ngainun Naim”.
Pada acara seminar ini, juga ada sesi tanya jawab. Dari keempat pertanyaan, Pak Naim menjawabnya sekaligus dengan langsung praktik menulis selama 5 menit. Melalui seminar ini pula, para peserta diinstruksikan untuk membuat karya tulis apapun dengan tema “Aku dan Pondokku”, yang dalam waktu 2 minggu, karya itu sudah terketik rapi, dan berada di meja kerja beliau. Harapannya, setelah karya-karya itu terkumpul, Pak Naim akan menjembatani penerbitan bukunya, dengan Dr.KH.Asmawi Mahfudz,M.Ag. sebagai pengantar. Kepada peserta seminar beliau berpesan ”Belajar saja yang serius, soal kehidupan Allah yang menjamin”.
Seminar ini berakhir pada pukul 11.30 WIB, dengan doa kafaratul majlis. Silky Sabella, salah satu anggota Jourtea yang mengikuti seminar, berkomentar dalam puisinya :
“Dalam temaram pencahayaan
Bising suara yang menggema
Aku digempur
Aku ditempa
Aku dipaksa menjadi yang terbaik
Prajurit balutan Aksara.”
Silky juga berpesan agar santri PPTA mulai meningkatkan budaya literasi, mengingat pentingnya literasi pada era sekarang ini. [tat’s.er.red]