Fiqih Pengajian Ramadhan 1: (Risalah Ngaji dan Ngabdi edisi 177)

Amaliyah Ramadhan tahun ini tidak berbeda dengan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya diisi dengan ibadah mendekatkan kepada Allah dalam berbagai bentuk kegiatan, di antaranya, mengaji kitab kuning di pesantren, universitas, yayasan dan lembaga-lembaga sekitar, mengisi kajian di kampus, mengadakan santunan dan pengajian di yayasan dan Lembaga Kesejahteraan Sosial, membacaka shalawat Dalail Khairat, shalat malam di masjid dan di rumah, qiyam al-lail dan i’tikaf di masjid, pembinaan anak-anak santri menjalankan kegiatan Ramadhan, menyampaikan pengajian di Pusat Fiqih Nusantara, menjalani rutinitas mengajar di perkuliahan, mengaji bersama jamaah Tafsir Jalayn dan Minhaj Al-Abidin, menjalani doa bersama Paguyuban Jaga Malam Perempatan Pesantren Al-Kamal. Semoga kegiatan semuanya diterima oleh Allah SWT. termasuk dalam dawuh Nabi SAW. “man qama Ramadhan imanan wa ihtisaban ghafira lahu ma taqadama min dhanbihi”, barang siapa yang menjalankan ibadah di bulan Ramadhan dengan ikhlas karena Allah, maka akan diampuni semua dosanya.
            Dimulai dengan yang pertama, mengaji bersama santri Pondok Pesantren Al-Kamal dengan kitab Syarah Ta’lim Muta’alim, dilaksanakan pada jam 16.00 sampai jam 17.00. Materinya kali ini tinggal meneruskan ngaji sebelumnya, sehingga pembacaan kitab untuk bab-bab akhir dari kitab Ta’lim karangan Syekh Zarnuji ini. Memang kitab kuning Syarah Ta’lim dipilih sebagai materi kajian di pesantren supaya para santri mempunyai pemahaman tentang dasar-dasar keilmuan dalam Islam, adabnya belajar mengajar, beberapa hubungan dengan guru, orang tua, temannya, metode belajar yang baik, keutamaan ilmu dan ahli ilmu, cara menjadi santri yang sukses, beberapa kode etik tentang terbukanya rizki,  beberapa hal yang harus dijauhi karena sebagai penghalang rizki.  Dalam dunia ilmu pengetahun dapat dikatakan materi kajian kitab Ta’lim sebagai bagian dari filsafat ilmu yang membicarakan dasar-dasar keilmuan klasik dengan referensi otoritatif dari beberapa tokoh ilmu dalam Islam. Misalnya Abu Hanifah, Abu Yusuf, Muhamad bin Hasan Al-Syaibani, Khalifah Umar Bin Abd. Azis, dan tokoh-tokoh rasionalis lainnya. Dengan dasar keilmuan yang mapan, para santri akan mendapatkan kajian dengan hikmah tumbuhnya sikap cinta kepada ilmu dan ahli ilmu.
            Ngaji selanjutnya setelah Syarah Ta’lim khatam materinya adalah kitab bidayat al-Hidayah. Karya Al-Ghazali yang fenomenal selain Ihya’ Ulum Al-Din. Sebuah kitab yang tidak terlalu tebal tetapi sarat dengan nilai-nilai ajaran akhlaq yang luhur yang harus dijalankan oleh seorang muslim yang taat dalam rangka mendapatkan hidyah Allah SWT. Jika dalam kitab Ta’lim santri diberi wawasan tentang teori-teori ilmu pengetahuan, dalam Bidayah Hidayah ini pengkaji dijelaskan tentang adab atau cara mempraktikkan ilmu sehingga nanti dia berakhlaq yang mulia baik dengan Allah, Rasulullah, dengan orang tuanya, saat beribadah dan di luar ibadah atau dalam bahasa lain dia akan menjadi orang-orang yang baik dari sisi habl min Allah dan habl min al-nas. Al-Ghazali mengatakan;

ولكن ينبغي لك أن تعلم، قبل كل شيء، أن الهداية التي هي ثمرة العلم لها بداية ونهاية، وظاهر وباطن، ولا وصول إلى نهايتها إلا بعد إحكام بدايتها، ولا عثور على باطنها إلا بعد الوقوف على ظاهرها

(Akan tetapi hendaknya dirimu ​​​​memepelajari sebelum mengetahui hal-hal lainnya, bahwa hidayah merupakan buah dari ilmu pengetahuan, hidayah memiliki permulaan dan akhir serta mempunyai aspek lahir dan batin. Dan tidak akan sampai pada akhirnya, kecuali setelah mengetahui permulaannya. Serta tidak akan sampai pada batinnya, kecuali setelah mengetahui aspek lahirnya).
Gabungan antara kitab Ta’lim Al-Muta’alim dan Bidayah Alhidayah akan menjadikan santri menjadi pribadi-pribadi yang mulia, baik dari sisi ilmiyah maupun amaliyah, baik dari sisi intelektual maupun emosional dan spiritual.
            Ngaji selanjutnya adalah ngaji kitab Ihya’ Ulum Al-Din bersama para santri di pesantren atau mahasiswa di kampus, lembaga-lembaga sekitar seperti SMP, SMK, MAN, MTsN, MIN, TK, PAUD, pengurus yayasan dan masyarakat. Di Pesantren kita kajian tentang bab hub aljah dan mal, sedangkan dikampus kita lakukan tentang dasar-dasar ilmiyah perspektif Al-Ghazali. Ketika membahas cinta kedudukan (hub al-jah) dan cinta harta (hub al-mal), Al-Ghazali memaparkan bahwa hamba Allah memang semuanya mempunyai sifat cinta kepada harta dan kedudukan dimanapun berada. Menurut Al-Ghazali kedua hal ini yang menghalangi seorang hamba untuk memurnikan ibadahnya kepada Allah, maka jalan keluarnya kedua sifat tidak baik ini harus dihilangkan dengan cara harta dan kedudukan tetap dipunyai oleh manusia tapi jangan dicintai, seorang hamba tetap mempunyai harta tetapi bukan merupakan tujuan. Semua harus diletakan pada tempatnya sebagaimana Allah menjadikan kedua hal ini pada fungsinya. Menurut penulis penguatan kecintaan kepada ilmu harus didahulukan di atas cinta kepada harta dan kedudukan, demi menyelamatkan Islam dari permusuhan  dan aneka konflik lainnya. Karena ilmu akan memberikan solusi dan jalan keluar kepada manusia, sedangkan harta dan kedudukan jika manusia tidak dapat mengelolaanya akan menimbulkan masalah bagi manusia. Untuk itu kecenderungan kepada ilmu pengetahuan harus didahulukan di banding kecintaan kepada harta dan kedudukan, terutama dalam konteks keinian, dalam rangka mendidik generasi-generasi emas untuk masa depan Bangsa dan Agama.  Bersambung.
*Penulis : Prof. Dr. KH. Asmawi Mahfudz, M.Ag (Pengajar Uin Sayyid Ali Rahmatullah, Khadim PP Al-Kamal, MUI Kab Blitar dan Yayasan Baiturrahman Kras Kediri)

Tags :

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *