Santri Al Kamal Mahir Baca Al-Qur’an, Kitab Kuning, Serta Puisi 3 Bahasa

Alkamalblitar.com- “Jurumiyah adalah  pondasi untuk bisa membaca kitab kuning, kalau kita bisa memahami Jurumiyah kelak akan mudah memahami ilmu Nahwu di level-level selanjutnya” Ujar ust. Misbahul Khoironi selaku salah satu juri perlombaan Musabaqah Qiroatul Kutub (MQK) yang diselenggarakan pada hari ke-3 PORSA, Selasa, 09 Desember 2025 di Aula Hidayati Mahmud. Dalam waktu yang sama, 2 perlombaan lainnya juga sedang berlangsung di tempat yang berbeda. Perlombaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) yang berlangsung di GOR Al-Kamal dan perlombaan puisi 3 bahasa yang berlangsung di Aula Al-manshur.
Perlombaan MQK ini diikuti oleh  9 qobilah, dimana dari setiap qobilah mengeluarkan 2 delegasi yang terdiri dari jenjang Wustho dan Ulya. Kajian maqro’ yang digunakan adalah kitab Mabadi Fikih juz 4 bab Puasa sampai dengan  bab Haji untuk jenjang Wustho dan kitab Fathul Qorib bab Sholat untuk jenjang Ulya. Dilihat dari antusiasme peserta yang ikut perlombaan MQK ini, mereka berlomba-lomba menyaipkan diri mereka sebaik mungkin untuk tampil didepan nantinya. Terdapat 2 juri dalam perlombaan MQK ini, yakni Ust. Misbahul Khoironi dan Ust. Rafi Royan.
Musabaqah Tilawatil  Qur’an (MTQ) adalah perlombaan seni membaca Al-Qur’an lantunan ayat Al-Qur’an yang mendayu-dayu, mendamaikan perasaan setiap orang yang mendengarnya. Perlombaan ini sama seperti lomba MQK yang dimana dari sembilan 9  qobilah mengeluarkan 2 delegasi yang masing-masing terdiri dari jenjang Wustho dan Ulya bertotalkan 18 peserta yang mengikutinya. Setiap peserta memulai perlombaannya dengan bacaan basmallah yang kemuadian dilanjut ke bacaan Al-Qur’an yang dibawakan, yang dimana setiap lantunan ayatnya dapat menyejukkan hari pendengarnya. Dalam perlombaan ini, kita sebagai seorang santri dapat kompeten yang tinggi dalam seni membaca Al-Qur’an, dan yang  lebih utama lagi bagaimana cara kita membaca menurut tajwid dengan benar. Terdapat 3 juri dalam perlombaan ini, yakni Ustadzah Ayu Karmia,  Ust. Fathun Ni’am dan Ustadzah Rahma Suhela.
Sedangkan perlombaan puisi 3 bahasa juga sedang berlangsung. Perlombaan ini di ikuti 27 peserta yang dari setiap qobilah mengeluarkan 3 delegasi yang terdiri dari puisi bahasa Indonesia, bahasa Arab dan bahasa Inggris.  Sudah dapat diukur seberapa antusiasme para peserta dalam berpartisipasi mengikuti lomba ini dilihat dari setiap kekreatifisan peserta dalam mengenakan kostum yang sesuai dengan tema puisi yang mereka bawa. Perlombaan ini dijurii oleh Akhi Adib Khoirul, Ustadzah Yosi Sya’baniyah, Ustadzah Anggun Ludviani. Dari perlombaan puisi ini kita dapat belajar cara berekspresi dalam menghadapi sesuatu. Dari komentar yang disampaikan oleh Akhi Adib selaku salah satu juri perlombaan puisi 3 bahasa ini adalah menghimbau kepada para peserta agar lebih untuk sering latihan lagi karena perlombaan puisi 3 bahasa ini adalah perlombaan deklamasi puisi bukan perlombaan membaca puisi. Dan untuk para peserta jangan membaca puisi dengan intonasi cepat agar saat berpuisi  dapat mengahayati ekspresi yang dibuat. (ciks.red)

Tags :

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *