Spirit Pengabdian: Ikhlas dan Rela Berkorban (Risalah Ngaji dan Ngabdi 196) Edisi 7 Harian alm. Prof. Dr. H. Maftukhin, M.Ag

Mengabdi atau ngawula kepada Allah Swt. di dunia ini oleh seorang hamba diekspresikan dalam berbagai bentuknya dengan didasari niayatan ikhlas beribadah kepada Allah. Hal ini dapat berupa dari salat, mengajarkan ilmu, membantu sesama, yang terpenting membawa kemanfaatan baik untuk dirinya atau orang lain. Hal yang sama juga dilakukan oleh para Rasul, para kyai, pejuang-pejuang agama Islam dalam menjalankan misi beribadah kepada Allah Swt. Dalam konteks ini salah satu tokoh pemikir muslim Indonesia adalah Prof. Maftukhin Rasmani. Tokoh ini layak disebut sebagai pejuang pendidikan karena legacy-nya, baik berupa pemikiran, para murid pergerakan, dan perjuangan transformasi kelembagaan di Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dan Universitas Islam Tribakti Lirboyo kediri. Tulisan ini hanya sekelumit perjalanan perjuangannya yang diikuti penulis mulai tahun 1994 sampai tahun 2026 (32 tahun), agar dapat diambil hikmahnya, terutama momentum ied al-qurban, yang memberikan spirit keimanan, keikhlasan dan pengorbanan dalam penghambaan (pengabdian) kepada Allah Swt. sebagaimana dilakukan oleh Pak Maftukhin.
Pada tahun 1994 pada pertemuan perdana perkuliahan materi pemikiran modern dalam Islam, di Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri, penulis ketemu seorang dosen pengampu yang berperawakan sedang, kulit kuning, potongan rambut poni sedikit panjang, ciri khas filosof, pemikir muda, aktivis pergerakan mahasiswa Islam Indonesia, penuh dengan semangat, performance seperti bintang film China Jacky Chan, yang saat itu sedang menyelesaikan tugas akhir studi S2 nya di IAIN Sunan Kalijogo Yogjakarta. Memberikan perkuliahan mahasiswa sarjana semester satu dengan paparan yang enak didengar, ada kebaruan dalam pemikiran Islam modern, kritis, juga diselingi dengan candaaan-candaan sehingga perkuliahan gayeng, interaktif dan membuat mahasiswa senang untuk di ajar olehnya. Metode pengajarannya menurut teman di Tribakti mirip dengan gurunya yang saat itu menjadi ketua Yayasan yaitu KH. Imam Yahya Mahrus dan Rektornya KH. Drs. Manshur Adnan. Transformasi pemikiran Islam yang dibawakan oleh Pak Maftukhin, memberikan pemahaman tentang peta pemikiran Islam di Kampus Tribakti saat itu, memberikan inspirasi kepada teman-teman mahasiswa untuk melanjutkan studi Islam ke level magister, karena studi pada level sarjana masih bersifat kepada teoritis-praktis, belum masuk kepada kajian-kajian kritis untuk perkembangan ilmu pengetahuan.
Prof. Maftukhin adalah kelahiran Pekalongan, sebuah kota pengusaha batik, enterpreneur, yang tentunya membawa warna karakter bagi dirinya untuk berjuang sebagaimana para pengusaha yang memperjuangkan usahanya dengan penuh totalitas, keikhlasan, tahan uji dalam kesulitan, qana’ah dengan keadaan, dan inovasi kreatif sebagai ekspresi kompetensi filsafatnya. Dengan watak perjuangan seperti itulah Pak Maftukhin dapat mengabdikan dirinya sebagai pengurus organisasi kemahasiswaan, organisasi keagamaan, sebagai guru madrasah diniyah, sebagai dosen, sebagai pejabat akademik, pimpinan perguruan tinggi.
Di sini penulis mungkin hanya akan memaparkan sesuai dengan ingatan memori penulis selama berinteraksi dengan Prof. Maftukhin, baik sebagai mahasiswa, sahabat juga keluarga. Yang di dalamnya ada pelajaran, hikmah, untuk dijadikan sebagai tauladan dalam meneruskan perjuangannya. Dimulai pada saat awal mengabdi di Univiersitas Tribakti, selain menjadi dosen muda, dia malamnya juga mengajar di Madrasah Diniyah untuk santri putri yang berasrama di dalam kampus, mulai setelah maghrib sampai jam 20.00 malam, dan selesai mengajar madin istirahatnya pun di kampus, di ruangan-ruangan seadanya, sebagaimana kehidupan santri yang tidur di mana saja akan terasa nikmat dan bisa istirahat. Ini memberikan pelajaran bahwa kehidupan akademik kampus dengan kompetensi filsafatnya yang kritis dan rasional, tetapi tetap hidup bersahaja, sederhana, dengan semangat perjuangan mengajarkan ilmu-ilmu Islam pesantren kepada para santri. Mencerminkan bahwa ada titik pertemuan antara ilmu-ilmu pesantren yang berpegang teguh kepada tradisi dan rasionalitas akademik dalam dirinya. Maka berbekal ilmu kepesantrenan yang diajarkan di madrasah diniyah dan ilmu -ilmu rasional kampus inilah sebenarnya yang membentuk karakter pemikirannya, yang inklusiv tetapi juga tetap menghargai tradisi, yang nantinya selalu dibawa kepada transformasi pemikiran dan kelembagaan di perguruan tinggi.
Berbekal inovasi pengabdian di kampus sebagai aktivis mahasiswa, dosen, pengajar madrasah diniyah, pada tahun 1995 Prof. Maftukhin menjadi Dekan Fakultas Tarbiyah. Sebagai pemikir dan pengabdi kampus di lingkungan Pesantren Lirboyo, Prof. Maftukhin dalam menjalankan program-program akademik, masih dalam bimbingan para kyai-kyai senior pimpinan Universitas dan Yayasan pengasuh Pesantren Lirboyo. Maka karena darah santrinya, nampaknya lebih dominan dibanding dengan filosofnya, ketika bergaul dengan para kyai dia akan selalu tawadhu’, patuh dan tidak berani membantah nasehat-nasehat dari kyai. Ini terbukti ketika Kyai Imam Yahya Mahrus saat itu menjadi Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI NU) Jawa Timur, salah satu yang membantu menjalankan programnya dari kampus Tribakti adalah Pak Maftukhin, tidak mengenal lelah melayani semua kebutuhan organisasi di bawah perintah Kyai Imam Yahya. Walaupun dia seorang pimpinan di kampus, setiap saat kyai membutuhkan dia selalu taat untuk menjalankan perintah, baik mengantarkan surat, membuat surat, menjadi sopir para kyai, nderekaken kunjungan KKN, membuka program studi baru, dan seabrek pekerjaan ekstra dijalani penuh dengan keikhlasan dan semangat perjuangan.
Pada tahun 1999 Pak Maftukhin berganti tugas menjadi ketua Pengelola Pascasarjana dan penulis sebagai sekretarisnya, yang saat itu masih bekerja sama dengan Universsitas Islam Malang. Sebagai pengelola Pascasarjana yang nota bene lembaga baru dan belum banyak perguruan tinggi mempunyai program ini, nampaknya dia berhasil membuat pondasi lembaga Pascasarjana. Misalnya menyusun kurikulumnya, menata manajemen, membuat jaringan dosen dari berbagai perguruan tinggi, rekrutmen mahasiswa baru dari berbagai kalangan akademisi dan praktisi. Dan pada tahun selanjutnya dia diangkat menjadi Dosen PNS di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Tulungagung. Kalau pagi masih mengabdi di Tribakti, agak siang berangkat ke Tulungagung, sore kembali ke Tribakti lagi sampai tengah malam baru pulang ke Prambon Nganjuk. Belum lagi kalau kebetulan ada jadwal menjadi narasumber kajian atau seminar di sekitar wilayah Kediri, maka pulangnya juga ke Kampus Tribakti.
      Seiring dengan berjalannya waktu, bertambahlah pengabdian Prof. Maftukhin baik di kampus atau di masyarakat, saat penulis sedang menjalani ujian tertutup Doktor, beliau menelpon minta pertimbangan untuk pencalonan sebagai Ketua STAIN Tulungagung, kemudian saya jawab, “gih maju mawon lek memang sudah menjadi taqdirnya, insyaallah jadi, tetapi kalau pun tidak jadi ketua dengan potensinya masih banyak yang masih dapat dikerjakan untuk mengabdi di lembaga-lembaga tercinta”. Dan saat ketemu di Tulungagung dia juga bicara, bahwa “kalau jadi ketua, dia akan mewakafkan dirinya untuk kepentingan memajukan kampus”. Dan nampaknya kata-katanya itu dibuktikan, ketika benar-benar menjadi Ketua STAIN Tulungagung. Sejauh pengetahuan penulis dia jarang pulang ke Nganjuk kalau tidak ada keperluan yang sangat penting, hari-harinya selalu dipergunakan untuk STAINTA, baik urusan rapat, kegiatan pengembangan, membangun jaringan ke Jakarta, menyelesaikan problematika harian kampus, mengajar, mendatangi undangan luar kota, dan yang paling sering adalah ke Jakarta dua kali seminggu, demi mensinkronkan program kampus sebagai satuan kerja dengan berbagai Kementrian di Jakarta.
Pada saat menjadi Ketua STAIN, Prof. Maftukhin berusaha memberdayakan semua elemen kampus dengan berbagai potensinya, baik potensi sumberdaya dosen, lingkungan sosial akademik yang santun, pemberdayaan mahasiswa, stake holder, jaringan, kurikulum akademik, pengembangan kelembagaan yang akhirnya membuahkan hasil pada tahun 2013 berubah menjadi IAIN Tulungagung dan dia yang ditunjuk oleh Menteri Agama menjadi Rektornya. Seiring perubahan status kelembagaan menjadi Institut, pengembangan kampus lebih luas lagi cakupannya. Misalnya jumlah mahasiswa meningkat, semua fakultas didorong untuk membuka berbagai macam prodi baru, rekrutmen SDM dosen pun juga berjalan secara konsisten, sarana prasarana juga selalu dibangun. Akhirnya semua pengelola kampus sepakat untuk meningkatkan dan mengembangkan status kelembagaan kampus lagi menjadi Universitas. Dengan nakhoda Rektor Maftukhin, komitmen bersama untuk mengembangkan Lembaga menjadi common sense elemen kampus. baik Senat Institut, pimpinan, mahasiswa, karyawan, alumni dan stake holder mempunyai keinginan untuk berkembang menjadi lebih baik. Sehingga semua program kampus baik yang sifatnya pendidikan, penelitian, dan pengabdian, semuanya diarahkan kepada cita-cita bersama untuk menjadi Universitas Islam Negeri. Dengan komitmen bersama itulah seolah masyarakat kampus bergerak secara serempak, baik siang, malam baik di kampus atau di rumah selalu memikirkan perjalanan program alih status dari IAIN menjadi UIN. Ketika bertemu sesama pengelola kampus, yang kemudian didiskusikan adalah perjalanan proposal pengajuan alih status sudah sampai di mana?. Karena alih status dari IAIN menjadi UIN membutuhkan kerja ekstra, koordinasi lintas kementrian, harus selalu menutupi kekurangan prasyarat menjadi UIN, juga harus menjaga stabilitas internal kampus yang istiqamah menjalankan program-program rutin tri dharma perguruan tingginya. Hal itulah yang selalu menjadi diskusi harian civitas akademika IAIN Tulungagung kala itu. Akhirnya perjuangan pak Rektor dan tim, transformasi IAIN menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (UIN SATU) berhasil berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2021, dan telah diresmikan oleh Menteri Agama RI.
       Momentum Ied-al qurban ini juga sinergis dengan apa yang dilakukan oleh al-marhum Prof. Maftukhin, bahwasanya Nabi Ibrahim dalam menjalankan dakwahnya didasari dengan keikhlasan, pemurnian ajaran tauhid dan pengorbanan secara totalitas dirinya dalam mengabdi kepada Allah Swt. Demikian juga Prof. Maftukhin dalam mengembangkan dakwah pendidikannya didasari dengan keikhlasan dan totalitas pengorbanan demi mengabdi kepada lembaga yang tercinta, keluarga, kepentingan pribadi, bahkan badannya sekalipun dikorbankan demi suksesnya dakwah pengembangan Lembaga Pendidikan Tinggi Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Wa Allahu A’lam!
*Penulis: Prof. Dr. KH. Asmawi Mahfudz, M. Ag (Pengajar di UIN SATU, Khadim PP Al Kamal Blitar, MUI Kab. Blitar, dan Yayasan Baiturrahman Kras Kediri)

Tags :

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *