Dari paparan sebelumnya, bagi para ilmuwan kekinian, yang telah menjadi wisudawan, mempunyai tanggung jawab, dengan segebok keilmuan yang dimiliki. Mulai dari ilmu dakwah, ilmu hukum Islam atau ekonomi Syariah. Ilmu yang telah dimiliki harus dapat menyelesaikan masalah dalam bidangnya masing-masing, di lingkungannya masing-masing, memberikan kontribusi terhadap bangunan peradaban Islam, sehingga ajarannya tetap relevan dalam situasi dan kondisi apapun (shalihun li kulli zaman wa al-makan). Mungkin sebagai contoh perkembangan peradaban Islam yang dihasilkan oleh para ilmuwan muslim pada zaman keemasan dapat sebagai pijakan, bahwa peradaban ini dibangun oleh kontribusi para ilmuwan (sarjana) dan perguruan Tinggi Islam.
Dimulai dari Universitas Al-Azhar Mesir. Di sana sejak Dinasti Fatimiyah dikembangkan sebagai institusi pendidikan untuk memberdayakan umat dengan berbasis ilmu pengetahuan. Dari al-Azhar lahir banyak kader ulama, fatwa, dan bangunan ilmu pengetahuan. Termasuk yang menjadi sumber inspirasi dalam mengembangkan Pendidikan Tinggi Islam di Indonesia. Di Andalusia Spanyol, juga pernah berkembang berbagai ilmu pengetahuan Islam dari berbagai disiplin. Kita mengenal Ibn Shina dalam bidang kedokteran, Ibn Khaldun dengan sosiologi agama, al-Qurthubi dalam bidang tafsir, Ibn Malik dalam bidang ilmu bahasa, al-Syathibi dalam bidang ushul fiqh, Ibn Hazm dalam bidang fiqih dan perbandingan agama dan lain-lain. Di Baghdad, Al-Ghazali (Abu Hamid al-Ghazali): Filsuf, theolog, dan sufi besar yang pernah menjabat sebagai guru besar (profesor) sekaligus rektor di Madrasah Nizamiyah Baghdad. Abu Ishaq al-Syirazi: Ulama mazhab Syafi’i terkemuka yang menjadi salah satu pengajar utama pada awal pendirian madrasah ini. Muhammad al-Syahrastani: Sejarawan dan ahli teologi terkenal penulis kitab Al-Milal wa al-Nihal. Di India dapat dikenal beberapa ilmuwan muslim di antaranya al-Biruni sebagai ilmuwan astronomi, Shah Waliyullah ahli dalm bidang filsafat Hukum Islam, Zainudin al-Malibary pengarang Fath al-Mu’in, ahli Fiqih, al-Mubarak Furi ahli hadits dan sebagainya. Artinya peradaban Islam sisi teoritis-konsepsional, realitas-empiris, dan institute kelembagaan selalu dibangun oleh para ilmuwan.
Konteks keindonesiaan, bangunan peradaban telah diinisiasi oleh para pejuang dan pensyiar Islam dalam berbagai bentuknya, dan ketika memasuki masa modern, institusionalisasi pendidikan Islam sebagai sebuah ikhtiyar untuk transformasi Islam dalam berbagai bidang kehidupan. Dalam hal ini pesantren dan lembaga pendidikan tinggi Islam menjadi institusi yang menyemai Islam menjadi peradaban muslim nusantara. Pesantren dan lembaga pendidikan tinggi yang digawangi oleh para ulama telah berkembang menjadi ikon peradaban ilmu dalam konteks keindonesiaan. Sebagai contoh para ulama yang telah berjuang lewat pendidikan pesantren dan perguruan tinggi di antaranya, KH. Hasyim Asyary, KH. Mahrus Aly, KH. Wahab Hasbullah, KH. Mustain Romli, KH. As’ad Samsul Arifin, KH. Ahmad Dahlan, KH. Zarkasy dan lain-lain. Para ulama Indonesia semuanya membangun peradaban lewat ilmu dan institusi pendidikan Islam, sehingga dapat memberikan kontribusi peradaban lewat kelembagaan, konsepsi ilmiyah dan solusi-solusi problematika masyarakat.
Tantangan dan Solusi
Perjuangan dalam memberikan kontribusi terhadap peradaban umat manusia oleh para ilmuwan muslim, sejak abad klasik, pertengahan, masa modern, milenial, agar tetap terjaga kontinuitasnya harus diperhatikan beberapa hal berikut: Pertama. Karakter ilmuwan (khuluqiyah). Ta’rif akhlaq menurut al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din,
الْخُلُقُ عِبَارَةٌ عَنْ هَيْئَةٍ فِي النَّفْسِ رَاسِخَةٍ عَنْهَا تَصْدُرُ الأَفْعَالُ بِسُهُولَةٍ وَيُسْرٍ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ إِلَى فِكْرٍ وَرَوِيَّةٍ
(Akhlak adalah suatu kondisi atau sifat yang tertanam kuat dalam jiwa, yang darinya lahir berbagai perbuatan dengan mudah dan gampang, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan yang mendalam). Pegertian ini dikandung maksud, sifat yang melekat dalam diri seseorang yang terekpresikan dalam tindakan sehari-hari. Misalnya ilmuwan adalah orang yang jujur, obyektif, rasional, koheren antara yang diucapkan dengan tindakan. Jika perilaku ilmuwan yang sudah terartikulasikan dalam kehidupan nyata dapat koheren dengan ilmunya, maka akan menjadi karakter yang patut ditiru oleh masyarakat di sekitarnya. Seorang hakim adalah orang yang tegas dan adil dalam mengambil keputusan yang tidak hanya berpengaruh dalam kehidupan peradilan, tetapi masyarakat luas juga akan menirunya menjadi orang yang alim dan adil. Seorang da’i dengan metode dan gaya dakwahnya juga menjadi cermin ilmu dakwahnya sebagai juru bicara Islam untuk tranformasi ajaran. Seorang sarjana ekonomi juga dapat membentuk karakter ekonomi dalam dirinya. Misalnya inovasi, kreatifitas sebagai modal dalam pengembangan ekonomi yang dia tekuni. Sebagaimana Dalil Rasulullah, “Ayyul Kasba Afdhalu, amalu al-rajuli biyadihi wa kullu ba’in mabrurin”, Rasulullah ditanya pekerjaan apa yang paling baik, ya Rasul? Rasul menjawab, perbuatan seseorang dengan tangannya sendiri dan setiap transaksi yang baik. Hal ini mengindikasikan bahwa inovasi, kreatifitas dalam dunia ekonomi adalah keniscayaan sebagai karakter bagi orang-orang yang menekuni bidang ekonomi atau kewirausahaan (entrepreneur). Seorang guru atau dosen adalah ilmuwan yang mengekpresikan ranah kognitif, afektif, atau psikomotorik, sehingga dapat menjalankan fungsi transmisi ilmiyah.
Problematikanya, kadangkala secara ilmiyah seseorang dapat saja menguasai dari berbagai teori dan ilmu tetapi kemudian untuk menjadi sebuah karakter, kepribadian sehari-hari, nampaknya harus diusahakan dan dilatih terus menerus. Akhirnya kadang ada orang yang cerdas, banyak pemikiran, tetapi kekurangannya dalam bidang kejujuran, kedisiplinan, dan sifat-sifat tercela yang lain, akhirnya ilmu yang baik masih terjadi kesenjangan dengan realitas di lapangan, yang pada akhirnya tidak dapat dijadikan uswatun hasanah. Maka dalam dunia kekinian bisa jadi karakter yang sifatnya moralitas harus seiring dengan kebutuhan dunia realitas dimana dia beraktifitas (dunia kerja).
Dalam ajaran moral Islam karakter dapat terbentuk dari sisi akal, realitas dan sisi kejiwaan spiritualitas. Dimensi pertanggungjawaban perbuatan manusia terhadap sesamanya juga terhadap Allah Swt. Maka sebenarnya karakter islami terbentuk secara komprehensif di lakukan atas inisitatif hati untuk realitas dan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah Swt. Dengan paduan karakter moral, karakter dunia realitas kerja, dan spiritualitas inilah yang tercermin dalam setiap ilmuwan muslim yang membedakan dengan ilmuwan yang lain, yang nantinya dapat diterima dalam bidang apapun sesuai dengan disiplin ilmu seseorang.
Kompetensi: Adalah kemampuan yang dimiliki oleh seorang ilmuwan dalam bidang tertentu. Bisa hukum, sosiologi, ekonomi, kedokteran, fiqih, tafsir, ilmu bahasa nahwu sharaf dan disiplin agama Islam yang lain. Hampir di semua instansi dari berbagai lembaga sebenarnya masih banyak peluang untuk para praktisi kita. Misalnya di Fakultas Syariah ada penghulu atau hakim, Fakultas Dakwah misalnya di dinas-dinas penerangan, informatika dan Bimas Islam. Di bidang Ekonomi Syariah juga sudah banyak lembaga-lembaga ekonomi syariah membutuhkan sarjana-sarjana yang mempunyai kompetensi dalam ekonomi syariah. Sekarang tinggal seorang sarjana untuk membuka jaringan (network) dengan ilmuwan-ilmuwan yang lain dalam bidang yang sesuai dalam rangka mempraktikkan ilmu dalam lembaga tertentu. Atau kalau memang menjadi sarjana atau ilmuwan yang mapan, dia bisa mengembangkan ilmunya menjadi sebuah institusi praktik. Misalnya fakultas syariah membuka advokasi, konsultan hukum keluarga. Bidang dakwah menjadi juru dakwah dan institusi managemennya, dakwah berbasis media sosial dan digitalisasi, bidang ekonomi kita memberdayakan ekonomi umat dengan berbagai fasilitas yang ada, tetapi tetap membuka peluang berkarya dalam bidang ekonomi. Dengan terjun di dunia nyata, kompetensi sarjana sebagai seorang praktisi menjadi membumi, tidak hanya di ranah idealisme teoritis dalam bahasa al-Qur’an, “Ashluha Tsabitun wa Far’uha fi al-Sama’ (Akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit (Ibrahim:24). Semua sarjana membumi sesuai dengan kompetensinya, juga melangit dalam di sisi allah Swt.
Dawuh Hasyiyah Shawi al-Maliki, menyatakan bagi seorang intelektual harus mempunyai beberapa hal;
وعلى العاقل أن يكون بصيراً بزمانه، مقبلاً على شأنه، حافظاً للسانه
(Bagi seorang Intelektual, Pertama; harus memahami kondisi zamannya dalam arti memiliki kepekaan dan pemahaman yang tajam terhadap situasi yang mengitarinya. Kedua, fokus urusan sendiri untuk terwujudnya kemandirian bersikap dan bertindak. ketiga menjaga lisannya, kecuali pada hal-hal yang bermanfaat). Hasil dari kompetensi yang dimiliki oleh seseorang, akhirnya mempunyai beberapa sikap penting dalam dirinya, di antaranya adalah 1). sikap kritis, seorang sarjana dengan potensi ilmu dan intelektualitasnya dituntut untuk peka terhadap situasi yang dia hadapi. Dalam kehidupan manusia ini banyak sekali problem yang sebenarnya itu adalah peluang bagi dirinya untuk berperan di tengah-tengah masyarakatnya. 2. sikap kreatif. Harus ada ide-ide baru yang dia tawarkan kepada masyarakat. 3. Sikap komunikatif. Dalam Bahasa jawanya harus entengan untuk berbuat, dan berkarya sesuai dengan kemampuannya. 4. Sikap kolaboratif, dapat bekerjasama dengan siapapun sehingga terbuka network, jaringan untuk membesarkan dirinya.
Literasi: Kemampuan untuk membaca, menulis, memahami dan menganalisis untuk menggunakan informasi sebaik-baiknya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dilakukan tentunya untuk menambah wawasan pengetahuan yang berkembang di tengah-tengah masyarakat, sehingga dia tidak ketinggalan terhadap segala dinamika yang terjadi di masyarakat dan dapat memberikan solusi dan kontribusi terhadap permasalahan yang terjadi. Misalnya dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai keluarga juga harus banyak pengetahuan tentang keluarga yang baik, literasi tentang sakinah. Sebagai bagian dari masyarakat, juga harus mengetahui, kaya wawasan terhadap perkembangan masyarakat dalam berbagai sektornya, menambah literasi dalam bidang sosiologi. Sebagai praktisi ekonomi (entrepreneur), harus selalu uptodate tentang dinamika perkembangan isu-isu ekonomi sehingga dapat mengikuti perkembangan dunia bisnis. Sebagai praktisi hukum juga harus memperkaya wawasan tentang hukum formil dan hukum materiil. Dengan pengayaan berbagai literasi yang kita lakukan, akan menambah khazanah dalam menyikapi kehidupan sekitar, yang pada akhirnya seorang ilmuwan dengan basis ilmiyahnya akan selalu dapat memberikan kontribusi kepada peradaban umat manusia.
Akhirnya: 1. Sarjana adalah seorang ilmuwan yang telah menyelesaikan paket pembelajaran akademik melalui Tridarma Perguruan Tinggi. 2. Para ilmuwan muslim sejak awal Islam disyiarkan dan diajarkan, selalu memberikan kontribusi peradaban baik dalam ranah konsepsional, institusional, maupun solusi realitas sosial. 3. Dalam konteks kekinian, ilmuwan muslim harus aktualisasi ilmunya dengan membentuk karakter dan spiritualitas, kompetensi, dan literasi. Pada akhirnya dengan disiplin ilmunya dapat memberikan nilai utilitas untuk peradaban umat manusia dan sekitarnya. Wa Allahu A’lam!
*Guru Besar Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung & Alumni Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri 98. Disampaikan dalam Yudisium Sarjana UIT. Ahad, 18 Oktober 2026