Sesuai dengan penelitian abad dua puluh oleh Clifford Geertz tepatnya tahun 1960 tentang tipologi sosial masyarakat Jawa salah satunya adalah seorang santri. Sebagai orang yang taat terhadap ajaran agamanya baik dalam tataran konsep ilmiyah maupun dalam praktik keseharian dalam menjalankan ibadah serta bermuamalah keseharian dengan sesamanya. Dalam konsepsi ini seorang santri mempunyai sisi excellences (keunggulan), karena dapat mengartikulasikan ajaran agamanya dalam realitas empiris lingkungannya, sehingga dengan potensi keunggulannya ini, santri dalam kehidupannya tidak hanya membentuk karakter kepribadian individunya tetapi juga dapat mempengaruhi orang-orang di sekitarnya menjadi orang-orang yang shalih, taat, dan berakhlaq mulia, sesuai tuntunan Allah Swt dan Rasulullah Saw. Rasulullah dawuh, “Khairu al-Nas Anfa’uhum li al-Nas”, sebaik-baik manusia adalah yang lebih bermanfaat bagi manusia yang lain.
Dalam peringatan hari santri tahun ini, alangkah baiknya potensi keunggulan santri diungkap lagi dalam rangka revitalisasi kesantrian, dengan harapan potensi santri dapat menjadi jawaban dan bersinergi dengan karakter budaya bangsa Indonesia, kemudian bersama-sama dengan semua elemen bangsa ini menjawab problematika yang dihadapi. Baik terutama dalam memberdayakan masyarakat dalam berbagai bidang kehidupannya, keagamaan, pendidikan, hukum, ekonomi, budaya, politik, dan tantangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan begitu sisi kesantrian dan keindonesiaan akan tetap bersatu demi kejayaan bangsa dan negara tercinta, untuk mensejahterakan masyarakat mencapai Indonesia emas.
Dalam sudut pandang sejarah, bangsa ini sejak sebelum berdirinya sampai kapanpun, selalu beriringan antara santri dengan negaranya, antara santri sebagai warga dengan tanah air sebagai tempat berpijaknya, baik pada masa kerajaan, masa kolonialisme, masa kemerdekaan, masa pembangunan, masa reformasi dan sampai sekarang. Sinergi antara santri dan negaranya harus selalu dipupuk, direkatkan, sebagai kekuatan potensi dalam menghadapi semua tantangan yang dihadapi, baik santri dalam mengajarkan agamanya, mendakwahkannya, atau memberikan kontribusinya untuk negara dan bangsa Indonesia.
Di antara keunggulan santri adalah sisi keimanan yang kuat yang sesuai dengan sila pertama Pancasila. Dalam hal ini terutama ajaran tentang rukun iman sebagaimana diajarkan oleh para guru-guru madrasah diniyah di kampung-kampung atau pesantren. Dengan keimanan yang kuat memunculkan sikap tangguh dalam diri santri, dikarenakan semua perbuatannya selalu didasarkan oleh keyakinan kepada Allah Swt, melalui bimbingan dan tauladan Sunnah Rasulullah Saw, berpedoman kepada kitab Al-Quran, tidak pernah berputus asa karena percaya akan keputusan Allah dan sikap responsibilitas, pertanggungjawaban terhadap apa yang dilakukan oleh santri. Keunggulan ini dalam konteks kekinian harus dikuatkan lagi bagi masyarakat yang berkarakter religious society sebagai istilah santri. Dengan keimanan yang diartikulasikan dalam kehidupan sehari-hari menjadi karakter santri excellences, yang selalu mampu untuk menyelesaikan problematika individu, keluarganya, masyarakat dan bangsanya. Kepribadian yang dapat dilihat dalam diri santri merupakan implementasi dari keimanan yang berwujud sikap tangguh dalam berbagai keadaan yang melingkarinya. Tangguh dalam karakter ini dapat dibaca ketika santri menjalani pendidikannya yang relatif lama, tangguh dalam bekerja, tangguh dalam berjuang untuk agama dan bangsanya, tangguh untuk menghadapi semua tantangan, tangguh dalam beribadah, tangguh dalam fisiknya dan berbagai karakter tangguh yang lain, perwujudan dari keimanan yang kuat dalam diri santri. Sikap tangguh dalam konteks kekinian begitu urgent mengingat budaya masyarakat yang serba instant menjalani aktivitas sehari-hari, membuat sikap tangguh dalam diri manusia berkurang tidak seperti ketangguhan santri-santri abad 18, 19 dan 20, mengingat budaya dan kondisi sosiologis, ekonomis dan geografisnya memang berbeda dengan santri-santri zaman sekarang.
Karakter unggul santri selanjutnya adalah kesederhanaan, baik dalam ucapan, perbuatan, dan pola hidup sehari-hari. Mengingat doktrin theologis mengajarkan dari Rasulullah Saw menerangkan salah satu ciri dari sikap berlebihan adalah makan sesuai keinginan kita,
من الإسراف أن تأكل ما اشتهيت
(Sebagian dari ciri berlebihan (al-israf) kamu makan apa yang engkau inginkan (Ibnu Majah).
Hal ini sebagai contoh kesederhanaan dari karakter santri adalah pola makan, yang seadanya dan cenderung terbatas. Kesederhanaan santri memang sudah terbentuk dalam kesehariaannya yang serba terbatas dalam pemenuhan kebutuhannya, sejak dia masih kecil, remaja, dan dewasa. Terutama santri-santri yang berada dalam pendidikan pesantren, yang dalam kehidupannya serba apa adanya. Dengan kesederhanaannya inilah akhirnya tumbuh sikap fleksible dalam komunikasi dan kolaborasi dengan pihak yang lain. Sehingga tidak ada sekat antara santri dengan segmen masyarakat yang heterogen. Seorang santri dapat berkumpul dengan saudagar, rakyat biasa, pejabat sekalipun dengan modal kesupelan dalam bersikap. Dalam konteks inilah dakwah santri di tengah-tengah masyarakat mudah diterima oleh sesamanya. Apa yang disampaikan santri biasanya selalu memudahkan (li taysir) dalam menyelesaikan masalah-masalah kemasyarakatan.
Bagi santri-santri yang menempuh pendidikan, juga mempunyai keunggulan dalam hal kecerdasan, baik dari sisi intelektual, emosional dan spiritual sebagai seorang manusia. Sehingga dalam bergaul dan menjalani semua aktifitasnya selalu menggunakan ketiga kecerdasannya itu. Berbeda dengan pelajar yang bukan santri yang kadang hanya cerdas dari kapasitas intelektual, tetapi dari sisi kecerdasan yang lain tidak biasa untuk melakukan, sehingga akan adanya gagap komunikasi dengan masyarakat yang notabene mengalami kompleksitas permasalahan. Tetapi jika dihadapkan kepada seorang santri dengan kecerdasannya yang komprehensif, sesuatu yang rumit akan terurai, yang sulit akan menjadi mudah, dan yang berat akan mennjadi ringan. Sebagaimana kaidah yang dipegangi, “al-umur idha dlaqat ittasa’at”, perkara itu kalau sempit akan memuculkan kelapangan.
Dalam kacamata yang lain, populasi santri di Indonesia yang banyak dari sisi kuantitasnya, tentunya akan menjadikan jaringan yang kuat antar sesama santri, yang itu merupakan potensi yang dapat digarap untuk memberdayakan masyarakat. Jaringan santri dapat digunakan untuk kemanfataatan politik, ekonomi, budaya, pendidikan, keagamaan dan kegiatan-kegiatan lain dalam rangka penguatan kesantrian, sehingga dapat berperan lebih baik untuk agama, bangsa dan negaranya Indonesia. Seiring dengan itu, potensi excellences santri dari berbagai bidang itu dapat bersinergi dengan potensi karakteristik bangsa.
Karakteristik bangsa Indonesia yang dapat disinergikan dengan potensi santri di antaranya adalah ketuhanan atau spiritualitas, kebersamaan atau guyup rukun, keramahan atau sopan santun, kesederhanaan, nasionalisme atau cinta tanah air. Dengan mempertemukan sisi kesantrian dan keindonesiaan, niscaya kejayaan sebuah bangsa akan tercapai, berkat peran dan kontribusi santri di dalamnya. Apalagi bangsa Indonesia menghadapi masalah dalam hal kemandirian. Misalnya masih ketergantungan kepada subsidi dalam pemenuhan kebutuhan, hal ini menuntut santri dengan berbagai potensi keunggulannya untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah bangsa. Problematika lain dalam diri bangsa ini adanya sikap fanatisme dalam menjalani kehidupannya. Fanatik dalam pola pikir, fanatik dalam tradisi konsumerisme, fanatik dalam peralatan, teknologi dan juga fanatik dalam menjalankan ajaran agama yang tidak didasari dengan bekal ilmu pengetahuan yang mapan.
Karena sikap fanatisme itu berakibat adanya inferioritas atau takut berbuat untuk mewujudkan kreatifitas bagi diri dan bangsanya. Dalam diri mereka berpandangan bahwa hanya para pendahulu yang mampu untuk mengisi pembangunan bangsa ini, sementara kita hanya mengikut kepada para pendahulu, kurang untuk berbuat, berinovasi untuk kejayaan negeri dimana dia sedang hidup di dalamnya. Sikap seperti itu juga baik dalam rangka memberikan apresiasi kepada pendahulu yang telah melakukan perjuangan, tetapi juga harus didasari dengan ilmu. Jikalau tidak didasari dengan ilmu pengetahuan niscaya seseorang hanya akan mengekor kepada ilmu-ilmu yang telah ada tanpa ada keberanian untuk berinisitif menyelesaikan problem-problem yang dihadapi oleh dirinya sendiri. Memang sisi kesantrian dan keindonesiaan memunculkan kesamaan, ini sebagai bahan atau modal untuk mengisi kemerdekaan Indonesia yang hakiki. Wa Allahu A’lam!
*Pengajar UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Khadim PP Terpadu al-Kamal, PCNU Blitar, Yayasan Baiturrahman Kediri