Maulid Nabi Muhammad Saw Dan Bonus Demografi Muslim Indonesia (Risalah Ngaji dan Ngabdi edisi 209)

Dalam sejarah diungkapkan bahwa Jeng Nabi Muhammad Saw adalah manusia yang mempunyai derajat tinggi dibanding dengan hamba Allah yang lain, basyarun laysa ka al-basyari. Karena kelahirannya dapat membawa kebahagiaan untuk seluruh masyarakat di alam ini, kehidupan keluarganya, perjuangannya dan kepemimpinannya sebagai teladan (uswatun hasanah) akhirnya membawa rahmat bagi seluruh alam, “wa ma arsalnaka illa rahmatan li al-alamin”, tidaklah kami utus engkau Muhammad melainkan untuk rahmat bagi seluruh alam. Refleksi kegembiraan atas lahirnya Jeng Nabi Muhammad Saw. diperingati oleh muslim seluruh dunia dengan berbagai format acara sesuai dengan kebiasaan masing-masing, yang semuanya memuji, menyanjung dan ekspresi rasa syukur atas lahirnya pemimpin umat. Sebagian melantunkan bacaan shalawat dengan berbagai model bacaan, sebagian dengan berdoa untuk Jeng Nabi, sebagian dengan mengadakan lomba-lomba pekan maulid Nabi sebagai penanaman pendidikan bagi anak-anak dan umat Islam, sebagian dengan memperbanyak shodaqoh kepada sesama, sebagian dengan membaca sirah nabawiyah, seminar, ceramah agama dan sebagainya. Semua dijalankan dengan penuh kesadaran dan dengan swadaya masyarakat muslim dengan riang gembira, tidak ada yang bersedih sama sekali. Dan mungkin dalam forum akademis dilakukan bedah buku atau penelitian tentang Jeng Nabi dengan pendekatan ilmiyah, yang memang dalam dunia akademik tidak ada seorang tokoh yang menjadi obyek kajian yang begitu besar dan universal selain Jeng Nabi Muhammad Saw. Memang sudah diakui oleh semua elemen akademik bahwa Jeng Nabi saw adalah tokoh paling fenomenal dalam berbagai hal, kelahirannya membawa gembira, perjuangannya membawa perubahan peradaban, perbuatannya menjadi tauladan dan tinggalannya menjadi pedoman perilaku bagi seluruh umat Islam seluruh dunia.

Dengan berbagai peringatan ini akan dapat menambah bukti kebenaran terhadap diutusnya Jeng Nabi Muhammad dan ajaran-ajarannya. Dalam bahasa lain peringatan Maulid Nabi dapat meningkatkan wawasan keilmuan umat Islam terhadap Jeng Nabi Saw. Pemahaman umat Islam terhadap Rasulullah Saw, tidak hanya dari apa yang mereka dengar tetapi juga dengan pendekatan historis yang panjang yang terus terulang mulai sejak zaman sahabat sampai sekarang, yang tentunya ini berbasis kesaksian empiris terhadap perjalanan Jeng Nabi. Akhirnya pemahaman umat Islam terhadap Rasulullah dari periode satu ke periode selanjutnya semakin kuat yang menambah kuatnya theologis umat Islam seluruh dunia. Kebenaran sejarah Rasulullah Saw dengan pendekatan historis empiris sebagai bagian dari kajian sosiologis menjadikan keyakinan kepada Rasul dan ajarannya seolah menjadi ajaran universal, diterima oleh seluruh elemen masyarakat pada umumnya.

Hal ini bisa dibuktikan partisipasi publik terhadap maulid Nabi Saw tidak hanya diikuti oleh mereka-mereka yang menurut Cliffort Gert sebagai santri, tetapi melibatkan unsur masyarakat lain. Mulai yang disebut abangan, bangsawan, pejabat, konglomerat, pedagang kaki lima, pemilik perusahaan, pejabat, rakyat, dan elemen masyarakat lainnya. Mereka memperingati Jeng Nabi dengan beragam niat, mulai dari syukuran, keimanan, kecintaan dan berharap syafaat Jeng Nabi Saw. Sebagaimana diungkap oleh Dawuh, “ yuhsyaru al-mar’u ma’a man ahaba”, seseorang di akhirat akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya. Maka umat yang ikut memperingati kelahiran Rasul berharap dapat berkumpul bersama Rasulullah di akhirat dan mendapatkan syafaatnya. Dengan begitu umat Muhammad di dunia mendapatkan syafaat dan di akhirat juga mendapatkannya, akhirnya memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.

Dengan intensitas peringatan maulid Nabi Saw yang dilaksanakan oleh masyarakat, seolah 12 bulan dalam setahun ini terasa seperti Rabiul Awal semua, bulan kelahiran Jeng Nabi Muhammad Saw. Hal ini tentunya akan berpengaruh kepada keimanan umat pada umumnya, karena pada momentum apapun masyarakat selalu membuat acara majlis maulid Nabi Saw. Misalnya acara Haul ulama atau Kyai, orang tua, hari lahir suatu kota, rutinan Jam’iyah, walimah al-ursy, walimah aqiqah, syukuran pindahan rumah, dan seremonial-seremonial yang lain, masyarakat sudah membiasakan melantunkan bacaan maulid Nabi Saw. Dalam arti maulid sudah menjadi tradisi umat Islam sebagai seremonial utama, yang hikmahnya ajaran-ajaran Nabi Saw. dapat ditanamkan kepada masyarakat untuk menambah pengetahuan, ilmu, kesadaran dan yang penting lagi dapat menguatkan keimanan seorang muslim terhadap agamanya.

Peningkatan keimanan melalui acara maulid Nabi dalam konteks kekinian menemukan momentumnya, mengingat perilaku masyarakat muslim sekarang menghadapi tantangan yang besar, seolah dijauhkan dari ajaran Rasulullah, tidak menutup kemungkinan dengan menjauhkan muslim dari ajaran Rasulullah pada periode selanjutnya bisa melemahkan keimanan seseorang kepada agamanya. Sebagaimana dipaparkan dalam sebuah rilis media, bahwa akhir-akhir ini banyak umat beragama mengajukan perubahan identitas keyakinannya menjadi tidak berafiliasi kepada agama apapun. Padahal yang namanya agama adalah keimanan, yang mendasari semua tindakan seseorang di dunia ini, supaya berjalan sesuai petunjuk yang lurus, mendapatkan kebahagiaan, dan dipertanggungjawabkan di akhirat. Maka agama mengajarkan tuntunan-tuntunan supaya umatnya bahagia dunia dan akhirat.

Di sisi lain Maulid Nabi Saw dapat dijadikan sebagai media dakwah untuk mensyiarkan Islam secara terus menerus yang tidak berhenti sampai hari kiamat sehingga kebenarannya diterima seluruh umat manusia di dunia. Sebagaimana diungkap oleh Pew Research, yang diunggah oleh Dialektis.com, populasi muslim di seluruh dunia meningkat 237 juta jiwa menjadi lebih dari 2 miliar muslim di dunia. Indonesia menempati posisi teratas menjadi pusat demografi muslim dunia dengan 239 juta penduduk, di atas India dan Pakistan.

Maka peringatan maulid nabi dalam konteks ini begitu pentingnya dalam penanaman keimanan dan kecintaan kepada Nabi serta Islam sebagai risalah yang dibawanya. Kita tidak bisa hanya bangga dengan jumlah mayoritas dalam konteks keindonesiaan, realitasnya keimanan saudara kita terhadap ajaran Rasulullah, dari hari ke hari mendapatkan tantangan begitu besarnya, jika tidak diantisipasi dan dibentengi dengan akhlaq Rasulullah Saw dalam kehidupan nyata, keimanan dapat dinamis bisa bertambah kuat juga sebaliknya menjadi lemah akibat kondisi sosial yang melingkupinya tidak mendukung untuk menjadi performance muslim ideal sebagaimana dicontohkan Jeng Nabi Muhammad Saw.

Mengambil uswatun hasanah sebagaimana yang didawuhkan oleh pengarang kitab-kitab sirah nabawiyah menjadi urgen dalam relitas kehidupan. Dalam keluarga, ibadah, bekerja, kepemimpinan dan interaksi sosial terhadap sesama. Sehingga semua masyarakat merasakan begitu mulianya akhlaq Islam dalam kehidupan nyata. Suri tauladan sebagaimana Rasulullah adalah metode yang paling utama dalam mensyiarkan Islam, sesuai dawuh ”lisan al-hal afshahu min lisan al-maqal” penyampaikan ajaran dengan tauladan lebih kuat dan baik dibanding dengan retorika lisan dalam ucapan. Hal ini bertujuan agar masyarakat menerima Islam secara kognitif intelektual berdasarkan pengetahuan, secara pesikomotorik perilaku sehari-harinya dan sisi afektif hati nuraninya. Jika dikaitkan dengan kehidupan masyarakat sekarang yang menerima  pengetahuan dari perangkat digital, media sosial, maka tiga dimensi dalam penyampaikan ajaran melalui media sosial dan digitalisasi hanya memenuhi unsur intelektual saja tanpa didekati dengan sisi perilaku realitas ataupun pendekatan hati ruhaniyahnya.

Untuk itu peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw yang sudah menjadi tradisi, harus diformulasikan dalam ketiga dimensi di atas, yakni aspek intelektual umat Islam paham akhlak atau perilaku Nabi Saw., mengamalkan sunnah-sunnah Rasul secara empiris di tengah-tengah masyarakat dan sisi ruhaniyah, spiritual. Akhirnya Maulid Nabi benar-benar menjadi aktualisasi akhlak Rasulullah, yang pada akhirnya menjadi bukti nyata kebenaran ajaran Islam universal yang rahmatan li al-alamin. Wa Allahu A’lam!

*Pengajar UIN Sayyid Ali Rahmatullah, Pengurus Cabang NU, Khadim PP Terpadu al-Kamal Blitar dan Yayasan Baiturrahman Kras kediri

Tags :

Share This :

Comments (0)

Your email address will not be published. Required fields are marked *