Suluk dalam Lebaran (Risalah Ngaji dan Ngabdi 183)

Suluk dalam dunia tasawuf, terkhusus dalam thariqat Naqsyabandiyah biasa dilakukan oleh pengamal Shufi, termasuk thariqat Naqsyabandiyah di Nusantara. Di Pesantren-pesantren pasulukan thariqat ajaran suluk sudah menjadi agenda rutin bagi mursyid (guru) dan murid pengamalnya. Amaliyah suluk biasanya dengan cara kegiatan mengasingkan diri dalam waktu tertentu dengan melakukan uzlah atau khalwat yang bertujuan untuk membersihkan jiwa denagn cara dhikir, shalat berjamaah, mengikuti ajaran guru dan menghindari pantangan-pantangan yang dilarang. Dalam kitab Kifayat al-Atqiya, disebutkan laku suluk dengan menempuh beberapa hal penting yang harus dilalui, sehingga seorang salik (pelaku) mencapai tujuan sampai kepada Allah Swt. Syaikh Abi Bakar Syatha al-Dimyathi menjelaskan,

من رام درا في السفينة يركب # ويغوص بحرا ثم درا حصلا

(Barangsiapa yang berkehendak memperoleh Mutiara, maka dia harus harus naik perahu kemudian menyelam ke dasar lautan, kemudian mengambil mutiara itu). Kalau dimaknai maksudnya barangsiapa yang berkehendak untuk mencapai hakikat, maka dia harus menempuh jalan (syariat) dengan cara mengamalkan thariqat. Suluk yang dimaknai dari kitab ini bagi seorang salik harus melakoni tiga hal utama syariat, thariqat dan hakikat.
Berhubungan istilah lebaran sudah menjadi idiom umum bagi masyarakat Indonesia yang telah selesai melakukan pekerjaan tertentu puasa Ramadhan, maka istilah lebaran bisa berarti bebas, selesai, tuntas dari tanggungan. Seperti orang yang sudah selesai melaksanakan kewajiban puasa akan merayakan lebaran, karena telah rampung berpuasa selama sebulan penuh. Muslim yang telah selesai melakukan kewajiban shalat dia juga terbedas dari beban kewajiban, orang yang mempunyai hutang setelah mengembalikan hutangnya disebut terbebas dari tanggungan hutang. Istilah lebaran ini juga berhubungan dengan hukum Islam, dalam kaidah umumnya “al-ashl bara’at al-dhimmah”, pada dasarnya seseorang itu terbebas dari tanggungan, sampai ada dalil yang mewajibkannya. Juga dalam kaidah yang lain disebutkan, “idha fuila al-ma’mur bara’a ‘an uhdat al-amri”, Ketika suatu kewajiban telah dilaksanakan maka dia terbebas dari tuntutan perintah.  Untuk itu lebaran secara bahasa dapat dimaknai terbebas, selesai, tuntas. Dalam konteks keIndonesiaan lebaran selalu dihubungkan dengan selesainya melaksanakan puasa Ramadhan selama satu bulan penuh, setelah itu masyarakat merayakannya dengan berbagai kegiatan lanjutan ekspresi dari tuntasnya sebuah tanggungan. Memang lebaran dirayakan dengan gempita oleh Masyarakat muslim dunia secara keseluruhan dengan beberapa alasan, di antaranya sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Swt. yang telah melimpahkan anugerahnya dengan memberikan hidayah kepada orang yang beriman, sehingga mereka dapat menyelesaikan beban kewajiban yang tidak mudah, yaitu berpuasa selama satu bulan. Tanpa hidayah Allah mustahil seorang mukmin dapat menyelesaikan ibadah puasanya. Ini terbukti masih banyak Sebagian saudara muslim yang merasakan berat untuk berpuasa, padahal keadaannya tidak sedang udhur, sehat walafiyat. Maka perayaan hari raya yang kemudian disebut lebaran ini adalah suatu kewajaran yang manusiawi bagi seorang muslim telah mampu menyelesaiakan beban puasanya. Dasar kemampuan puasa seorang mukmin adalah hidayah dan harus disyukuri, dijelaskan oleh ayat al-Qur’an;

…وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

(Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur).
Ayat ini menjelaskan tetang seorang mukmin yang harus mengagungkan Allah atas hidayahnya (litukabbiru Allaha) dan supaya bersyukur. Maka filosofinya lebaran sesuai dengan dalil ayat itu adalah mengagungkan Allah dan bersyukur, yang implementasinya di tengah-tengah masyarakat banyak ragam ekpresi yang dilakukan, dan harapan bagi orang yang beribadah berpuasa Allah menerima ibadah puasanya dan menambah nikmatnya untuk seorang hamba. Dari paparan itu, lelaku thariqat di paparan pendahuluan dapat dianalogikan dalam tradisi idul Fitri yang diisi dengan berbagai kegiatan ibadah ritual dan sosial sebagai jalan yang ditempuh untuk mencapai derajat muttaqun, dalam hal ini kegiatan mengisi lebaran dalam rangka mengagungkan Allah Saw. Dengan berbagai syi’ar ajaran Islam dan mensyukuri nikmatnya dapat dikatagorikan suluk lebaran.
Muslim Indonesia dalam mengaktualisasikan lebaran dimulai dengan penetapan 1 syawal yang dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini adalah kementrian Agama Republik Indonesia dengan cara bermusyawarah bersama Lembaga-lembaga terkait. Mulai dari pejabat Kemenag, Dewan Perwakilan Rakyat, organisasi keagamaan dan kemasyarakatan, Badan Riset Nasional dan Lembaga terkait dengan astronomi. Langkah yang dilakukan oleh pemerintah sebenarnya sudah tepat dan sesuai dengan kewenangannya untuk mengatur urusan-urusan yang berhubungan dengan kemaslahatan orang banyak, sesuai dengan kaidah, “tasharuf al-imam ‘ala ra’yah manuthun bi al-maslahah”, kebijakan pemerintah atas rakyatnya didasarkan atas kemaslahatan. Maka sudah seharusnya bagi muslim Indonesia untuk mengikuti apa yang telah ditetapkan oleh pemerintah, apalagi dalam penetapan satu syawal pemerintah juga mengajak semua elemen-elemen masyarakat sebagai steakholdernya. Dalam hal penetapan 1 syawal ini seharusnya sudah selesai ketika pemerintah menetapkannya, sesuai dengan kaidah, “hukmu al-hakim yulzim wa yarfa’u al-khilaf”, ketetapan pemerintah itu harus dipatuhi dan menghilangkan perbedaan lagi. Tetapi mungkin pemerintah Indonesia begitu menjunjung kebebasan beragama, akhirnya kalaupun terjadi perbedaan pendapat tidak menjadi permasalahan, karena masyarakat Indonesia sudah terbiasa dengan pengalaman keberagamaan yang berbeda-beda, termasuk dalam penetapan 1 syawal dan perayaan lebaran idul fitri.
Setelah pemerintah menetapkan 1 Syawal, maka serentak seluruh umat Islam melaksanakan takbiran, mengagungkan Allah mulai dari terbenamnya matahari sampai dimulainya pelaksanaan shalat idul fitri. Sebagaimana dalil ayat al-Qur’an di atas yang memerintahkan untuk mengagungkan Allah, membuktikan bahwa puasa seorang berhasil sehingga dia dapat merasakan dan menyaksikan keagungan Allah Swt.  seraya membaca takbir, tahmid dan tahlil. Ibn Qasim al-Ghazi menyatakan;

 ويكبر ندبا كل من ذكر وأنثى  وحاضر ومسافر في المنازل والطرق والمساجد والأسواق، من غروب الشمس من ليلة العيد

اي عيد الفطر) الى ان يدخل الامام فى الصلاة

(Disunahkan takbir bagi laki-laki dan perempuan, mukim dan musafir, baik yang sedang di rumah, jalan, masjid, ataupun pasar. Dimulai dari terbenam matahari pada malam hari raya berlanjut sampai shalat Idul Fitri). Maka pelaksanaannya masyarakat melakukannya dengan gempita di berbagai tempat dan dengan berbagai cara. Ada yang takbir di masjid, mushala, dijalan-jalan dengan takbir keliling, di perempatan, dilapangan dan tempat-tempat umum lainya. Dalam rangka mengisi kesunahan takbir dan menyatakan keagungan Allah Swt.
Pada pagi harinya masyarakat muslim terasa kompak menuju tempat shalatnya masing-masing, mulai di lapangan, masjid, mushola dan lain-lain menjalankan shalat ied berjamaah dan mendengarkan khutbah ied secara khitmat. Ini menunjukkan bahwa muslim Nusantara memperlihatkan syiar agamanya dalam pelaksanaan shalat id. Memang dalam shalat id terdapat hikmat syiar agama islam, kebenaran agama tauhid. Berangkat dari sini untuk memperluas syiarnya, Masyarakat dianjurkan untuk mengambil rute yang berbeda antara berangkat dan pulangnya.
Syiar Islam bertambah kentara Ketika Masyarakat rata-rata memakai baju baru pada hari itu. Memang baju baru bukanlah esensi idul fitri, tetapi baju baru cermin kebaruan kebersihan, kesucian jiwa seseorang setelah sukses melkasanakan puasa selama sebulan penuh, akhirnya mereka bersih secara lahir dan bathin. Maka hari rayanya disebut dengan idul fitri kembali kepada  kesucian dirinya. Memang seorang hamba Allah para awalnya adalah suci tanpa dosa, setelah menjalani hiruk pikuk kehidupan duniawinya, banyak dosa yang telah dia lakukan, baik disengaja atau tidak. Maka berpuasa dapat melebur dosanya baik dosa yang berhubungan dengan Allah dengan cara bertaubat dan dosa kepada sesame manusia dengan cara bermaafan dan shilaturahim. Maka setelah idul Fitri manusia terasa sebagai orang yang bersih dan suci tanpa dosa baik dengan Allah maupun dengan sesama. Bersambung
*Pengajar UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Khadim PP al-Kamal Blitar, PCNU Blitar dan Yayasan Baiturrahman Kediri

Tags :

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *