Taqwa, Nafsu, dan Kebahagiaan (Risalah Ngaji dan Ngabdi edisi 208)

Taqwa dalam ajaran Islam merupakan sikap muslim yang berorientasi kepada keta’atan kepada syariat Allah Swt dan tuntunan Rasulullah Saw untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.  Sebagaimana diungkap dalam syiir kitab Kifayat al-Atqiya’;

تَقْوَى الْإِلَهِ مَدَارُ كُلِّ سَعَادَةٍ * وَتِبَاعُ أَهْوَا رَأْسُ شَرِّ حَبَائِلَا

(Ketakwaan kepada Allah adalah poros setiap kebahagiaan, dan mengikuti hawa nafsu adalah pokok keburukan tipuan setan). Tujuan mulia itu dalam setiap khutbah jumat, selalu digaungkan motivasi, perintah kepada para jamaah untuk menjadi orang-orang yang bertaqwa. Dengan bertaqwa seorang muslim akan mendapatkan keberuntungan, kebahagiaan yang abadi baik dunia dan akhirat. Maka dalam kehidupan sehari-hari seseorang harus aktualisasi diri dalam ketaqwaan, baik ketika lapang maupun dalam keadaan sempit, susah atau gembira, lagi miskin atau kaya. Sehingga dalam suasana apapun seorang hamba menjadi orang yang bertaqwa dalam hidupnya sampai mati dipanggil oleh Allah Swt. Dalam sebuah hadits dipaparkan oleh Rasulullah Saw. “ittaqillaha haytsuma kunta”, bertaqwallah kamu dimanapun kamu berada, dalam keadaan apapun”.

Tulisan ini review dari ngaji alumni Ahad Wage pada pertemuan yang ke 264, yang membahas tentang, taqwa sebagai dasar untuk mendapatkan kebahagiaan, sedangkan mengikuti hawa nafsu, akan terperangkap oleh syaitan supaya melakukan perbuatan-perbuatan buruk.  Islam sebagai agama memerintahkan kepada umatnya untuk patuh kepada aturan-aturan Allah, tuntunan Rasulullah dalam kehidupan sehari-harinya sehingga mereka akan memperoleh kebahagiaan. Kebahagiaan yang didapatkan oleh muslim dalam aktualisasi taqwa harus dimaknai dengan perspektif yang komprehensif, meliputi dimensi lahiriyahnya menjalankan syariat, akal fikirannya juga baik, dan hatinya juga tunduk.

Berhubungan dengan hal itu mengaji tentang falsafah taqwa, disajikan dalam beberapa syi’ir yang dikutip oleh pengarang kitab Syekh abu Bakr al-Makki, ”Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, maka akan mendatangkan perniagaan yang beruntung”, artinya ketaqwaan yang dilakukan seseorang akan membawanya menjadi orang yang beruntung, bukan menjadi orang-orang yang rugi. Hal ini didasarkan kepada ketaatan yang dilakukan seseorang berupa ibadah atau muamalah yang sesuai dengan dimensi syariat, maka akan disebut dengan kebaikan. Amal kebaikan inilah keuntungan yang akan didapatkan bagi pelakunya. Karena dengan melakukan kebaikan berarti dia berinvestasi untuk dirinya sendiri, baik dunia dan akhirat, dan balasan kebaikan akan dia terima kembali kepada dirinya. Semua yang berkaitan denagn amal kebaikannya, baik akalnya, badannya, hatinya semua bernilai kebaikan yang akan mendapatkan balasan baik di sisi manusia dan Allah Swt.

Juga diungkapkan “Barang siapa mengetahui Allah, terus ma’rifatullah itu tidak menjadikannya orang yang bertaqwa, maka dialah orang yang celaka”. Hal ini dapat dipahami bahwa seseorang berbuat itu berdasarkan kepada pengetahuannya, maka ketika seseorang telah mengetahui tentang Allah dan syariatnya seharusnya menjadikannya dia taat, dekat, dan melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak Allah. Semakin banyak pengetahuannya menjadikan seseorang semakin bertaqwa, semakin dekat kepada Allah. Maka pengetahuannya akan membawa ketaqwaan dan kebahagiaan untuk dirinya. Tetapi jika pengetahuannya tidak membuat dia bertaqwa, apa yang dia ketahui tidak selaras dengan apa yang dia lakukan, pada akhirnya dia menjadi orang yang merugi bahkan celaka, karena kenikmatan berupa ma’rifatullah tidak membuatnya bersyukur dan taat kepada Allah Swt.

Paparan syiir selanjutnya, “Apa yang diperbuat dan diperoleh seseorang dalam ketaatannya, maka tidaklah ada yang akan membahayakannya”. Melakukan amal dengan didasari ketaatan akan menghasilkan kebaikan dan kemanfatan bagi seorang hamba. Orang yang patuh kepada Allah pasti akan mendapatkan kebaikan dari apa yang dia lakukan. Apalagi memang aturan-aturan Allah diformulasikan bertujuan untuk kemanfaatan umat manusia dan makhluq Allah. Semakin tinggi persesuaian perilaku dengan syariat Allah akan semakin besar nilai kemanfatan yang akan dia peroleh. Juga perbuatan yang selaras dengan syariat akan berdimensi kepatuhan dan manusia akan terhindar dari kerusakan atau bahaya. Misalnya dalam hal syariat ibadah, muamalah, jinayah, munakahah, siyasah dan sebagainya, selalu dipedomani kaidah “jalb alnaf’I wa daf’u al-dlarar” menarik kebaikan dan menghindari kerusakan”.

Selanjutnya, “Apa yang akan diperbuat hamba dengan kekayaannya, kemuliaan hanya bagi orang-orang yang bertaqwa”. Dalam ajaran Islam mengukur kemulyaan adalah berdasarkan ketaqwaan, bukan berdasarkan materi kekayaan. Hal ini dimaksud bahwa kemulyaan manusia di sisi Allah atau manusia yang lain tergantung kepatuhannya kepada Allah dan amal baiknya kepada sesamanya. Manusia yang patuh kepada Allah dan selalu berbuat baik kepada sesama dialah orang yang mulia. Dari hal ini patut dibedakan tentang sudut pandang kebaikan menurut Islam. Kebaikan dan ketaqwaan diukur berdasarkan ketaatan kepada Allah dan bakti sosialnya kepada masyarakat. Sementara harus dihindari perspektif kebaikan hanya diukur dengan materi atau harta semata.  Harta atau materi dalam ajaran islam bukan ukuran sebuah kemulyaan, bahkan menjadi ujian bagi manusia dalam menggunakan hartanya, dapat disebut baik ketika digunakan untuk kebaikan, juga disebut buruk ketika penggunaannya tidak sesuai dengan syariat. Bahkan penggunaan harta yang tidak sesuai dengan syariat akan menjatuhkan dia kepada manusia yang rendah baik disisi Allah atau sesama manusia.

Dalam beberapa bayt siyiir itu dapat ditarik benang merah pokok fikiran berhubungan dengan taqwa. 1). Ketaqwaan akan membawa keberuntungan bagi seorang hamba, 2). Sebaliknya perilaku taqwa tidak akan menjatuhkan seseorang menjadi orang yang celaka dan merugi, 3. Ketaqwaan akan membuat seorang hamba mendapatkan kemanfaatan dan kebaikan, 4. Ukuran ketaqwaan tidak dapat diukur dengan harta, tetapi dengan ketaatan kepada Allah Swt.

Selanjutnya pengarang juga menjelaskan bahwa asal taqwa berasal dari mashdar “waqahu” yang berarti seseorang menahan sesuatu. Maka al-muttaqi, adalah orang yang dapat menahan dirinya dari hawa nafsunya. Ketaqwaan kepada Allah adalah muara dari semua kebahagiaan (al-sa’adah), maka semua yang dibangun atas dasar ketaqwaan tidak akan rusak dengan adanya perubahan zaman. Sebalikanya kerugiaan atau celaka (al-syaqawah) adalah kebalikan dari kebahagiaan. Kebahagiaan adalah pemberian Allah, petunjuknya, dan pertolongannya.

Ketika bertaqwa harus menahan hawa nafsu. “al-Hawa”, dalam pengertian syara’ adalah “maylu al-nafsi ila ma yukhalifu al-syar’a”, kecenderungan hati untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syara’. Berhubungan dengan itu hawa nafsu oleh syaitan dijadikan untuk menggoda, tipu daya dan perangkapnya untuk hamba Allah. Kalau seseorang mengikuti hawa nafsunya akan terjerumus dalam perangkap syaitan untuk melakukan perbuatan buruk dan tercela akhirnya akan menyebabkan kehancuran bagi dirinya. Jeng Nabi Saw Dawuh,

إن أخوف ما أخاف علي امتى اتباع الهوى وطول الأمل وأما اتباع الهوى فيصد عن الحق فأما طول الأمل فينسي الآخرة

(Sesuatu yang paling aku takutkan terjadi atas umatku adalah mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Mengikuti hawa nafsu akan menghalangi kebenaran dan panjang angan-angan akan melalaikan dia dari akhirat).

Penjelasan ini di dukung oleh cerita tentang dialektika Nabi Yahya dengan Iblis, suatu ketika Iblis terlihat di hadapan Nabi Yahya, dengan membawa rantai. Terus Yahya bertanya apa yang kamu bawa itu itu? Iblis menjawab, ini adalah syahwat yang selalu saya bawa untuk membelenggu bani Adam. Maka dapat diketahui bahwa kebahagiaan dan kebaikan hamba akan tercapai jika dapat menantang iblis dan nafsu. Sebagaimana dawuh Allah

وَاَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَ نَهَى النَّفۡسَ عَنِ الۡهَوٰىۙ‏

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya.

Akhirnya seorang hamba dengan kepatuhannya menjalankan syariat akan menjadi orang yang bertaqwa, yang dalam dunia tashawuf ketaqwaan melibatkan anggota dhahir, akal fikiran dan hati yang selalu harus dijaga, dengan cara menahan hawa nafsunya. Dengan begitu ketaqwaan dari sisi anggota badannya yang taat, fikirannya juga patuh, hatinya yang bersih. Inilah yang biasa disebut dengan “haqqa tuqatihi”, sebenarnya bertaqwa. Dengan tiga dimensi ketaqwaaan inilah seorang muslim akan mencapai kebahagiaan sejatinya dunia dan akhirat. Wa Allahu A’lam!

*Khadim PP Terpadu al-Kamal, PCNU Kab Blitar, Pengajar UIN Sayyid Ali Rahmatullah dan Yayasan Baiturrahman Kras Kediri

Tags :

Share This :

Comments (0)

Your email address will not be published. Required fields are marked *