Fiqih Satripreneur 7: Beberapa Hal Penting Dalam Urusan Rizki Risalah Ngaji dan Ngabdi Edisi 157

Di akhir pembahasan kitab Ta’lim Al-Mutaalim, dijelaskan tentang beberapa hal yang menjadi penyebab datangnya rizki. Kajian tentang ekonomi bagi ilmuwan adalah penting, supaya mereka dapat fokus dalam hal pembelajaran dan pengajaran ilmu, karena orang yang berilmu juga membutuhkan biaya untuk bertahan hidup, memenuhi kebutuhan keluarganya, juga kebutuhan untuk mensosialisaikan ilmu di tengah-tengah masyarakat. Tanpa kecukupan dari sisi ekonomi seorang ahli ilmu akan mengalami kesulitan untuk memperdalam ilmunya, mengembangkan atau mengadakan penelitian-penelitian ilmiyah. Taruhlah bagi seorang yang sedang mencari ilmu (santri) atau ahli ilmu (guru atau dosen), jikalau dalam kehidupan sehari-hari tidak mendapatkan penghasilan yang layak, dia pasti tidak konsentrasi dalam aktivitas ilmiyahnya. Karena di samping dia belajar juga diharuskan untuk memikirkan bekerja dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup, menyalakan dapur di rumahnya, yang bisa jadi tidak ada hubungannya dengan ilmu yang dia tekuni. Maka urusan ekonomi dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari bagi dirinya dan keluarganya adalah keniscayaan, tanpa adanya pemenuhan kebutuhan yang layak, sulit seseorang menghasilkan ilmu banyak dan berkualitas. Maka tidak heran kemudian dalam bait syiir, kunci sukses salah satunya adalah bekal hidup yang tercukupi (bulghatin).
Dalam sebuah Hadits diriwayatkan bahwa salah satu hal yang  dapat menghalangi seseorang mendapatkan rizki adalah melakukan dosa, “Fa inna al-rajula layuhramu al-rizqa bi al-dhanbi yushibuhu”. Hal ini mengisyarakatkan bahwa perbuatan dosa menjadi penyebab penghalang antara Allah dan manusia. Karena dengan melakukan dosa berarti dia dalam keadaaan kotor dalam dimensi bathiniyah, yang menjadi penghalang dia dengan Allah SWT. Sehingga upayanya untuk mendapatkan rizki tidak akan dikabulkan. Juga perbuatan dosa dapat disebabkan hubungan antara sesama manusia, misalnya berbohong. Dengan dia berbohong berarti sudah ada ketidak jujuran antara dia dengan saudaranya, yang pasti akan menggangu komunikasi antara satu orang dengan yang lain. dengan begitu kondisi objektif sudah tidak ada lagi dalam berinteraksi sosial. Dengan begitu apa yang dia lakukan penuh dengan kepura-puraan, basa-basi, yang akhirnya akan menggagunya dalam melaksanakan aktivitas ekonomi yang semestinya dapat dijalankan dengan bekerja keras. Dengan ketiadaan kesungguhan akhirnya tidak ada lagi yang dapat diharapkan dari hasil usaha yang dia lakukan.
Hal lain yang dapat menghalangi rizki Adalah tidur di waktu subuh atau kebiasaan banyak tidur. Mengingat yang namanya rizki itu harus diusahakan, tanpa ada usaha seorang hamba tidak akan mendapatkan harta yang diharapkan. Ini juga didasarkan kepada sunnatullah, bahwa pagi dan siang hari itu adalah waktu untuk berusaha dan bekerja, sedangkan waktu malam adalah saat untuk istirahat.  Maka umumnya seseorang itu kalau pagi dan siang pasti bertebaran di muka bumi untuk melakukan aktifitas usaha, sedangkan kalau malam mesti ngantuk,  anugrah dari Allah untuk istirahat. Ini adalah hukum umum yang sudah ditentukan oleh Allah  dalam pengaturan hambanya dalam hidup di dunia ini. Juga dikuatkan oleh dawuh jeng Nabi SAW
Nabi Muhammad SAW bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

Artinya: “Tidak ada satu subuh pun yang dialami hamba-hamba Allah kecuali turun kepada mereka dua malaikat. Salah satu di antara keduanya berdoa, ‘Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfaq’, sedangkan yang satunya lagi berdoa, ‘Ya Allah, berilah kerusakan bagi orang yang menahan hartanya’.” (Bukhari dan Muslim)
Beberapa hal lagi yang menghalangi rizki Adalah tidur dengan telanjang, kencing dengan telanjang, makan dalam keadaan junub, mengabaikan makanan yang jatuh (berceceran), membakar kulit bawang merah dan bawang putih, menyapu lantai dengan sapu tangan, menyapu lantai pada malam hari, membiarkan sampah di rumah, berjalan dihadapan orang-orang yang sudah tua, memanggil kedua orang tua dengan namanya, membersihkan gigi dengan kayu (benda keras), membersihkan tangan dengan tanah atau debu, duduk di depan pintu, atau salah satu daun pintu, berwudlu di tempat buang kotoran, menjahit baju saat dipakai, mengeringkan wajah dengan pakaian, membiarkan sarang laba-laba di dalam rumah, meremehkan shalat, terburu-buru keluar dari masjid waktu shalat  subuh, berangkat pagi-pagi ke pasar, lambat pulang dari pasar, membeli potongan roti dari fakir miskin yang meminta-minta, mendoakan jelek kepada anak, tidak menutup wadah, dan memadamkan lampu dengan meniupnya. Semua hal di atas adalah perkara-perkara yang menghlangi seorang mendapatkan rizki dari Allah.
Selanjutnya yang harus dihindari lagi bagi orang yang mencari rizki adalah menulis dengan pena yang diikat, menyisir dengan sisir yang patah atau pecah, tidak mau mendoakan kebaikan untuk kedua orang tua, memakai sorban sambil duduk, memakai celana sambil berdiri, kikir, ngirit, boros, berlebih-lebihan, malas-malasan, lamban dalam bergerak, sering mengabaikan atau meremehkan segala urusan. Nabi juga bersabda, “memohonlah turunnya rizki dengan bersedekah”. Bangun tidur lebih pagi juga merupakan kebaikan yang dapat menambah nikmat terutama dalam masalah rizki, menulis dengan bagus sebagai salah satu kunci rizki, menampilkan wajah yang ramah, bertutur kata yang lembut. Diceritakan juga dari Hasan bin Ali RA, menyapu halaman dan mencuci wadah dapat mendatangkan rizki.  Dari sekian perkara yang paling kuat menarik rizki menegakkan shalat dengan ta’dhim, khusyu’, menyempurnakan semua rukun, kewajiban, sunnah dan adab shalat.
Demikian juga shalat dhuha sudah terkenal dapat menarik rizki, membaca surat Waqi’ah terutama waktu malam saat orang-orang sedang tidur, membaca surat Al-Mulk, surat Al-Muzammil, surat wa al-layli idha yaghsya, surat alam nasyrah, datang ke masjid sebelum adzan, selalu dalam keadaan suci (thaharah), menunaikan shalat fajar dan shalat witir di rumah, dan setelah melaksanakan shalat witir tidak membicarakan urusan duniawi, tidak sering duduk bersama wanita kecuali ada hajat, tidak berbicara yang sia-sia, tidak bermanfaat bagi agama dan dunia.
Beberapa hal di atas adalah baru sebagian hal yang harus dilakukan dan dihindari dalam memperoleh rizki dari Allah. Tentunya ada yang sumbernya dari nash baik Al-Qur’an atau Hadits, atsar sahabat. Yang dalam hal ini relevan dalam kondisi keinian, ketika dunia santri selalu digoda, diganggu dalam masalah urusan ekonomi. Maka pendekatan yang harus dilakukan oleh seseorang juga  harus menyesuaikan, jika dia menginginkan di waktu-waktu yang akan datang  masih tetap eksis dalam melakukan perjuangan dalam dunia ilmu. Supaya ilmu yang dia punyai tetap mempunyai marwah dan martabat yang tinggi ketika ahli ilmu, ilmuwan juga tidak ketinggalam dalam hal ekonominya, pemenuhan kebutuhan lahir dan batinnya.
Bekerja dengan keras tanpa mengindahkan adab dalam bekerja juga tidak baik, hasilnya pun juga tidak sesuai dengan harapan. Berdoa saja kepada Allah juga belum cukup, karena Allah tatkala memberi juga melalui sebab dan musababnya. Tidak bisa bersifat tiba-tiba mendapatkan rizki hanya dengan berdoa saja, dua sisi dalam pemenuhan ekonomi harus dijalankan, yakni berdoa dan berusaha. Meninggalkan salah satunya dalam ajaran umat Muhammad juga tidak mungkin. Maka penggabungan natara sandaran kepada Allah dengan ikhtiyar yang harus dilakukan oleh semuanya. Wa Allahu A’lam.
*Penulis : Prof. Dr. KH. Asmawi Mahfudz, M. Ag. (Pengajar UIN Sayyid Ali Rahmatullah, Khadim PP Al-Kamal, PCNU Blitar & Yayasan Bayturahman Kediri)

Tags :

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *