Keberkahan Pesantren Al-Kamal dan Desa Kunir Selamat Harlah! Edisi Ngaji dan Ngabdi 146

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ….

(Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi…”(QS Al A’raf : 96)
Berdirinya pesantren diawali dengan ragam usaha oleh para pendahulunya, dalam rangka menjawab tantangan umat yang melingkupinya. Ada pesantren yang bermula dari dakwah kyainya untuk mengajarkan Agama Islam ke masyarakat sebagaimana yang dilakukan oleh Wali Songo di tanah Jawa. Ada juga berangkat dari sebuah perkumpulan ilmu beladiri, karena memang pada masanya yang lagi dibutuhkan oleh masyarakat adalah tantangan kanuragan. Juga ada sebagian pesantren yang berdiri untuk praktik thariqah-thariqah sufi, yang kemudian  dikenal dengan pasulukan. Pesantren berdiri untuk menyelesaikan problematika umat yang dihadapi oleh para kyai, dengan tantangan masing-masing, sehingga antar pesantren mempunyai aksentuasi, penekanan dan ciri khas sesuai dengan misi awal didirikan oleh para ulama’. Maka keberadaan pesantren berangkat dari keprihatinan kyai (ulama), kasih sayangnya terhadap masyarakat  yang kemudian diajarkanlah Islam. Sebagaimana diungkap dalam dawuh tentang prinsip ulama adalah “nadhr al-ummah bi ayni al-rahmah”, perhatian ulama dengan pandangan kasih sayang terhadap umat.
Demikian juga pengajaran Islam sebagai bibit Pesantren Al-Kamal Blitar yang diinisiasi oleh Kyai Manshur pada tahun 1940 tidak lepas dari kapasitasnya sebagai kyai lokal Kunir Wonodadi Blitar,  ikhtiyar mensyiarkan Islam di lingkungan sekitarnya. Kunir sebuah desa yang terletak 20 kilometer sebelah barat dari kota Blitar, yang sepanjang desanya dialiri sungai brantas. Dengan posisi di pinggir Sungai Brantas ini akhirnya, Desa Kunir menjadi strategis dilihat dari kacamata arus transportasinya. Masyarakat yang dari wilayah Trenggalek dan sekitarnya kalau mau bepergian ke Malang sebagian melewati Kunir. Orang Tulungagung kalau bepergian ke Kediri lewatnya juga Kunir, angkutan-angkutan barang dari wilayah Malang jika mau dibawa ke wilayah barat juga lewatnya Kunir. Maka posisi strategis Kunir inilah kemudian menjadikan desa ini menjadi jalur transportasi darat dan sungai bagi masyarakat dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari. Sehingga tidak mengherankan kemudian kenyataan Desa Kunir kekinian menjadi desa yang begitu ramai dibanding desa-desa lain di wilayah Blitar dan sekitarnya.
Masyarakat Kunir dalam kondisi sekarang ini begitu diuntungkan dengan letak greografis dan sosiologis semacam itu. Di sepanjang Desa Kunir banyak berjajar menggeliatnya perekonomian masyarakat yang dilakukan oleh penduduknya sendiri atau warga desa lain yang menawarkan berbagai macam kebutuhan masyarakat. Toko kelontong, mini market, warung makanan, pertokoan pakaian, elektronik, kendaraan bermotor, gerabah, apotik. Dan yang sejak lama menjadi ciri khas Kunir lagi adalah adanya transportasi air yang dilakukan oleh masyarakat dengan menggunakan perahu, untuk menyebrangi Sungai Brantas. Hal ini seandainya diamati sebuah pemandangan yang indah bagi kehidupan masyarakat, kaya akan potensi dan budaya yang dikontribusikan untuk masyarakat Kunir dan sekitarnya.
Kemajuan peradaban Kunir ini tidak bisa lepas dengan para pendahulu yang telah menanamkan berbagai nilai dan budaya, baik yang dilakukan oleh perangkat desanya, tokoh agamanya, kyainya, yang semuanya menggali potensi kebaikan, yang semula hanya untuk masyarkat Kunir menjadi kebaikan yang sumrambah, penuh keberkahan untuk semua, tanpa melihat latar belakang status sosial, ekonomi, budaya maupun agama. Di antara potensi yang tergali adalah adanya Institusi Pondok Pesantren Al-Kamal Blitar.
Al-Kamal yang sudah berumur 85 tahun telah menambah keberkahan Desa Kunir dan masyarakat pada umumnya yang telah mendapatkan nilai-nilai kebaikannya. Di antaranya Kyai Al-Kamal telah mengembangkan dakwahnya dari berbagai bidang kehidupan umat. Kyai Manshur telah menanam kegiatan dakwah dengan menginisiasi berdirinya masjid sehingga pioner men-santri-kan masyarakat dalam bentuk ibadah dan pengajian dapat dipusatkan di masjid. Pada masanya ini sebuah terobosan dakwah yang genuine, sebagaimana Jeng Nabi Muhammad SAW. ketika mendakwahkan ajaran Islam di Madinah, pertama kali yang dilakukan adalah mendirikan masjid, yang sampai sekarang menjadi bukti sejarah dakwah Rasul mencapai puncak pencapainya menjadi agama rahmatan li al-alamin.
Perjuangan dakwah kyai Al-Kamal selanjutnya adalah Kyai Thohir Wijaya yang telah menginisiasi adanya madrasah formal maupun non-formal, jaringan politik, penguatan kelembagaan, pemberdayaan masyarakat desa dan sebagainya. Masih pada masa ini perkembangan Al-Kamal semakin bermanfaat bagi masyarakat dengan berdirinya lembaga-lembaga pendidikan dan sosial, terutama saat Kyai Thohir di Jakarta, di Kunir Blitar tetap berjalan, istiqamah, berkembang, yang tokohnya di antaranya Kyai Imam Muhayat, Kyai Zen Masrur, Kyai Mahmud Hamzah dan para keluarga, asatid, para khudama’ yang menjalankan program-program dakwah di Al-Kamal dari berbagai program perjuangan.
Dalam konteks abad 21 ini keberkahan Al-Kamal untuk masyarakat sekitarnya tetap terjaga dan semakin membesar, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bantuan arus informasi yang semakin menjadi-jadi seolah menjadi jantung kehidupan masyarakat. Seolah potensi kebaikan Al-Kamal ditumpahkan oleh Allah untuk masyarakat pada umumnya. Para santri yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia, Jamaah pengajian yang selalu mendapatkan ilmu, para pedagang yang mendarma baktikan hidupnya untuk pemenuhan kehidupan, warga Kunir sekitar yang selalu ramah untuk para pendatang, para pekerja di dalam atau luar pesantren, para guru mengajarkan ilmunya, santri yang giat ngaji dan belajar, satpam yang tiap hari mengatur ketertiban dan keamanan, pemerintah daerah yang selalu mengayomi, polisi yang selalu berpatroli, dan tentara yang selalu menjadi mitra, rumah sakit yang selalu memberikan bantuan, bapak-bapak politisi yang menjadi jembatan dalam rangka memberdayakan umat, para donatur yang perhatian, dan umat-umat yang lain berlomba-lomba memberikan kemanfaatan, demi mendapatkan keberkahan.
Di usianya yang ke-85 ini, saya mengajak kepada semua elemen masyarakat untuk terus menjaga, melanjutkan perjuangan para kyai kita yang telah meninggalkan nilai-nilai kemanfaatan dan keberkahan. Tugas keberlanjutan perjuangan menjadi tangung jawab bersama antara pesantren dan masyarakat, harus bersinergi mewujudkan misi risalah kenabian yang telah dilakukan oleh para kyai, untuk selanjutnya menjadi tanggung jawab kita bersama. Sebagaimana dakwah Rasul  SAW. yang dilanjutkan oleh para sahabatnya, kemudian diteruskan oleh para ulama sampailah kepada kita.
 Hal yang ditinggalkan oleh para kyai kita yang harus dilanjutkan, yaitu memberdayakan masyarakat, menggali potensi kemanfaatan sehingga menghasilkan keberkahan hidup. Pemberdayaan yang dilakukan oleh para kyai bermula dari dakwah dengan menggunakan agama. Berbasis Ilmu agama para kyai akhirnya dapat memberikan manfaat untuk dimensi kehidupan sosial, politik, ekonomi, budaya dan sebagainya. Sekarang setelah nilai-nilai kehidupan sudah nampak bahkan sudah memberikan keberkahannya, modal utama yakni ilmu agama yang kemudian dilembagakan menjadi pesantren dan madarasah tidak boleh mengalami penurunan misi, walalaupun tuntutan di sekitarnya seolah-olah menghendaki itu. Sebagai khadim, pelayan umat  harus tegak memegang prinsip-prinsip pengajaran madrasah dan pesantren. Kalaupun harus ada inovasi itu bagian dari adaptasi metode dakwah yang harus dilakukan supaya madrasah dan pesantren semakin kuat dan memberikan kemanfaatan yang lebih besar lagi. Selamat Harlah Pondok Pesantren Terpadu Al-Kamal, semoga tetap istiqamah beribadah kepada Allah dalam wujud mengabdi kepada masyarakat, negara dan bangsa. Amiin
*Penulis : Prof.Dr.Asmawi Mahfudz, M.Ag
Khadim Pondok Pesantren Terpadu al-Kamal Kunir
Pengajar UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Tags :

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *