Pesantren: Pendidikan Genuine Indonesia (Risalah Ngaji dan Ngabdi 199)

Di berbagai lembaga pendidikan di Indonesia saat ini lagi proses penerimaan siswa/santri dan mahasiswa baru, tak terkecuali lembaga Pondok Pesantren. Di media baik elektronik atau online, diungkapkan ajakan-ajakan semua insan muslim masuk dalam sistem pendidikan di bawah naungan pondok pesantren. Institusi yang menawarkan program pendidikan genuine keindonesiaan, yakni proses pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang relevan dengan konteks keindonesiaan. Mulai dari kurikulumnya, infrastrukturnya, para guru dan asatidhnya, sampai kepada tujuan pembelajarannya, hasil akhir dari pembelajaran yang dijalani di pesantren disesuaikan dengan konteks keindonesiaan.
Dari sisi kurikulum, pesantren menawarkan materi-materi pengajian yang menggabungkan aspek pendalaman keagamaan dan pembentukan karakter sebagai muslim Indonesia. Pendalaman agama yang dilaksanakan di pesantren meliputi ilmu ushuludin: pokok-pokok agama, tauhid. Yang di dalamnya mengurai tentang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan keimanan, baik menurut nash Al-Quran dan sunnah atau menurut logika para ahli tauhid. Di pesantren juga menawarkan ilmu alat, seperti ilmu nahwu , sharaf, ilmu manthiq, ilmu ushul fiqih, sejarah sebagai pengetahuan muslim dalam bidang kajian metodologi dan cara mendapatkan ilmu-ilmu keislaman. Tashawuf dan adab yang mengkaji tentang akhlaq yang harus dilakukan oleh seorang muslim atau yang harus dihindari menurut kacamata kepatutan, kepantasan baik dalam hal anggota dhahir atau anggota bathinnya. Ilmu Tafsir meliputi ulum al-Quran, asbab al-nuzul, Hadits dan ilmu Hadits dan penurunan ilmunya sebagai pengetahuan yang mengajarkan dasar pengetahuan yang asasi bahwa ilmu-ilmu keislaman diambil dari sumbernya Al-Quran dan al-Sunnah. Fiqih sebagai kurikulum pesantren mengajarkan norma-norma hukum yang mengatur kehidupan baik yang berhubungan dengan Allah, sesama manusia atau dengan makhluk lain. Dengan referensi yang diambil dari berbagai kitab kuning yang otoritatif dalam disiplin ilmu. Juga ilmu seni, baca tulis, budaya, ilmu-ilmu lain yang mendukung kepada pendalaman ilmu-ilmu keislaman.
Dari sisi fasilitas pesantren tempo dahulu dengan sekarang sudah ada perbedaan. Kalau tempo dulu, mungkin masa mesantrennya guru-guru sekarang, memang fasilitas pesantren dalam keadaan sederhana, atau bahkan sangat terbatas, yang penting ada tempat ibadah dan pondokkan kamar santri. Tetapi seiring dengan perkembangan pengelolaan pesantren, nampaknya pondok pesantren sekarang sudah menyesuaikan dengan tuntutan fasilitas pendidikan kekinian, yang tidak hanya langgar dan ghotakan, tetapi masjidnya bagus, kamarnya memadai, kamar mandi juga bagus, ruang belajar yang representative, para santri sudah memakai seragam yang cukup, pemenuhan kebutuhan santri juga terjamin, perpustakaan yang baik, lingkungan yang rapi, dilengkapi dengan CCTV, laboratorium dan infrastruktur lainnya yang dibutuhkan. Dari sisi infrastruktur, pesantren sudah bertransformasi menjadi lembaga pendidikan ideal untuk menuntut ilmu bagi seorang muslim yang menginginkan pendalaman agama dan mempraktikkannya.
Dari sisi sumber daya manusianya, di pesantren diajar oleh para kyai (ulama) dan para asatidh alumni-alumni pesantren. Tugas mereka tidak hanya menyampaikan pelajaran yang bersifat kognitif saja, tetapi juga memberikan contoh, mengawal para santrinya sehingga menghasilkan pembelajaran yang membiasakan. Misalnya suatu pesantren yang mempunyai kurikulum Bahasa Arab, di dalamnya tidak hanya disampaikan teori-teori bahasa dari berbagai kitab yang otoritatif, tetapi juga dituntun untuk dapat berbahasa Arab dari sisi menulisnya, melatih skill bertutur katanya, sampai kepada santri mempunyai kemampuan untuk menulis kitab dengan berbahasa Arab. Juga pesantren yang mengajarkan kitab tashawuf, para santri diajarkan kitab-kitab tashawuf, mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari sampai kepada para santri juga menjadi seorang shufi, mengajarkan tashawuf dan menjadi guru shufi. Bahkan dalam ajaran shufi semisal diajarkan tentang bab kewalian, para santripun sebagian juga berhasil mencapai derajat kekasih Allah berkat bimbingan guru shufi. Maka sebenarnya sumber daya pesantren sesuai dengan kurikulum yang diajarakannya, jika dilihat dari kacamata filsafat ilmu, para kyai mumpuni atau profesional dalam bidangnya, karena apa yang dilakukan oleh para kyai sudah melewati aspek ontologi teoritisnya, epistemologi metodologisnya dan dimensi aksiologis yang bernilai pribadi, lingkungan bahkan masyarakat secara umum.
Dilihat dari sisi sumber daya manusia pesantren kekinian dengan tuntutan perkembangan ilmu dan teknologi, juga sudah dilakukan adaptasi-adaptasi dalam rangka mempermudah tugas-tugas guru atau kyai dalam membimbing mengajar santri-santrinya. Misalnya perangkat-perangkat teknologi di lembaga pendidikan berbasis digital untuk pelayanan santri, pembelajaran santri, pelatihan santri, pengawasan santri. Hal ini disiapkan dalam rangka menopang atau fasilitas pendukung, bukan sebagai hal yang utama, yang paling utama adalah bimbingan belajar dan berperilaku dengan didampingi oleh para kyai dan asatidhnya. Maka hubungan antara guru dan santri dalam praktik pembelajaran pesantren tidak akan pernah terputus, baik santri masih di pesantren atau sudah pulang, baik hubungan yang sifatnya lahiriyah atau hubungan yang sifatnya bathiniyah, baik semasa masih hidup atau sudah wafat. Keduanya dengan kegiatan ilmiyahnya akan terus berhubungan bahkan sampai ke akhirat kelak. Sering disaksikan santri di Indonesia masih rajin ziyarah kubur ke makam-makam gurunya karena memang hubungan yang terbangun antara guru dan murid begitu kuatnya, diiringi dengan perasaan kasih sayang, kepatuhan, menghormati, dan mencintai. Seorang guru juga sebaliknya dalam dirinya sifat kasih sayang kepada murid-muridnya, kalaupun murid sudah pulang ke rumahnya masing-masing, guru juga rajin untuk bersilaturahim kepada santrinya dalam berbagai momentum. Misalnya dalam sebuah perjalanan shilaturahmi, santrinya menikah, santrinya syukuran, aqiqahan, mendirikan rumah, khataman al-Quran, khataman alfiyah Ibn Malik dan sebagainya.
Selanjutnya dari sisi tujuan pendidikan pesantren. Lembaga pendidikan Islam dalam menjalankan pendidikan pengajarannya bertujuan mendapatkan ridla Allah, menghilangkan kebodohan dan menebar kemanfaatan dan keberkahan baik untuk dirinya atau untuk masyarakat. Ini sudah terbukti dari alumni pesantren yang telah menampilkan dirinya dalam keluarganya, masyarakat dan bangsanya, selalu menebar kemanfaatan menampilkan diri sebagai orang yang berbakti kepada kedua orang tuanya dalam sebuah keluarga, mengajarakan ilmu di masyarakat dan berjuang untuk bangsa dan negaranya. Maka profil tamatan pesantren selalu akan menbentuk dirinya menjadi orang yang shalih dalam individunya dan shalih secara sosial. Sebagaimana dawuh Allah Swt.

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةًۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَࣖ

(Tidak sepatutnya orang-orang mukmin pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi (tinggal bersama Rasulullah) untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.
 Paparan di atas menjelaskan beberapa hal exelences pendidikan yang dijalankan di pesantren yang di dalamnya terdapat dinamika adaptable dengan kondisi kekinian, proses pengajaran yang dijalani secara otoritatif baik dari sisi guru dan sumber ilmunya, juga goal tujuan yang merupakan hasilnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Sehingga lembaga pesantren mengejawantahkan dirinya sebagai lembaga tafaquh fi al-din dalam arti luas, kaya akan nilai-nilai religious, nilai etik, dan nilai-nilai sosiologis dalam konteks keindonesiaan. Dari sini sudah menjadi kewajiban bersama bersama mensukseskan dan mendukung pesantren di Indonesia sebagai bentuk kontribusi positif menghasilkan generasi berbasis religious yang berwatak keindonesiaan.
* Penulis adalah Khadim PCNU, PP Terpadu al-Kamal Blitar Pengajar UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dan Yayasan Baiturahamn Kediri

Tags :

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *