Keutamaan Al-Fatihah: Review Pengajian Ahad Wage (Risalah Ngaji dan Ngabdi Edisi 175)

Kajian dimulai dengan paparan tentang rahmat Allah Swt. yang selalu berikan kepada manusia, yang salah satu rahmatnya adalah Allah menyukai jika hambanya meminta kepadanya, sebaliknya akan murka kalau tidak pernah meminta atau beribadah kepadanya. Dalam sebuah dawuh syiir dijelaskan;

لَاتَسْأَلَنَّ بُنَيَّ آدَمَ حَاجَةٌ # وَسَلِ الَّذِي أَبْوَابُهُ لَا تُحْجَبُ

اللَّهُ يَغْضَبُ إِنْ تَرَكْتَ سُؤَالَهُ # وَيُنَيَّ آدَمَ حِينَ يُسْأَلُ يَغْضَبُ

(Jangan meminta kepada manusia, tapi mintalah pada Dia yang pintunya tak tertutup, Allah murka ketika engkau tak meminta padanya, sedang manusia akan marah ketika dimintai). Maka implementasi dari Rahman dan Rahim Allah, manusia juga harus bersikap kasih sayang kepada sesama makhluq Allah, karena memang semuanya adalah makhluqnya, baik yang kaya atau yang miskin, yang pandai atau yang bodoh, yang  hitam atau yang putih, bahkan yang dilangit atau yang dibumi semua harus saling menebar kasih saying kepada sesama, sebagaimana dawuh, “irhamu man fi al-ardli yarhamkum man fi alsama, sayangi semua yang ada di bumi maka kamu juga akan disayangi makhlu Allah yang ada di langit.
Selanjutnya pengajian membahas muqadimah, pendahuluan dari kitab Kifayat Al-Atqiya’. Pengarang menjelaskan keutamaan tentang amal perbuatan yang dimulai dengan “bismillahi al-rahmani al-rahimi”, yang memang segala sesuatu yang tidak dimulai dengan membaca bismisllah atau“bismillahi al-rahmani al-rahimi”, akan terputus dari rahmat Allah. Artinya sebuah amal harus diperuntukkan dalam rangka ibadah kepada Allah Swt. bukan yang lain, maka secara formalnya bacaan basmallah dalam melakukan kebaikan adalah keniscayaan. Karena dilihat dari rasionalisasinya, segala sesuatu dapat dilakukan oleh seorang hamba memang disebabkan oleh hidayah dan pertolongan dari Allah. Seorang dapat melakukan kebaikan karena kekuatan yang dianugerahkan oleh Allah, seseorang dapat menjauhi kemungkaran, perbuatan buruk juga karena pertolongan Allah. Maka segala sesuatu memang atas kehendak Allah dan dilakukan oleh manusia. Ketika suatu perbuatan tidak dibacakan basmallah seolah dilakukan terlepas dari kuasa dan kehendak Allah (qudrah dan iradah). Maka dalam suatu riwayat yang lain dikatakan, “kullu amrin dhi balin layubtadau bi bismillah fahuwa abtaru” segala sesuatu yang tidak dimulai dengan menyebut basmallah maka terputus dari rahmat Allah.
Hal ini mungkin  dalam perspektif aqliyah seperti itu, ada keterputusan sandaran kepada Allah sebagai dzat yang mempunyai qudrah dan iradahnya, yang dalam bahasa lain masuk dalam katagori “perbuatan sekuler”, lepas dari ajaran agama Islam yang harus menyandarkan semua perbuatan kepada Allah Swt.  Dalam riwayat yang lain faedah dari surat al-fatihah, “al-fatihatu liman quriat lahu”, membaca surat Al-Fatihah itu dapat digunakan untuk berbagai tujuan. Sebagaimana orang-orang dahulu segala sesuatu selalu dibacakan surat Al-Fatihah. Dapat dilihat berbagai acara yang semula sebagai tradisi masyarakat, menjadi sebuah spiritualitas, ketika dimulai dengan membaca Al-Fatihah. Di desa-desa mulai kirim leluhur, tahlil, ngampirne neton, sunatan, sisetan, manggulan, walimahan, panen sawah, mau bepergian, pulang bepergian, syukuran, bersih desa, megengan, maleman, telonan, tingkepan, kematian, mendoakan orang sakit, dan tradisi-tradisi lain di sekitar masyarakat ini semuanya bernilai ibadah tatkala dibacakan surat Al-Fatihah. Bahkan sekarang di lembaga-lembaga dalam memulai kegiatan juga dimulai dengan bacaan Al-Fatihah. Misalnya mau rapat, musyawarah, kadang upacara, mengheningkan cipta, dan kegiatan-kegiatan lembaga yang lain. Maknanya Al-Fatihah sebagai bagian dari ayat Al-Qur’an harus digunakan oleh semua muslim dalam memulai semua aktifitasnya, baik sebagai pribadi atau komunits masyarakat, sebagai pertanda bahwa kita adalah orang yang beriman, selalu menyandarkan perbuatan kepada Allah Swt.
 Diriwayatkan dari Jeng Nabi Saw bahwa dia suatu malam di-isra’ mi’raj kan oleh Allah menuju langit, dihadapkan kepada suatu pemandangan surga, yang di dalamnya terdapat empat sungai, yaitu sungai air tawar, sungai susu, sungai  khamr dan sungai madu. Mengetahui sesuai yang menakjubkan itu Rasulullah terus bertanya kepada malaikat Jibril, “wahai Jibril dari mana datangnya empat sungai itu, terus dia mengalir menuju kemana?”, Jibril menjawab, “Sungai-sungai itu menuju telaga Al-Kautsar, terus saya tidak tahu mata air dari sungai itu berasal dari mana?, sebaiknya tuan berdoa kepada Allah supaya memberi tahu kamu, memperlihatkan  sungai itu sebenarnyaa kemana? Kemudian Rasulullah berdoa kepada Allah, terus datanglah seorang malaikat mengucapkan salam kepada jeng Nabi Saw. Kemudian malaikat itu berkata, “wahai Muhammad pejamkan matamu!”,  terus jeng Nabi juga memejamkan matanya, setelah itu disuruh  membuka mata lagi oleh malaikat. Saat membuka mata itu ternyata saya sudah berada di sebelah pohon, saat itu saya melihat sebuah bangunan istana (qubah) dari mutiara putih, yang mempunyai pintu dari emas berwarna merah disertai kuncinya, yang seandainya seluruh jin dan manusia itu diletakkan di dalam istana itu, niscaya layaknya burung yang berada di gunung.  Terus saya melihat empat sungai itu keluar dari bawahnya istana tersebut. Tatkala saya ingin untuk kembali, malaikat berkata kepadaku, mengapa saya tidak masuk ke dalam istana itu? Saya jawab, bagaimana saya dapat masuk karena istana itu terkunci dan saya tidak mempunyai kuncinya? Malaikat itu berkata, kunci dari istana itu adalah kalimah “bismillahi al-rahmani al-rahimi”. Terus tatkala saya mendekta ke Istana itu dan mengucapkan “bismillahi al-rahmani al-rahimi”, maka saya dapat memasukinya dan melihat empat sungai itu mengalir dari empat tiang istana dan saya melihat telah tertulis di empat tiang istana itu “bismillahi al-rahmani al-rahimi”. Di sana terlihat bahwa sungai yang mengalirkan air tawar keluar dari mimnya “bismillahi al-rahmani al-rahimi”, terus sungai susu keluar dari ha’ nya lafadh Allah, sungai khmar keluar dari mimnya al-rahman, dan sungai madu keluar dari mimnya al-rahim. Maka dapat saya simpulkan bahwa mata air empat Sungai itu dari “bismillah”. Menguatkan keterangan ini Allah dawuh,

يامحمد من ذكرنى بهذه الاسماء من امتك بقلب خالص من رياء  وقال بسم الله الرحمن الرحيم  سقيته من هذه الانهار

(wahai Muhammad barang siapa dari umatmu mengingatku dengan asma ini dilakukan dengan hati yang bersih, ikhlas dari riya’, terus dia mengucapkan “bismillahi al-rahmani al-rahimi”, maka aku akan menyiraminya dari sungai-sungai ini).
Ditambah lagi  dengan sebuah hadits, tidaklah tertolak suatu doa yang di awali dengan “bismillahi al-rahmani al-rahimi”.
Akhirnya, 1). Semua amaliyah manusia akan bernilai ibadah ketika disandarkan kepada Allah Swt. sebagai ekpresi keimanan seseorang terhadap ajaran tauhid, dalam melakukan perbauatn juga harus mencerminkan sebagai orang ynag beragama tauhid, yakni hanya diperuntukkan kepada Allah Swt. bukan selain Allah. Maka Ketika orang beriman yang sejati akan jauh dari perbuatan riya’, su’mah, takabur, dan penyakit hati yang lain bisa merusak kemurnian keimanan 2). Praktiknya seorang muslim dengan selalu membaca “Bismillah” atau “Al-Fatihah” dalam setiap perbuatan. Sebagaimana dalam shalat seseorang hanya dianggap sah kalau dia membaca surat Al-Fatihah.  3). Banyak hikmah dan fadhilah (keutamaan) bagi seseorang membaca Al-Fatihah atau basmallah. Misalnya dapat dikabulkan hajatnya, baik hajat duniawi atau ukhrawi.
*Penulis : Prof. Dr. KH. Asmawi Mahfudz, M.Ag(Pengajar UIN Tulungagung, Pengurus MUI, Khadim  PP al-Kamal Blitar dan Yayasan Baiturahman Kras Kediri)

Tags :

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *