Pesan-Pesan dalam Haflah Akhir Sanah (Risalah Ngaji dan Ngabdi 192)

وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَىٰ إِلَيْكَ وَحْيُهُ ۖ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

 “…dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al-Qur’an sebelum disempurnakan wahyunya kepadamu, dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” Makna yang terkandung dalam surat al-Thaha, ayat 114 ini mengajarkan agar mempelajari ilmu (Al-Qur’an) dengan bertahap (tidak tergesa-gesa), melalui proses serta selalu berdoa mohon tambahan ilmu”. Tulisan ini menuangkan pokok-pokok pikiran dalam rangka evaluasi terhadap santri yang telah menyelesaikan masa pengajiannya di Pesantren Al-Kamal Blitar selama 3 tahun, 6 tahun, 10 tahun atau bahkan lebih dari itu. Sebuah masa yang berharga dilihat dari berbagai sudut pandang, baik ekonomi, ilmu pengetahuan, ketahanan mental, ketahanan fisik, intelektualitas, ketahanan sosial dan perspektif lain untuk memberikan pandangan yang belajar ilmu di Pesantren Nusantara. Dimulai dari sisi ilmu para santri telah belajar ilmu-ilmu syariat, ilmu bahasa, ilmu tafsir, hadits, sejarah, tashawuf, ilmu akhlaq, ilmu suwuk, berorganiasi, dari berbagai referensi yang otoritatif digunakan di pesantren. Misalnya bagian fiqih mulai mabadi’ fiqhiyah, safinat al-shalat, taqrib, fath al-Qarib, fath al-Muin, fath al-Wahab. Kajian bahasa dengan kitab Jurumiyah, Imrithi, Alfiyah Ibn Malik, Jauhar al-Maknun, Qawaid al-Lughah. Akhlaq mulai Taysir al-khalaq, akhlaqul banin, ta’lim muta’alim, Ihya’ Ulum al-din, yang tafsir ada tafsir jalalayn, tafsir Yasin dan sebagainya. Kajian Hadits meliputi kutub al-sittah, Riyadl al-shalihin, Jawahir al-Bukhari, Jami’u Shaghir, Arba’I al-nawawi, abi Jamrah, lubab al-Hadits. Bidang sejarah ada khulashah Nurul Yaqin, Tarikh Tasyri’, Madarij al-Shu’ud, Nurul Burhan, dan lain-lain yang mungkin dikaji dalam liburan Ramadhan dan kilatan. Maka ketika santri pulang dalam setahun jika mengaji kitab minimal 10, maka dalam 3 tahun dia telah mengkhatamkan 30 kitab, 6 tahun 60 kitab, 10 tahun mengaji 100 kitab. Belum lagi kalau seorang santri mempunyai kegemaran membaca dan mentelaah dengan pendekatan perbandingan referensi, maka akan lebih banyak lagi kitab yang dia khatamkan, dari berbagai disiplin ilmu-ilmu keislaman.
Dari sudut pandang ilmiyah dari pesantren, betapa pesantren telah menghasilkan kader ulama-ulama masa depan (al-ulama’ waratsat al-anbiya’, ulama pewaris para Nabi), yang dapat dipersangkakan kiamat masih jauh, karena dari bumi Nusantara ini telah diproduksi calon ulama-ulama masa depan, yang kapasitas ilmiyah dapat dipertanggungjawabkan dari sumber ilmu yang otoritatif, dapat dipercaya dapat melanjutkan misi risalah kenabian jeng Nabi Muhammad Saw. Mengajarkan ajaran Islam di masyarakatnya masing-masing. Sesuai dawuh Allah dalam sebuah potongan ayat ”liyundhiru qawmahum idha raja’u…”, supaya mereka mengingatkan kaumnya jika sudah kembali ke rumahnya masing-masing.
Apalagi kalau santri yang dalam pendidikannya memberdayakan dirinya dengan berbagai pengetahuan, baik ilmu-ilmu agama, ilmu sosial, fisika, biologi, kesehatan, politik, hukum, filsafat, kedokteran, teknologi informasi dan lain-lain dalam lembaga-lembaga sekolah formal mulai Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah. Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Kejuruan, Perguruan Tinggi atau Mahad Aly, maka para santri akan lebih bisa beradaptasi dengan dinamika masyarakat kekinian yang begitu pesatnya melakukan perkembangan kehidupannya. Ini menjadi tanggung jawab santri untuk membantu menyelesaikan problem masyarakat kekinian. Dengan panduan ilmu pengetahuan yang sudah didapat di pesantren, diharapkan santri tidak gagap untuk menyikapinya, karena sudah mempunyai modal ilmu, amal, akhlaq dan doa para Kyai yang selama ini membimbingnya tidak henti-hentinya, lahir dan bathin.
Maka seorang santri milenial harus optimis, percaya diri, mantab dan yakin atas semua nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepadanya. Sebagaimana Dawuh Allah kepada jeng Nabi Muhammad SAW dalam al-Quran, Wa Amma bi Ni’mati Rabbika fa Hadits”, dan adapun dengan nikmat Tuhanmu Muhammad (berupa diutus menjadi Nabi), maka ceritakanlah”. Dalam ayat ini jeng Nabi diperintah untuk selalu mengkhabarkan perihal diutusnya menjadi Rasulullah, yang bertugas menyampaikan ajaran Islam. Demikian juga seorang santri juga harus selalu mengkhabarkan, mensosialisasikan ilmunya, promotive, tentang ilmu-ilmu yang telah didapatkan. Ini adalah tugas utama santri mensosialisasikan diri, mengajarkan ilmu, sesuai dengan disiplin yang dikuasainya. Jangan sungkan untuk mengatakan saya ahli fiqih (fuqaha), saya ahli ilmu (ulama), saya ahli hikmah (hukama’), saya ahli politik (siyasah), saya ahli kedokteran (al-Thib), saya ahli bahasa, saya ahli sosial (sosiolog), saya ahli filsafat (filosof), saya ahli al-Quran (qura’), saya ahli Hadits (muhaditsin), saya ahli syiir(syu’ara’) dan sebagainya. Sekarang bukan zamannya lagi untuk menutup diri tentang keilmuan yang dipunyai, sebagaimana seorang dokter mengatakan saya spisialis dalam, spesialis THT, spesialis paru, spesialis Jantung, Obgin, notaris, pengacara dan spesialis lain. Karena sekarang zaman keterbukaan, masyarakat harus mengetahui bahwa santri adalah ahli ilmu tertentu sesuai dengan yang dibutuhkan masyarakat kekinian. Tanpa ada keterbukaan dari para santri dengan keilmuannya, dikhawatirkan masyarakat akan keliru dalam mencari jawaban probelmatika kehidupannya yang semakin hari semakin komplek. Maka untuk santri harus menginformasikan keahliannya sebagai bentuk Syukur kepada Allah dan melaksanakan perintahnya.
Bagi para wali santri juga harus terus mendukung, memotivasi, dan mengendalikan keinginan santri untuk terus mengaji, belajar dan berkarya. Tanpa dukungan wali santri, putra dan putrinya akan mengalami kesulitan dalam meraih cita-citanya. Terutama jangan lupa untuk mendoakan setiap hari setelah shalat, supaya santri-santri ini dapat menempuh jalan ilmu dengan mudah, sehat wal afiyah, dan dikemudian hari memang menjadi anak-anak yang dapat menjadi penerus cita-cita orang tuanya, mengabdi, berjuang untuk keluarganya, agamanya, dan bangsanya. Perlu diketahui juga bahwa santri selama beberapa tahun telah melakukan tirakat, “wa naha al-nafsa ‘an al-hawa, fa inna al-jannata hiya al-ma’wa”, mereka telah menahan nafsu kesenangannya selama beberapa tahun. Mulai nafsu bermain, nafsu jajan, nafsu pacaran, nafsu bersenang dengan sesamanya, nafsu HP. Maka harapannya ke depan tinggal mendapat kebaikan, kebahagiaan hidup baik di dunia dan akhirat.
Tetapi harus diingat bahwa kehidupan di masa yang akan datang tantangannya semakin besar dan komplek, menuntut seorang santri dapat beradaptasi dengan dinamika masyarakat yang akan datang. Kalau sekarang mungkin digitalisasi yang paling akrab di tengah kita adalah handphone dengan perangkat media sosialnya, tetapi di kemudian hari bisa jadi perangkat digital akan lebih canggih lagi dapat membaca pikiran orang, uang sudah tidak ada, beralih kepada perangkat atau pengukur nilai lain, hubungan sosial semakin jarang, lemahnya spiritualitas, maka yang akan terjadi kekeringan sensitifitas dalam diri manusia, ketika interaksi dengan yang lain. Yang terjadi hedonisme, materialisme, radikalisme dan penyakit-penyakit lainnya. Untuk itu santri harus cerdas dan siap menyikapi masa di mana dia hidup, ‘arifan bi zamanihi, muqbilan bi sya’nihi.
Juga dari sisi ekonomi, tingkat kebutuhan sesorang bertambah umur tidak semakin berkurang, tetapi untuk menutupi kebutuhan hidup primer saja seseorang harus berjuang sehingga dapat eksis di lingkungan dia hidup. Untuk itu dituntut kreatifitas, inovasi dalam berbagai bidangnya untuk menutupi kebutuhannya. Tidak cukup seorang santri hanya menjadi pegawai konvensional karena akan ketinggalan dengan tuntutan zaman, tidak cukup menjadi petani konvensional tetapi harus jadi petani yang kreatif, tidak cukup menjadi dai konvensional, dibutuhkan dai yang kreatif yang bisa diterima masyarakat, tidak cukup menjadi dokter konvensional dibutuhkan kreatifitas, tidak cukup dengan keilmuan murni saja, tetapi juga harus disertai dengan inovasi dan kreatifitas demi memenuhi kebutuhan ekonominya sehingga dapat diterima di terima masyarakat.
Dan penting untuk diperhatikan, santri harus berpegang teguh kepada ajaran kyainya, Yang selama ini telah menyampaikan ajaran keimanan, akhlaqul karimah, ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Santri-santri pesantren semuanya telah diasuh, diajar diberi uswatun hasanah dari figur kyai yang harus dipegangi secara konsisten. Karena apa yang kamu lakukan di Pesantren beberapa tahun ini baru satu tahapan, masih banyak tahapan-tahapan lain dikemudian hari yang secara alamiyah dapat dirasakan, suka dan susahnya. Jika di Pesantren selama ini pernah menangis, tertawa, tegang, pernah menerima sanksi/ta’zir, berdiri karena tidak hafal dan lain-lain.  Di kemudian hari kamu juga akan merasakan hal serupa sebagai bagian dari jalan yang ditempuh manusia di dunia ini. Kadang mempunyai uang cukup kadang kurang, kadang tertawa juga kadang menangis dan sebagainya. Maka berpeganglah kepada ajaran kyai untuk menjalani kehidupan ini nanti akan mendapatkan pengetahuan, kesadaran, kemanfatan dan keberkahan hidup.
Sebagai orang tua dari anak-anak santri bahwa apa yang terjadi dalam khataman ini semua adalah anugerah Allah Swt. Yang harus disyukuri bersama-sama, mulai orang tua, santri, asatidh, pengasuh dan masyarakat semuanya. Maka harapannya semoga santri mendapatkan kemanfatan ilmu, keberkahan hidup, dan meneruskan misi keluarga dan Agama Rasulullah Saw. Li i’lai kalimatullahi hiya ‘ulya. Wa Allahu A’lam bi al-Shawab.
*Penulis adalah Khadim PP al-Kamal, MUI Kab Blitar, Pengajar Uin Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dan Yayasan Baiturahman Kediri

Tags :

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *