Pondok Pesantren Al-Kamal Blitar Mengabdi & Inovasi (Risalah Ngaji dan Ngabdi 202 edisi Harlah 87)

Judul tulisan itu diilhami oleh semangat adanya maqalah Arab, “al-muhafadhah ala qadim al-shalih wa al-akhdlu bi al-jadid al-ashlah, menjaga tradisi yang relevan dan mengambil, berkreasi dengan kebaruan yang lebih baik. Ini sesuai dengan momentum penting di bulan ini bagi Pesantren  Al-Kamal Blitar yakni telah selesainya masa penerimaan santri baru dan menapaki usia yang ke 87 tahun. Bagi keluarga besar Pesantren Al-Kamal saatnya terus muhasabah, evaluasi demi keistiqamahan yang terus dipegangi dalam mengabdi kepada masyarakat dalam konteks ke-Indonesia-an. Mensyukuri nikmat atas anugerah yang melimpah yang dianugerahkan Allah kepada lembaga kharismatis Nusantara yakni pondok pesantren. Betapa besarnya jasa-jasa para pendahulu yang telah menanamkan sendi-sendi kelembagaan sehingga masyarakat di sekitarnya dapat menerima Ilmu pengetahuan, dapat mengamalkan ilmunya, banyak yang dapat mengabdikan dirinya di lembaga ini, banyak masyarakat yang mendapat keberkahan dengan adanya Pesantren Al-Kamal Kunir Blitar.
Dengan telah selesainya penerimaan santri baru, telah membuktikan bahwa semua Lembaga di lingkungan Pesantren Al-Kamal Blitar, masih mendapatkan tempat di hati Masyarakat, dari berbagai wilayah Nusantara, semua lembaga terisi dengan jumlah santri yang relatif menggembirakan, mulai Madrasah Ibtidaiyah (MI) 100 santri lebih, Madrasah Tsanawiyah (MTs) 400-an, Madrasah Aliyah (MA) 400 an, Sekolah Menegah Pertama (SMP) 100-an, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 100 lebih, Pendidikan Anak Usian Dini atau KB sekitar 50-an, Taman Kanak-Kanak 70-an, yang mayoritas berafiliasi dengan Pesantren Al-Kamal Kunir Wonodadi Blitar dengan mengikuti madrasah Diniyah mulai dari Ula, Wustha, Ulya dan Ma’had Aly. Belum lagi Program Majlis Muratil Al-Qur’an (MMQ), Lembaga Pengembangan Bahasa Asing, Program Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (panti asuhan), Kelompok Bimbingan Ibadah haji (KBIH), Majlis Tafsir dan Lembaga-lembaga lainnya. Dilihat dari sisi kelembagaannya di Al-Kamal terdapat sekitar ada 17 lembaga dengan variasi program yang beragam, sehingga dalam menjalankan program khidmah, pengabdian dapat melayani masyarakat dari berbagai dimensi kebutuhannya. Mulai ibadah, pendidikan, alumni, ekonomi, budaya, sosial, pemberdayaan, kemanusiaan, gender, ritual thariqah, pertanian, perdagangan, dengan jumlah umat yang menerima manfaatnya sejak berdiri sampai sekarang puluhan ribu atau bahkan jutaan tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Maka secara subyektif dapat dikatakan Pondok Pesantren Al-Kamal Kunir Blitar telah menjadi Lembaga besar seluas manfaat yang telah didistribusikan kepada Masyarakat. Sesuai dawuh jeng Nabi Saw, “khayru al-nas anfau’uhum li al-nas”, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia yang lain.
Kebesaran Pondok Pesantren Al-Kamal ini patut disyukuri,  sebagai amanah bagi semua umat yang saat ini menjadi pengelolaannya, pertanyaan awalnya sudahkah pemegang amanah ini telah menggembirakan para sesepuh, yang telah menanamkan dasar-dasar dakwah kelembagaan? Pada awal berdirinya 1939 M, Kyai Manshur dan masyarakat, ketika mempunyai niatan mendirikan masjid sebagai sarana ibadah, mensyiarkan ajaran Islam, membimbing masyarakat menjadi muslim yang taat. Mbah Kyai Thohir Wijaya ketika mendirikan madrasah tentunya ingin menyampaikan Islam dengan cara yang lebih modern sesuai dengan kemajuan abad 20, mbah Kyai Thohib dengan partisipasi di masyarakatnya juga melakukan pemberdayaan lingkugan sekitar, yang kemudian diteruskan oleh mbah Kyai Zen Masrur dan Kyai Mahmud Hamzah yang secara terus menerus mengembangkan Lembaga-lembaga dari aspek pendidikan, kepesantrenan dan sosial sampai masa sekarang Pesantren Al-Kamal telah berkembang, berinovasi, berdiri kokoh, sebagai miniatur peradaban Islam Nusantara (Islamic Civilization).
Dari kacamata sejarah, sebagaimana dijelaskan dalam teorinya perjalanan hidup itu selalu mengalami dinamika dalam ketiga tahapan, Genuine: peletak dasar dengan keasliannya, kemurniannya, keikhlasannya yang otentik. Change, adanya perubahan-perubahan menjawab dinamika zaman. Developt, tumbuh berkembang, beranak pinak menjadi sebuah entitas yang matang, dewasa dan mapan dalam eksistensinya. Analoginya adalah manusia yang mulai bayi dan anak-anak yang jujur secara fisik juga belum kuat, kemudian tumbuh adanya perubahan ketika menginjak remaja dan pemuda, setelah dewasa atau tua dia akan menjadi pribadi yang kuat secara fisik, luas dalam wawasan, dan mandiri dalam perbuatan. Pasca siklus ini kemudian akan kembali lagi menjadi masa awal lagi yang mengalami kemunduran, keterbatasan dalam segala hal, bahkan kadang untuk berdiri sendiri saja tidak mampu jika dia terlalu tua.
Untuk membaca Pondok Pesantren Al-Kamal dalam kacamata Sejarah, tentunya para pengelola dapat  mengukurnya dalam Lembaga masing-masing, mulai dari masa originalitas ditanamkannya sebuah Lembaga, masa-masa pertumbuhan dan perubahan sampai kepada masa pengembangan menjadi sebuah lembaga besar yang memberikan kemanfaatan bagi semua elemen masyarakat pada umumnya. Yang menjadi hal penting dalam pembacaan ini adalah kontinuitas keberlanjutan, keberlangsungan ide, fikiran, aksi, gerakan, dakwah dari sebuah lembaga supaya tetap hidup, menebar bermanfaat, bergerak dalam setiap fasenya bergerak menuju masa depan yang lebih baik (visioner). Supaya problematika yang dihadapi akan menemukan jawabannya sesuai dengan konteks zamannya masing-masing. Misalnya tantangan mengelola lembaga apa pun, akan selalu dihadapkan kepada berbagai problem, yang tidak cukup hanya dipikir, dianalisa, tetapi harus bergerak secara dinamis menyelesaikannya walaupun hasil dari gerakan solusi belum tentu sesuai dengan yang diharapkan semua insan yang ada di dalamnya.
Lebih konkrit dalam dinamika Pendidikan Pondok Pesantren Al-Kamal, yang di dalamnya mulai dari tingkatan Ula, Wustha, Ulya, Ma’had Aly. Secara ideal Ula untuk tingkatan dasar, wustha untuk tingkatan menengah dan ulya atau Ma’had Aly untuk tingkatan tertinggi. Melihat kenyataannya di Lembaga Pendidikan Pesantren yang Terpadu sebagaimana Al-Kamal dengan kombinasi sekolah formal mulai TK sampai perguruan Tinggi dengan Madrasah Diniyah (Madin), tidak mesti bisa dijalankan sesuai dengan harapan, mengingat input santri antara kualifikasi dasar, menengah, tinggi tidak seragam sama, sebagaimana sekolah formalnya. Kalau dijalankan sesuai kurikulum di formal maka santri itu akan tetap tidak dapat memahami pelajaran madrasah diniyahnya, kalaupun faham dia harus mengejar ketertinggalan dalam kajian-kajian kitab kuningnya (yellow book). Tetapi kalau mengikuti kurikulum madinnya, para santri akan mengalami beban psikologis dalam melaksanakan program-program pengajian, yang dikhawatirkan akan mengalami ketidak nyamanan selama di Pesantren. Hal inilah pilihan-pilihan bagi pesantren yang menjalankan double duty (kurikulum ganda) bagi santrinya, dengan niatan baik dapat memperolih dua kemampuan keilmuan yang terintegrasi, tetapi kalau tidak konsisten maka hasilnya bagi santri dan pesantren menjadi tidak maksimal.
Contoh lain adalah era kekinian dengan semangat keterbukaan dalam segala hal, membuat pesantren dalam menjalankan pendidikannya tidak dapat sendirian, tetapi juga harus melibatkan semua elemen yang berkompeten untuk bersama-sama mengelola pesantren dan Lembaga-lembaga yang ada didalamnya. Mulai dari guru yang beragam disiplin ilmu, aspek pelayanan yang professional, jaringan pesantren, pendanaan yang tersedia, yang kemudian disebut dengan steak holder. Maka dengan keterbukaan ini bisa jadi menambah kuatnya pesantren secara kelembagaan, tetapi juga melemahkan pesantren dari sisi kurikulum yang dikembangkan, berakibat output pesantren tidak sesuai dengan kebesaran lembaganya.  Dan saat ini mungkin dapat dirasakan oleh pimpinan Pesantren, dengan jumlah penerimaan santri begitu besarnya, tetapi hasil tamatannya tidak mencerminkan dari kurikulum yang dijalankan. Inilah yang menjadi catatan bersama yang harus segera dijawab dengan berbagai inovasi.
 Memang di satu sisi Pesantren adalah potensi bagi pendalaman ilmu-ilmu keislaman (tafaquh fi al-din), tetapi menjaga secara konsisten misi mulia ini juga harus disiapkan jawabannya, tidak cukup hanya dengan ide, konsepsi teoritis, dibutuhkan gerakan-gerakan dari internal pesantren untuk berinovasi supaya tamatan-tamatan yang ada sesuai dengan cita-cita mulia para pendirinya, kyainya, yakni menebarkan ilmu, kemanfaatan di tengah-tengah masyarakat, dan kalaupun masyarakat yang mengitarinya tidak membutuhkan dia bisa hijrah (migration), pindah ke wilayah-wilayah yang masih kering dalam pengajaran Islam sebagaimana pesantren jalankan. Semangat perjuangan Rasulullah, para sahabat dan kyai-kyai pesantren harus menjadi patokan dalam menjalankan perjuangan santri di daerahnya masing-masing, keikhlasan, inovasi dan berkarya tiada henti, walaupun tantangan dan problematika tidak pernah berhenti, dalam bahasa Islam “amar ma’ruf” menjadi jawaban atas kemungkaran yang ada di muka bumi. Selamat Harlah ke 87 untuk pondok Pesantren Al-Kamal Kunir Wonoadi Blitar, semoga terus menebar manfaat dan keberkahan untuk kemanusiaan dan peradaban. Wa Allahu A’lam bi al-Shawab!           
*Penulis : Prof. Dr. KH. Asmawi Mahfudz, M.Ag. (Khadim PP Terpadu Al-Kamal Blitar, PCNU, Yayasan Baiturrahman Kras Kediri  dan UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung)

Tags :

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *