KH Imam Yahya Mahrus & Kepemimpinan Kharismatis (Selamat Haul ke 15 dalam Risalah Ngaji dan Ngabdi 204)

Dalam al-Qur’an disebutkan tentang kepemimpinan kharismatis yang dipotret dari Rasulullah Saw, yaitu surat al-Ahzab ayat 21, yang artinya “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat serta yang banyak mengingat Allah”. Ini menjadi tolok ukur bagi seorang muslim dalam hal tipe kepemimpinan, sebagaimana dipraktikkan oleh Nabi Saw. yang mengedepankan suri tauladan, contoh yang baik bagi umat.

Berkaitan dengan pemimpin kharismatis dalam persppektif sosiologi, telah diteorisasikan oleh oleh Max Waber sekitar 1920-an dan dikembangkan oleh Robert J House 1976-an, yang menyatakan bahwa kharisma merupakan otoritas luar biasa yang dimiliki oleh seseorang yang dianggap mempunyai kekuatan supranatural oleh pengikutnya, sehingga membentuk sebuah perilaku psikologis dan berpengaruh kepada pengikutnya. Sebutan pemimpin kharismatis ini dalam realitas masyarakat sering dilekatkan kepada para tokoh agama, tokoh masyarakat yang mempunyai murid, ada kedekatan dengan masyarakat dan dapat dijadikan suri tauladan oleh mereka dalam memberikan inspirasi dan motivasi dalam berbuat dan dalam mengambil keputusan.

Salah satu tokoh yang dapat dikatakan sebagai pemimpin kharismatis adalah KH Imam Yahya Mahrus, yang pada minggu ini telah memasuki Haul ke 15. Sebagai tokoh agama dan masyarakat, yang mempunyai kualifikasi sebagai pemimpin kharismatis keindonesiaan. Di antara yang mendukung potensi Kyai Imam disebut kharismatis adalah kedalaman ilmu-ilmu keislaman. Kyai Imam Yahya, (Putra KH Mahrus Aly, tokoh pejuang kemerdekaan dari lingkup Nahdlatul Ulama), tumbuh besar dalam lingkungan Pendidikan Pesantren Lirboyo, yang kental kajian ilmu-ilmu agamanya dalam berbagai disiplin ilmu. Mulai tafsir, hadits, fiqih, ushul fiqih, tarikh, kaidah bahasa, sastra, sejarah, seni, budaya dan khazanah yang lain. Di mulai dari Pesantren Lirboyo, Pesantren Sarang Rembang, kuliah di Universitas al-Madinah, menjadikan Kyai Imam mendalam dari sisi ilmu keislaman. Ini terbukti setelah pengembaraan ilmiyahnya, Kyai Imam Yahya mengajar para santri dan mahasiswa dengan materi kitab kuning. Sejauh yang penulis ikuti adalah Tafsir Ahkam, Fiqih Muamalah, Syarah Alfiyah Ibn Malik, Ibn Aqil, Fath al-Qarib, Taysir al-Khalaq, Tanqih al-Qaul, syarah Jurumiyah serta berbagai kitab modern dengan berbahasa arab. Kedalaman ilmu Kyai Imam dalam pengajaran ilmu agama Islam tercermin pula dalam berbagai pidato untuk berbagai acara, yang selalu mendasarkan kepada referensi kitab, dikontekskan dengan situasi dan kondisi saat berpidato. Maka dalam kacamata ilmiyah apa yang dilakukan Kyai Imam ini dapat dikategorikan sebagai ceramah ilmiyah. Mungkin para audiens yang pernah menyaksikan dan mendengarkan ceramah Kyai Imam Yahya Mahrus, akan selalu membawa catatan dalam buku yang dibawa kemana-mana beliau bepergian, juga bisa dikatakan ceramah Kyai Imam diambil dari sumber yang otoritatif dan disampaikan oleh figur yang otoritatif pula. Walaupun kadang juga diselingi dengan kejenakaan sebagai variasi dan cara berpidato. Dengan model seperti ini dalam berbagai seminar yang diisi oleh beliau Kyai Imam menyampaikan pidato dengan logis dan susunan koheren antar satu bagian dengan bagian yang lain.

Selanjutnya keilmuan Kyai Imam Yahya tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga di ajarkan kepada para santri dan mahasiswa Universitas Islam Tribakti Lirboyo, yang jumlahnya puluhan ribu. Ini sudah menjadi wadhifah Kyai bahwa dia selalu mengaji dan melaksanakan bimbingan kepada santri dan mahasiswa. Ketika menjalankan fungsi sebagai pengasuh santri (murabbi) inilah Kyai Imam dapat dijadikan suri tauladan, inspirasi dalam berbuat para santrinya. Dari sisi kasih sayangnya, kesabarannya, ketelatenannya, untuk membimbing para santri-santri asuhannya. Bimbingan-bimbingan ini tidak hanya formalitas dalam kelas-kelas madrasah, tetapi semua problematika santri dibantu untuk diselesaikan oleh beliau tanpa memandang umur dan latar belakangnya. Juga masalah-masalah pun yang dihadapkan kepada beliau beragam, mulai santri tidak krasan, santri sakit, santri mencari pekerjaan, santri melamar jodohnya, santri yang banyak hutangnya, santri yang bertengkar, masalah organisasi, semua dilayani olehnya dengan prinsip, “nadhru al-ummah bi aini al-rahmah”, memandang masyarakat dengan penuh kasih sayang. Dengan model bimbingan yang inklusif inilah akhirnya para santri terayomi, terlindungi, terbantu dan mendapatkan inspirasi dalam tindakan-tindakan Kyai Imam, yang kemudian dalam segala tindakan santri akan selalu menjadikan referensi kepada kyai.

Selain memberikan bimbingan santri, Kyai Imam juga berpartisipasi ke ranah sosial masyarakat, terutama dalam organiasasi Nahdlatul Ulama. Pernah suatu saat Kyai Imam dawuh ”pokok e aku melu organisasi NU ae”. Dari perkataan ini mencerminkan sikap militansi Kyai Imam terhadap NU, yang sejauh kacamata penulis sejak 1990-an, Kyai Imam sudah menjadi ketua di RMI NU Kota Kediri, sebuah organisasi Persatuan Pesantren Seluruh Indonesia, yang pada tahun-tahun selanjutnya beliau pernah menjadi Ketua RMI Jawa Timur, Wakil Rois PW NU, A’wan Syuriyah PWNU. Kesibukannya di organisasi dan juga memimpin Perguruan Tinggi Universitas Islam Tribakti Lirboyo dan mengasuh pesantren menjadikan kegiatan Kyai Imam padat, tetapi kegiatan harian untuk menjadi suri tauladan bagi santri-santrinya tetap terjaga dan istiqamah. Ketika banyak kegiatan di NU, Kyai tetap mengaji dan memimpin jamaah dan istighasah tiap hari tanpa lelah dan payah. Ini cermin kepemimpinan yang patut ditauladani bahwa memimpin pesantren berbeda dengan memimpin lembaga-lembaga yang lain. Memimpin pesantren itu harus mengajar mengaji, memberikan bimbingan kepada santri, transformasi ilmu dan ketauladanan. Sehingga santri benar-benar merasakan hubungan yang dekat dengan kyai, tidak hanya dari sisi fisiknya tapi juga dari sisi bathiniyahnya. Rata-rata santri Kyai Imam akan selalu terjalin hubungan yang dekat, terkesan dengan kepengasuhan beliau, hal ini dikarenakan ketauladan sehari-hari yang dirasakan oleh para santri. Santri secara conciousnes, kesadarannya merasa menerima kepengajaran dari kyai dalam beribadah, berperilaku, bergaul, didoakan, dibangunkan, diurak-urak, dimarahi, di sanksi. Walaupun demikian santri merasa senang, bahagia dengan ajaran kyai seperti itu, karena terbentuk hubungan yang bersifat lahiriyah dan bathiniyah.

Dan lagi kepemimpinan kharismatis yang ditularkan Kyai Imam adalah prinsip bekerja di Universitas Tribakti adalah Khidmah. Ini yang disampaikan berulang-ulang oleh Kyai Imam dalam forum-forum rapat dosen dan pimpinan, supaya semua insan akademis kampus dalam melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi dilandasi keikhlasan dan akhirnya menghasilkan keberkahan dalam hidup, tidak hanya bagi dosen dan karyawan tetapi bagi semua civitas akademik termasuk mahasiswanya. Dengan model kepemimpinan seperti ini di kampus universitas, tidak akan terjadi gesekan, konflik atau pertentangan antara satu orang dengan orang lain, karena semua mengabdi kepada kepentingan universitas dan Pondok Pesantren Lirboyo. Akhirnya semua insan akademis secara umum nyaman dan krasan berada di kampus mulai pagi sampai malam, dan kadang kala kerja-kerja ekstrapun dilakukan di malam hari menginap di kampus. Berkat keikhlasan para dosen, karyawan dan doa Kyai, mereka rata-rata merasakan adanya keberkahan yang didapatkan dalam membantu di Tribakti, yang pada akhirnya ilmunya manfaat di masyarakatnya masing-masing.

Dimensi kharismatis lain dari Kyai Imam Yahya adalah spiritualitas yang mapan sebagai bagian penting dalam kepemimpinan yang ditransfer kepada para santri dan muridnya. Bimbingan spiritual yang dilakukan oleh Kyai Imam Yahya di antaranya adalah rutinitas istighasah tiap malam, tirakatan di akhir kelas tiga atau tamatan, menghafal sab’u al-munjiyat, mengamalkan berbagai macam hizib, membaca manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jaylani, tertib dalam shalat jamaah, berpuasa sesuai ijazahnya. Ajaran-ajaran doa dan spiritualitas ini dijalankan dalam berbagai momentum dan acara, baik di pesantren, di kampus, atau di masyarakat. Pernah suatu ketika penulis mendapatkan pengalaman untuk ijazahan di daerah Bojonegoro yang diikuti oleh ribuan masyarakat,  pada waktu di Indonesia ada kejadian dukun santet dan teror, di ndalem Kyai Imam berdatangan banyak orang sowan dan membawa rotan untuk diasmak-i oleh Kyai, dan saat itu penulis dipanggil untuk membantunya dengan membaca berbagai macam awrad. Dengan kekentalan spiritualitas nya inilah kemudian salah satu yang mendorong kepemimpinan kyai Imam Yahya menjadi kharismatis, yang diikuti dan dituruti oleh semua santri, mahasiswa dan jajaran civitas akademika Tribakti dan Pesantren Lirboyo.

Akhirnya kepemimpinan kharismatis Kyai Imam Yahya Mahrus adalah sebuah fenomena menarik, terbangun dari berbagai hal yang menjadikan figur Kyai Imam sosok pemimpin yang berkharisma, diantaranya, 1. Kedalaman ilmu agama yang diperoleh dengan belajar yang Panjang dari berbagai pesantren dan universitas di dalam maupun luar negeri, 2. Visioner untuk mendorong masyarakat dan umat menjadi maju, 3. Suri tauladan dalam bertindak  di hadapan para santri dan masyarakat, 4. Keikhlasan untuk mengabdi, 5. Dimensi spiritualitas yang dijaga secara istiqamah. Semoga kita semua menjadi santri dan murid Kyai di dunia dan akhirat. Selamat Haul! Wa Allahu A’lam!

*Penulis adalah Alumni PP Lirboyo Angkatan 1994 Dan Pengajar UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Tags :

Share This :

Comments (0)

Your email address will not be published. Required fields are marked *