Ro’an, Fiqih Lingkungan, dan Kepemimpinan (Risalah Ngaji dan Ngabdi 191)

Istilah ro’an di pesantren dapat dilacak dari kata bahasa arab ”tabarukan”, yang berarti mengambil  keberkahan atau kebaikan dari aktifitas yang dlakukan oleh santri. Misalnya bekerjasama gotong royong dengan santri yang lain dalam hal kebersihan lingkungan, merawat keindahan, pertanian, pembangunan, dan kegiatan lain untuk meringankan kebutuhan bersama demi tercapainya sebuah tujuan. Kata ro’an dapat juga diambil dari kata-kata “ra’a, yar’a”, yang berarti memelihara, menggembala, merawat, memberikan makan, melindungi dari bahaya. Dalam bentuk isim fa’ilnya (pelaku) al-ra’i yang berarti penggembala atau pemimpin. Dari istilah dasarnya sebenarnya antara penggembala yang roan dengan pemimpin, al-ra’i adalah sama yakni sama-sama memelihara, merawat, melindungi, mengayomi rakyat yang dipimpin atau hewan yang digembalakan.
Dalam konteks pesantren, para santri dahulu adalah penggembala hewan kyainya, pengasuh santri-santri, mengurusi kebutuhan pesantren, merawat dan menggarap sawahnya, membantu kebutuhan hariannya. Yang diharapkan dari aktifitas ro’an itu tumbuh sikap-sikap kepemimpinan, pribadi yang bertanggung jawab, kesabaran, amanah, kerakyatan, kebersamaan dan sikap-sikap baik dalam kepemimpinan. Terminologi ini disinggung dalam Hadits Nabi Saw;

 أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَعَبْدُ الرَّجُلِ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya: “Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin. Penguasa yang memimpin rakyat dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, dan istri pemimpin terhadap keluarga rumah suaminya dan juga anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka, dan budak seseorang juga pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya. Ketahuilah, setiap kalian adalah bertanggung jawab atas yang dipimpinnya” (Al-Bukhari).
Melihat asal kata ro’an yang berasal dari tabarukan yang meekankan kepada harapan mendapatkan keberkahan, kebaikan, juga berasal dari istilah al-ra’a yang berarti memelihara, merawat, memimpin dan makna yang identik dengan penurunan sikap-sikap kepemimpinan. Maka ro’an dalam tradisi pesantren dapat menggunakan kedua makna tersebut yakni melatih sikap kepemimpinan dan pengharapan akan kebaikan bagi santri yang melakukan ro’an. Hal ini dapat ditelusuri pula dalam risalah kenabian, utusan dalam agama tauhid, di antaranya Nabi Daud, sebelum menjadi raja ia adalah gembala domba yang belajar memimpin umat. Nabi Musa, menggembalakan domba di padang gurun sebelum memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Jeng Nabi Muhammad Saw. pada masa kecil juga pernah menggembala kambing milik seorang Qurays.
Hal ini sebenarnya dapat diambil hikmahnya bahwa keberkahan hidup dapat diperoleh dengan belajar menggembalakan hewan yang akhirnya dapat menumbuhkan sifat kepemimpinan di antaranya mengendalikan masyarakat, mengayomi, bergaul, bersama-sama, mengatur, menertibkan, melindungi dan proses-proses kebaikan kepemimpinan yang lain. Dalam arti yang lain juga dapat dipahami bahwa mengembala itu adalah sebuah proses untuk menjadi pemimpin yang mumpuni dikemudian hari. Maka jika dahulu di Pesantren melaksanakan dengan ro’an, sebenarnya itu tidak hanya sekedar kerjasa bersama, menjaga kebersihan lingkungan tetapi distu sebuah proses pendadaran santri untuk menjadi pemimpin-pemimpin umat yang tangguh di masa depan. Ini dapat dipelajari dari tokoh-tokoh Pesantren di Nusantara mereka akan selalu melalui proses ro’an sebagai wadah menjadikannya pemimpin. Misalnya KH. Abdul Karim nyantri di Pesantren Kyai Kholil Bangkalan dan Kyai Hasyim di Tebuireng, Kyai Mahrus Ali Nyantri di Lirboyo, Kyai Thohir Wijaya nyantri di Termas dan Lirboyo, Gusdur Nyantri di Tegal Rejo dan Tambak Beras, KH Sahal Mahfudh nyantri di Bendo dan sebagainya. Semua kyai dan ulama Nusantara semuanya pernah ro’an di Pesantren tempat mereka menimba ilmu dan menempa diri. Nyantri di Pesantren sebagai proses menggembala yang menjadikan seseorang mempunyai sifat-sfat kepemimpinan yang dibutuhkan untuk ngopeni umat melanjutkan misi risalah kenabiyan.
Dalam Konteks Pesantren Al-Kamal Blitar ada beberapa kegiatan ro’an yang dlakukan oleh pengurus dan santri sebagai sarana menggembleng sikap kepemimpinan, di antaranya 1). Membersihkan lingkungan setiap hari oleh santri yang piket, 2). Membersihkan lingkungan seminggu sekali, yang biasanya hari jumat oleh semua santri, 3). Melaksanakan tugas-tugas kepengurusan untuk mengasuh santri, dari berbagai kegiatannya mulai Pendidikan, kebersihan, pemenuhan kebutuhan hidup, keamanan, kesehatan, kreasi santri, ibadah, ketrampilan, olahraga, beladeri, seni, kaligrafi dan sebagainya. Mulai dari tingkat kamar, asrama, pengurus pusat, pegurus Lembaga, pengasuh dan unit dan lain-lain 4). Melakukan ro’an berkaitan peringatan hari besar, 5). ro’an berkaitan dengan kerepotan ndalem pengasuh misalnya menyiapkan sarana pengajian dan kebutuhan-kebutuhan sehari-hari jika diperlukan, 6). Selalu berkomunikasi dengan wali santri terkait keperluan santri, 7). Berhubungan dengan stake holder Pesantren yang terkait. Misalnya dengan kepala dinas, kepolisian, TNI, perangkat desa, Kementrian Agama, organisasi keagamaan, organisasi sosial, pesantren sekitarnya dan lembaga-lembaga lain jika diperlukan.
Dari hal itu memaknai ro’an tidak sesederhana sebagaimana yang terlihat dalam penampilan yang bekerja bakti, gotong royong, menggembala ternak, mengelola persawahan, membersihkan ro’an pesantren, mencari kayu bakar di Perkebunan atau kegiatan sosial lain, tetapi makna di dalamnya Adalah ri’ayah li al’umat (merawat dan ngopeni masyarakat). Sebagaimana semboyan di Pesantren Al-Kamal Blitar “Qabilun li al-taujih wa musta’idun li al-ittijah“, siap untuk menerima arahan dan kepemimpinan, juga siap menjadi pemimpin yang mengambil kebijakan. Di Pesantren ini santri diarahkan untuk menjadi pribadi-pribadi yang terdidik melakukan ro’an, untuk menumbuhkan sikap kepemimpinan yang dibutuhkan ketika mereka pulang di rumahnya masing-masing. Maka program pesantren yang berkaitan dengan urusan ro’an disusun sedemikian rupa sebagai pendamping kerikulum wajib di madarasah diniyah, madrasah Al-Qur’an, madrasah formal, madrasah bahasa ataupun pengayaan dalam hal Ilmu pengetahuan dan teknologi Informasi.
Akhirnya dengan ro’an santri mendapatkan pendidikan ekstra untuk menjadi manusia yang bertanggung jawab, dapat bekerjasama secara sosial, amanah, adil, ramah, dan kecerdasan dalam berbagai dimensinya, mulai intelektual, sosial, emosional, spiritual. Inilah hakikat makna ro’an yang sesungguhnya yang jika ditelusuri memang mempunyai akar historis dari para Rasul, para ulama, kyai dan diturunkan kepada para santri sebagai kader-kader ulama di masa-masa yang akan datang. Juga makna ro’an sebagai sebuah proses pendidikan yang harus dijalani bagi santri, supaya tidak gagap untuk menjadi pemimpin di kemudian hari, karena telah melalui proses penggembalaan yang panjang dalam membina umat. Sebagai Penutup dawuh Ibn Hajr Asqalani dapat menjadi pegangan,”Para ulama dawuh, hikmah penggembalaan para Nabi Saw. adalah supaya tertanam dalam diri mereka sikap tawadhu’, kebersihan hati mereka dengan menyendiri, adanya peningkatan kemampuan dalam mengatur gembalaan yang kemudian dapat mengatur masyarakat atau umat dengan didasari hidayah (bimbingan) dan kasih sayang”. Wa Allahu A’lam.
Penulis : Prof. Dr. KH. Asmawi Mahfudz, M.Ag
(Pengajar di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Khadim PP Al-Kamal, PCNU Blitar dan Yayasan Baiturrahman Kediri)

Tags :

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *