Bulan Agustus merupakan bulan bersejarah bagi bangsa Indonesia, karena dalam bulan inilah proklamasi dibacakan oleh Bung Karno dan Bung Hatta sebagai tanda kemerdekaan sebagai sebuah bangsa. Artinya bangsa Indonesia berkuasa penuh atas dirinya sendiri dalam hal otoritas sebagai sebuah bangsa. Rakyatnya merdeka, wilayahnya merdeka, undang-undang (hukum) merdeka, yang menjadikan bangsa Indonesia berkuasa penuh atas unsur-unsur pokok dalam sebuah bangsa. Di bulan Agustus ini adalah bulan mensyukuri atas kemerdekaan bangsa, anugerah yang diberikan Allah kepada kita, dengan melakukan beberapa hal sebagai bentuk syukur. Di antaranya, mengucapkan alhamdulillah, segala puji bagi Allah, yang telah menganugerahkan nikmat yang begitu berharga bagi bangsa Indonesia ini, berupa kemerdekaan, yang jika diperinci niscaya tidak bisa menghitungnya. Misalnya sekelumit dari kebesaran kuasa-Nya, yang telah diberikan kepada bangsa ini adalah kita mempunyai pemerintahan yang baik, perilaku anak bangsa yang baik, pemenuhan ekonomi masyarakat dalam keadaan baik, tingkat religiusitas umat juga baik, pendidikan baik-baik, sumber daya manusia juga baik, kekayaan alam melimpah dan sebagainya. Maka di bulan Agustus ini sudah menjadi kewajiban bangsa Indonesia untuk bersyukur kepada Allah atas segala nikmat kemerdekaan ini.
Hanya yang patut dicatat ekspresi syukurnya juga harus mengikuti aturan pemberi nikmat, Allah SWT. Jangan sampai kita sebagai bangsa Indonesia yang niatnya mensyukuri kemerdekaan tetapi diisi dengan perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT. Misalnya mengadakan acara peringatan dengan melalaikan ibadah shalatnya, berlebih-lebihan, berfoya-foya, acara yang mengandung kemaksiatan, bermabuk-mabukan, menyakiti orang lain, merugikan orang lain, mengambil hak orang lain, menimbulkan permusuhan dan sebagainya. Idealnya peringatan kemerdekaan ini menambah ketaqwaan, rasa religiusitas kita kepada Allah dan ajaran agama kita sebagai bentuk rasa syukur, jangan malah menjauh dan membuat Allah benci kepada bangsa ini.
Juga ekspresi syukur dengan peringatan kemerdekaan ini harus dapat menumbuhkan cinta kepada tanah air ini. Artinya kita sebagai warga bangsa Indonesia ini harus menjaga bangsa ini sebaik baiknya supaya nikmat kemerdekaan ini benar-benar akan mengantarkan semua yang ada di dalamnya menjadi damai, bahagia. Harus dikembalikan lagi ke posisi fitrah-nya bahwa Indonesia ini terdiri dari berbagai unsur, ada manusia, bumi, air, udara, daratan, lautan, tumbuh-tumbuhan, hewan dan yang ada di dalamnya juga harus damai. Dari sikap cinta kepada Indonesia ini tidak hanya sekedar cinta kepada namanya saja, tetapi Indonesia yang utuh yang terdiri dari berbagai unsur kehidupan yang ada di dalamnya. Artinya syukur kemerdekaan ini menyangkut hubungan warga manusia Indonesia dengan alam sekitarnya yang hidup di bumi Indonesia. Dalam perspektif Islam disebut dengan “rahmatan li al-alamin” sebagaimana menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Selanjutnya rasa syukur kemerdekaan ini juga harus diisi dengan merenung jasa-jasa para pahlawan yang telah berjuang menuju kemerdekaan. berkat pengorbanan mereka lah bangsa ini bisa mereaih kemerdekaan melawan penjajahan. Seandainya direnungkan pengorbanan yang telah dilakukan oleh para pejuang tanpa bisa dinilai dengan materi hanya Allah semata yang dapat memberikan apresiasi terhadap pengorbanannya. Dan sudah selayaknya mereka mendapat predikat syuhada’, orang yang mati syahid demi membela bangsa dan negara ini, dan balasanya adalah surga dari Allah.
Selain itu kita juga dapat mendapatkan nilai-nilai dari sifat para pejuang yang dapat diaktualisasikan dalam kehidupan sekarang. Di antaranya adalah sifat “sabar”. Sebuah sifat tahan uji untuk menghadapi segala tantangan dan godaan. Para pejuang sabar untuk tidak putus asa, sabar untuk tidak egois, sabar untuk tidak mementingkan dirinya sendiri, sabar untuk meninggalkan keluarganya, sabar tidak mengejar materi dan kedudukan, sabar untuk menahan sakit fisik dan sakit hati, sabar untuk persatuan bangsa dan sabar dalam perjuangan. Dengan kesabaran para pahlawan inilah kontinuitas perjuangan berarus-ratus tahun tidak pernah berhenti sampai berganti generasi. Dengan kesabaran ini kemudian Allah menurunkan rahmatnya, mengangkat derajat bangsa ini menjadi bangsa yang dicintai oleh Allah SWT, sebagaimana dalam firmannya “Innallaha ma’a al-shabirin”, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.
Aktualisasi sifat sabar ini pula akhirnya para pahlawan menjadi pejuang yang pemberani, sebagaimana dawuh jeng Nabi SAW. “laysa al-syadid bi al-shur’ah Innama alsyadid yamliku nafsahu inda alghadlab”, bukanlah orang yang pemberani adalah yang beradu fisik, sesungguhnya pemberani itu yang dapat mengendalikan nafsu saat marah. Hanya saja kemarahan yang dilakukan oleh para pejuang ini bukan karena nafsu pribadinya, melainkan marah karena bangsa ini diambil oleh orang lain sumber daya manusianya, alamnya, kekayaannya, harga dirinya. Inilah yang membuat kemarahan para pahlawan bangsa ini kemudian mereka mengorbankan egonya, jiwanya, nyawanya, fisiknya demi harga diri sebagai sebuah bangsa.
Selain pemberani, ekspresi kesabaran para pahlawan berimplikasi sifat tahan uji dari semua kesengsaraan. Hidup dalam penjajahan itu pasti sengsara, baik fisiknya, jiwanya, harga dirinya. Karena para pahlawan ini sebagai warga negara yang original, fitrah. Naluri obyektifitas kemanusiaannya masih tertanam dalam jiwanya. Sehingga ketika negara ini dijajah, direndahkan, diganggu harga diri sebagai manusia juga akan terusik membelanya. Ketahanan ujian para pahlawan tidak melihat batas cuaca, situasi ekonomi, musim panas atau dingin, status sosial yang terpandang atau tidak dikenal orang, sedang mempunyai kedudukan atau tidak semuanya sama memperjuangkan bangsa dan negara yang tercinta. Maka dengan segala pengorbanan dan perjuangannya itu wajib bagi kita mengenang jasanya, mendoakannya, bersyukur kepada mereka. Sebagaimana sabda Nabi SAW, “man lam yaskur li alnas lam yaskur lillah” barang siapa yang tidak bersyukur kepada sesama manusia, maka dia tidak bersyukur kepada Allah SWT. Semoga para pahlawan pejuang bangsa ini diterima semua amal jariyahnya dan menjadi syuhada’, yang mendapatkan jaminan surga dari Allah SWT. Amiiin.
*Penulis : Prof.Dr.KH.Asmawi Mahfudz, M.Ag. (Pengasuh PP Terpadu Al Kamal Blitar)