Strategi Belajar di Pendidikan Tinggi (Risalah Ngaji dan Ngabdi 212)

Sama juga ketika seseorang sering berdiskusi (musyawarah) bersama teman-temannya, akan banyak pengetahuan atau sudut pandang yang lain akan dia dapatkan dari orang lain. Karena sifat pengetahuan adalah relatif, tidak kaku, akan memunculkan banyak kebenaran, ketika sudut pandang dihadirkan berarti akan banyak pengetahuan dan ilmu. Dalam disiplin ilmu apapun bermusyawarah dalam mengkaji ilmu pengetahuan adalah sebuah keniscayaan. Selain menambah sudut pandang sebuah ilmu yang didiskusikan akan lebih kuat tertanam dalam diri seseorang, karena dalam bermusyawarah para peserta akan mencurahkan semua daya fikir, intelektualnya dan juga hatinya dalam membahas sebuah permasalahan. Dengan kesungguhan mencari jalan keluar itulah perdebatan, argumentasi akan disajikan, yang pada akhirnya menambah kuatnya sebuah ilmu dalam diri seseorang yang mengikuti permusyawarahan.

Mengikuti perkembangan teori dengan membaca buku yang ada di perpustakaan atau jurnal ilmiah yang diterbitkan. Dengan mengikuti perkembangan ilmu, pengetahuan yang dia miliki akan selalu kontekstual dengan situasi dan kondisi di mana dia berada. Dinamika manusia hidup akan selalu berubah, bergeser dan berkembang, yang akan selalu diikuti oleh penelitian untuk menemukan ilmu-ilmu baru hasil jawaban dari problematika dinamika kemanusiaan. Maka ilmu pengetahuan akan selalu dinamis mengikuti dinamika manusia yang menyejarah dari satu masa ke masa yang lain. Untuk itu manusia akan bersifat historis, juga ilmu pengetahuan sebagai wahana kehidupan berjalan dinamis dan historis mengiringinya. Sebagai ahli ilmu seorang pelajar harus mengikuti historisitas manusia dan dinamika ilmu pengetahuan. Jika historisitas ilmu tidak diikuti perkembangannya, yang terjadi seseorang akan mempunyai ilmu tetapi ahistoris. Misalnya melihat perkembangan manusia klasik dengan perspektif modern atau sebaliknya melihat manusia modern dengan perspektif abad klasik. Hal itu akan menimbulkan kesenjangan dalam menyelesaikan masalah-masalah kehidupan, yang pada akhirnya tidak menemukan jalan keluar. 

 Melakukan pencatatan terhadap pengetahuan yang dia dapatkan. Dokumentasi terhadap Ilmu adalah hal penting, karena ini sebagai perangkat untuk menyimpan pengetahuan-pengetahuan yang didapatkan. Karena memori manusia sifatnya terbatas, tidak semua pengetahuan akan dapat diingat secara terus menerus, kelupaan pasti akan terjadi bagi seorang ilmuwan. Maka ketika terjadi kelupaan pada diri seorang ilmuwan, dia dapat membuka kembali dokumen ilmu pengetahuan yang dia miliki. Di samping itu pencatatan ilmu yang kemudian dalam dunia akademik disebut karya dalam bentuk buku, jurnal sebagai sarana untuk sosialisasi ide, konsep, teori yang telah dihasilkan, yang akan dapat dibaca oleh semua orang, dimanfaatkan, menjadi rujukan bagi peneliti-peneliti selanjutnya, demi keberlanjutan teori untuk masa-masa yang akan datang. Maka dalam dunia akademik dikenal skripsi, tesis, disertasi, jurnal ilmiah. Hal ini tidak hanya sekedar tugas-tugas akhir atau beban kewajiban bagi seorang ilmuwan. Tetapi itu adalah bagian dari historical sciences, aspek kesejarahan ilmu pengetahuan yang tidak akan berhenti.    

Setelah ilmu atau teori didapatkan, seyogyanya seseorang mempraktekkan teori di lembaga-lembaga terkait atau di tengah-tengah masyarakat. Ini adalah bagian dari trilogi  ilmu pengetahuan yang salah satunya adalah nilai kemanfaatan dari ilmu. Dari praktik ilmu inilah seseorang diuji bahwa ilmu pengetahuan yang dia miliki memang mempunyai nilai utilitas, kemanfaatan tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk masyarakat banyak, semakin banyak masyarakat mempraktekkan ilmu yang ditawarkan berarti akan semakin bermanfaat. Dalam kacamata penulisan semakin banyak sebuah buku menjadi rujukan atau dikutip, berarti ilmu yang ada dalam buku itu lebih bermanfaat. Hal ini dapat diteliti buku-buku rujukan dalam berbagai disiplin ilmu, semakin banyak dirujuk berarti semakin bernilai. Mungkin dapat dicontohkan dalam dunia ilmu-ilmu keislaman, buku hukum Islam taqrib karangan Abu Suja’, buku tafsir karangan Jalaludin al-Suyuti dan al-Mahali, Tafsir Jalalayn, buku tashawuf Ihya’ ulum al-din karangan al-Ghazali, buku Theology Islam karangan Harun Nasution, Buku Ushul al-Fiqh karangan Abd. Wahab Khalaf, Buku sosiologi Agama al-Muqaddimah karangan Ibn Khaldun, buku perbandingan Agama al-Milal wa al Nihal karangan Ibn Hazm, buku perbandingan madhab Bidayat al-Mujtahid karangan ibn Rusyd, buku Kode Etik Pendidikan Islam ta’lim muta’alim karangan al-Zarnuji, buku Mu’jizat al-Quran karangan Prof. Qurays Syihab, Religion of Java karya Cliffort Geert, Tradisi Pesantren karya Zamakhsyari Dhafir, al-Qanun fi al-Thib karya Ibnu Shina, dan buku-buku dari berbagai disiplin ilmu, mulai zaman abad pertengahan sampai sekarang, semakin bermanfaat akan semakin dijadikan rujukan bagi peminat selanjutnya, ini dikarenakan ilmunya ditulis dalam sebuah catatan karya.    

 Bagi seorang yang belajar ilmu tidak boleh bersikap putus asa dalam menghadapi godaan dan tantangan. Gangguan dan tantangan adalah bagian dari kehidupan umat manusia yang berliku, tidak lurus, mulus, akan selalu mengalami dinamika hidup. Bisa jadi masalah keuangan, masalah sosial di sekitar, benturan dengan teman, keluarga tidak semua mendukung dan seabrek masalah-masalah yang lain. Dia harus husnudzan terhadap Allah Swt bahwa dengan masalah yang dihadapi akan menambah kedewasaan seseorang dalam menyikapi kehidupan, kenyamanan atau kebahagiaan seseorang adalah sesuatu yang dibanding-bandingkan dengan kondisi orang lain, padahal orang lain juga merasakan hal yang sama, walaupun bentuk gangguannya berbeda. Seorang akan melihat orang lain enak karena tidak merasakan yang dialami orang lain dan sebaliknya. Yang terpenting jalani kehidupan dengan prinsip yang teguh dalam bahasa agama namanya istiqamah.   

Hal penting lagi adalah usaha yang dilakukan dengan menggabungkan pendekatan rasional menggunakan akalnya, pendekatan empiris experiences pengalaman di lingkungannya dan spiritual intuitif menggunakan hatinya. Berbagai pendekatan itu sesuai dengan potensi manusia itu sendiri. Bahwa manusia ada potensi berpikir dengan akalnya, bersosial dengan inderanya dan menyandarkan diri kepada dzat yang di luar kemampuan manusia dengan hatinya  kepada Allah Swt. Dengan berbagai pendekatan ini ilmu yang didapatkan akan mengintegrasikan tiga sumber pengetahuan sekaligus, intelektual, social dan spiritual. Dengan begitu seseorang akan benar-benar menjadi ilmuwan sejati, yang kaya akan teori, membumi di tengah masyarakat dan berdimensi ketaatan kepada Allah Swt. Jika seorang ilmuwan dominan dengan satu pendekatan atau dua pendekatan saja, berarti akan ada kekosongan potret sebagai seorang ilmuwan yang dengan ilmunya yang terbatas,  diaktualisasikan di dunia empiris yang terbatas pula. Maka harus dikembalikan kepada dzat yang tidak terbatas ilmunya yaitu yang maha kuasa Allah Swt. Wa Allahu A’lam!          

*Pengajar UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Khadim PP al-Kamal Blitar dan Yayasan Bayturrahman Kras Kediri

Tags :

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *