Puasa & Lebaran dalam Teori Sufi Takhali, Tahali, Dan Tajali (Risalah Ngaji dan Ngabdi 182)

Pada masa Ramadhan muslim seluruh dunia telah menempuh jalan spiritual untuk membangun hubungan dengan Allah dengan berbagai bentuk ibadah, Seperti tadarus Al-Qur’an dengan berulang-ulang khataman, memperbanyak shalat sunnah baik siang atau malam, berpuasa di siang hari, melaksanakan shalat tarweh berjamaah, mengaji kitab kuning, pengajian umum, kultum, i’tikaf di masjid, dhikir kepada Allah, membaca shalawat atas Nabi Saw., shalat tahajud, dan pembinaan rohani untuk masyarakat dan pribadi-pribadi muslim. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari pelatihan, penguatan rohani seseorang, sehingga selama Ramadhan seorang muslim akan mendapatkan pengalaman rohani yang kuat dan mantap yang tidak didapatkan di luar ramadhan. Dalam perspektif teori Sufi mungkin dapat dihubungkan dengan teori Takhali (KHA), Teori Tahali (HA) dan Teori Tajali (Jim).
            Takhali adalah membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela, mengosongkan dari perbuatan dosa dari kehidupan seseorang. Orang yang menempuh jalan ini akan bertaubat dari perbuatan dosa yang dilarang oleh syariat. Misalnya tidak berbohong, tidak berkhianat, tidak mengambil yang bukan haknya, tidak meninggalkan shalat, tidak berkata kotor, tidak menyakiti orang lain, tidak melakukan adu domba, tidak bersumpah palsu, tidak sombong, tidak riya’, tidak sum’ah, tidak menghina, tidak merendahkan orang lain, tidak melihat kepada yang syahwat, tidak mendengatkan sesuatu yang dilarang, tidak mengkonsumsi barang haram. Maknanya semua yang dilarang oleh adat, syariat Islam semua ditinggalkan, baik menyangkut perkataan, perbuatan atau hati manusia. hal-hal dimaksud semua telah dihindari oleh orang-orang yang berpuasa (shaimin), sehingga dengan puasa sebenarnya seseorang telah menempuh jalan spiritual sufi untuk tingkatan takhali. Praktik orang yang berpuasa dengan menempuh jalan takhali, puasanya dihitung sah secara syar’ dan akan meningkat kualitasnya karena dia berupaya menghindari hal-hal yang tidak hanya dilarang secara lahir tetapi juga menghindarinya dari dimensi inderawi sampai kepada bathinnya berhenti atau kosong dari hal-hal yang tercela. Memang usaha manusia untuk biasa menghindari perbuatan tercela yang dilarang oleh adat dan agama adalah dengan menahan diri, dan yang paling memungkinkan bagi dirinya untuk menahan diri adalah dengan jalan puasa. Maka puasa dapat menjadi jalan bagi seorang sufi untuk menempuh tahapan takhali untuk dirinya, sehingga setelah berhasil akan berlanjut kepada menempuh tahapan selanjutnya, yaitu tahali.
            Tahali adalah mengisi dan menghiasi diri dengan perbuatan (sifat-sifat) terpuji. Setelah dia berhasil meninggalkan perbuatan tercela yang dilakukan oleh seseorang adalah sifat-sifat yang baik, yang dianjurkan dalam tradisi sufi. Misalnya melakukan sesuatu dengan Ikhlas hanya kepada Allah, kerendahan hati (tawadhu’), ketenangan (thuma’ninah), istiqamah (keajegan), mawas diri (muraqabah), taubat (istighfar), dermawan (al-sakhiy), tawakal (kepasrahan), selalu berkata baik, jujur (al-sidqu), amanah (bisa dipercaya) dan sifat baik lainnya selalu menghiasi perbuatan dan hatinya. Dalam diri seorang yang berpuasa kemarin dapat diamati bahwa dia telah mengisi perbuatan nya dan hatinya dengan sifat-sifat baik (mahmudah). Refleksi penghiasan diri dengan sifat-sifat baik dapat dilihat bagi mereka yang berpuasa, banyak diamnya, bicara hanya jika diperlukan, selalu memberi kepada yang lain, timbulnya ketenangan jiwa, keajegan berpuasa dalam satu bulan, yang didengar juga hanya sesuatu yang baik, hatinya selalu bersambung kepada Allah Swt. karena selalu dhikir, bersikap kasih sayang kepada sesama, tidak pernah marah-marah, dan sikap baik lainnya selalu menghiasi diri oleh orang-orang yang berpuasa.
            Dalam hal penghentian sifat buruk kemudian dihiasi dengan sifat baik, seorang berarti telah melakukan revolusi dalam dirinya dengan jalan berpuasa. Seandainya tidak ada ajaran berpuasa belum tentu manusia akan dapat menghentikan perbuatan buruknya kemudian diganti dengan perbuatan baik. Maka konsep ajaran puasa patut disyukuri oleh semua umat manusia tanpa kecuali siapapun orangnya, ternyata yang dapat merubah dirinya menjadi orang baik adalah syariat puasa, walaupun sebenarnya pada awal pelaksanannya harus dipaksa oleh syariat dengan hukum wajib. Seandainya puasa ramadhan ini tidak diwajibkan mungkin saja manusia ini tidak melakukannya, sebagaimana orang-orang awam yang tidak menjalankan ajaran tanpa harus dipaksa dahulu. Tetapi seiring dengan pembiasaan menempuh jalan kebaikan, akhirnya menjadi kebiasaan baik dan sifat-sifat baik tertanam dalam diri seseorang.
            Tahap selanjutnya setelah seseorang dapat menempuh jalan kebaikan untuk dirinya sendiri, dia akan dapat menyaksikan terbukanya kebenaran ajaran dan keagungan Allah Swt. (tajali). Sifat-sifat mulia (mahmudah) yang ada dalam diri manusia didialektikakan dalam kehidupan nyata seseorang. Seorang yang berperilaku dan sifat baik layaknya sifat-sifat Allah ada dalam kehidupannya dan lingkungannya. Misalnya perkataannya benar, janjinya dapat ditepati, tanganya selalu memberi, perutnya tidak pernah serakah, selalu kasih sayang, perbuatannya selalu menebar kemanfaatan, tegas terhadap kemungkaran dan sifat-sifat baik lainnya sebagai refleksi sifat Allah di muka bumi.
            Maka dalam tahapan seperti ini posisi seseorang sudah tidak ada lagi sekatnya  dengan Allah maupun dengan sesama manusia. Posisinya dengan Allah sudah sedemikian dekatnya sehingga semua kehendaknya, permohonannya kepada Allah juga akan terjadi. Hubungan dengan sesama juga dekat untuk selalu menebar Rahmat Allah di muka bumi untuk semua makhluqnya. Tidak ada lagi perbedaan antara muslim dan non muslim, hewan, tumbuhan, batu, pasir, dan makhluq lain di alam ini semuanya mendapatkan kasih sayang dan rahmatnya.
Maka di hari raya ini mari menebar rahmat dan kasih sayang untuk semua makhluq Allah, di muka bumi ini, sebagai refleksi kesuksesan puasa mencapai derajat tertinggi yaitu al-muttaqun, dalam dalam konsep Sufi dia telah menempuh tahapan takhali, tahali dan tajali. Tidak ada lagi kejahatan, kebohongan, penipuan, kata-kata kotor, merendahkan yang lain, yang ada adalah keindahan, kenyamanan, yang ditampilkan sebagai sesama hamba Allah yang dekat kepadanya. Dapat dicontohkan ketika mendekati hari raya, ibu-ibu belanja baju baru, sarung baru, kopyah baru uuntuk dipakai keluarganya di hari raya. Saat itu dia sudah tidak lagi menanyakan apakah penjual baju, sarung, kopyah beragama muslim atau tidak?, Ketika ibu-ibu mau membeli kue sajian lebaran juga sama, tidak pernah mempermasalahkan penjual itu muslim atau bukan, Ketika saudara-saudara muslim memakai pakaian baru berupa baju koko atau taqwa, sajadah, sarung, kompyah, kaos dalam, celana dalam semua sangat mungkin adalah produksi non muslim. Hal-hal demikianlah tiada sekat akidah, kesukuan, aliran, madhab, senyampang saling bisa membantu, saling tolong menolong, saling tukar kebutuhan, adalah sebuah keindahan dan kenikmatan yang harus terus dipupuk oleh sesama manusia. Sampai akhirnya nanti manusia akan masuk surga atau neraka sesuai dengan jalannya masing-masing, tanpa harus rebut dengan priovasi orang lain. Equality, kesetaraan semacam ini dapat dilaksanakan oleh muslim-muslim yang sudah melewati takhali, tahali, dan tajali. Dia sudah tidak membedakan lagi atribut atau aliran tertentu, yang ada semuanya adalah makhluq Allah yang harus disayangi dan dihargai. Wa Allahu A’lamu!
*Penulis: Prof.Dr.KH. Asmawi Mahfudz, M.Ag (Pengajar UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Khadim PP Al-Kamal, PCNU Kab. Blitar, dan Yayasan Baiturrahman Kras, Kediri)

Tags :

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *