Lanjutan dari edisi sebelumnya, berkaitan tantangan NU dalam konteks keindonesiaan dalam memberikan kontribusi peradaban adalah masalah pendidikan, yang dijalankan oleh Lembaga Pendidikan Maarif NU dan Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama. Dua lembaga ini mengelola pendidikan di level dasar sampai pendidikan tinggi, membutuhkan penguatan kapasitas baik dari sisi jumlah kelembagaannya atau dari sisi alumni-alumninya mengingat umat NU yang jumlahnya begitu banyak. Selama ini jaringan ilmuwan NU harus didorong sebagai ikon dalam dinamika ilmu pengetahuan dan teknologi, harus ditampakkan dipermukaan, selanjutnya dapat mengarahkan para alumninya untuk ikut berkontribusi ke dalam berbagai disiplin ilmu, secara praktis ke dalam lembaga-lembaga pemerintah, sehingga umat NU yang begitu banyaknya dapat dilayani dengan dasar teologis ahl sunnah wa al-Jamaah. Jika boleh berandai-andai, para ilmuwan NU yang begitu banyak dapat bersinergi memberikan pengarahan kepada para alumni dari lembaga-lembaga pendidikan NU, mungkin 5-10 tahun yang akan datang, masyarakat akan dapat dilayani, diajar, dibantu, diberdayakan oleh orang-orang yang moderat, ramah, santun sebagaimana dasar ahl sunnah.
Di samping itu dalam pengelolaan lembaga pendidikan di NU juga harus tetap di koneksikan dengan dinamika kebutuhan masyarakat, karena selama ini ketika menyebut Nahdlatul Ulama asumsi masyarakat awam adalah pengajian, istighasah, dan aspek-aspek religius lainnya. Nampaknya lembaga-lembaga pendidikan NU juga harus melakukan penyesuaian kurikulum, sehingga beberapa dekade kedepan, banyak dari lembaga pendidikan NU juga menjadi rujukan ilmu sosial politik, rujukan ilmu hukum, rujukan ilmu kedokteran, rujukan ilmu ekonomi, di samping terus mempertahankan sebagai rujukan ajaran Ahli Sunnah wa al-Jamaah dalam dunia pendidikan.
Isu kekinian yang tidak kalah penting adalah masalah hubungan luar negeri. Sebagai organisasi terbesar di alam ini, sudah seyogyanya kontribusi NU bersifat rahmatan li al- ‘alamin. Seiring dengan dinamika masyarakat global dalam berbagai sendinya. Politik, ekonomi, budaya, pertahanan, peperangan, keagamaan, menuntut NU untuk ikut menjawabnya. Apalagi Pengurus Cabang Istimewa NU sudah banyak sehingga memudahkan untuk berkontribusi ke berbagai negara-negara secara internasional. Kalau perlu pembukaan cabang istimewa diperbanyak lagi sehingga syiar dan dakwah NU di luar negeri akan lebih mudah lagi, sehingga kontribusinya dalam membangun peradaban akan semakin mendekati kenyataan.
Tantangan selanjutnya adalah masalah politik, sebuah bidang yang selalu menyejarah dalam perkembangan Nahdlatul Ulama, baik menyangkut organisasinya, pengurusnya atau umatnya secara umum. Tetapi misi politik ulama Sunni, sejak awal adalah memang bersinergi dengan penguasa atau pemerintah, misalnya al-Ghazali, al-Mawardi, Abu Yusuf, sampai kepada kyai-kyai Indonesia selalu akan bersinergi kepada pemerintah sebagai wahana untuk mewujudkan kemaslahatan umat dan bangsa, sebagaimana kaidah “tasharuf al-imam ‘ala ra’yah manuthun bi al-maslahah” kebijakan pemimpin atas rakyatnya harus didasarkan kebaikan rakyat. Para kyai yang berada dalam politik praktis, melalui partai politik ataupun kyai yang di luar partai, semua mempunyai misi kebangsaan yakni mewujudkan kemaslahatan umat. Maka titik temu kemaslahatan inilah yang penting untuk dijaga bersama-sama, para insan NU di luar politik praktis diperbolehkan, masuk dalam politik juga diperbolehkan dengan tujuan yang sama yakni kemaslahatan. Akhirnya baik mereka yang berada di partai politik atau di luar partai politik semuanya memperjuangkan masyarakat dalam sebuah rumah yang sama, maksudnya NU sebagai organisasi maupun umatnya NU. Inilah yang oleh Rais ‘Am Syuriyah, alm. KH Sahal Mahfudz disebut dengan low politics dan high politics. Low Politics adalah politik praktis sedangkan high Politics adalah politik kebangsaan demi mewujudkan kemaslahatan masyarakat.
Tantangan selanjutnya adalah tentang ekonomi. Sebagai organisasi terbesar, tentu potensi ekonomi yang dimiliki oleh NU juga besar. Perlu pemberdayaan ekonomi berbasis masyarakat NU, dari NU dikelola NU dengan cara NU dan nilai kemaslahatannya untuk umat. Mulai tentang ekonomi pertanahan, ekonomi pertanian, ekonomi perdagangan, ekonomi berbasis digital, ekonomi perbankan, ekonomi pertokoan dan segmen ekonomi lain yang relevan dengan basis umat NU yang begitu besar. Mungkin ini ide kecil tetapi kalau dirawat akan menghasilkan pemberdayaan ekonomi yang nilainya raksasa. Misalnya satu ranting NU mempunyai satu toko kelontong yang melayani kebutuhan warga NU, alangkah besarnya potensi yang dapat diperoleh NU dan masyarakat, apalagi jumlah ranting NU seluruh Indonesia ini sama dengan jumlah desa di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Mungkin untuk mengelola program organisasi dapat memaksimalkan potensi teknologi berbasis digitalisasi. Dengan kemudahan teknologi di zaman sekarang semua pekerjaan juga dihitung mudah dalam arti sudah tidak ada lagi tempat dengan jarak jauh, dari sisi waktu juga tidak ada yang lama untuk memanage semua program-program yang disepakati. Apalagi sumber daya manusia NU dalam berbagai bidangnya sudah melimpah, tinggal mengkoordinasikan dengan serempak, niscaya welfare, kesejahteraan untuk masyarakat NU juga akan terwujud.
Juga penting untuk dipertahankan oleh NU adalah masalah budaya bangsa Indonesia yang menjadi ciri khas, fondasi, nilai yang harus dijunjung tinggi oleh setiap anggota masyarakat. Apalagi dalam konteks keindonesiaan budaya terdiri dari berbagai macam suku, kepercayaan, tradisi, seni yang tinggal di berbagai wilayah. Hal ini menuntut partisipasi NU untuk mempertahankan dan mengelola budaya masyarakat, sehingga keragaman budaya Indonesia memberikan kontribusi positif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. NU adalah organisasi yang selalu menggunakan strategi moderat dalam menjalankan dakwah sosialnya, dengan keramahan, kesantunan, keluwesan ala NU inilah budaya bangsa dapat dikembangkan menjadi budaya yang luhur seiring dengan keluhuran Islam yang dibawakan oleh NU. Mengingat mempertahankan budaya bangsa dengan kondisi kekinian tidak mudah, mengingat penetrasi budaya asing terus menerus terjadi dalam berbagai bidang kehidupan anak bangsa, sehingga sebagian pengamat mengatakan, telah terjadi perang budaya bukan lagi perang senjata. Siapa yang dapat menjaga keluhuran budayanya dia yang menjadi pemenangnya. Sebaliknya kalau budaya luhur bangsa tidak dapat dipertahankan atau malah kalah dari budaya asing, berarti keluhuran bangsa ini juga akan mengalami kemunduran. Maka NU sebagai entitas mayoritas manusia Indonesia harus memegang kendali dalam mempertahankan budaya bangsa demi kemajuan dan keluhuran bangsa Indonesia.
Sebenarnya tema-tema besar dalam 100 tahun kemarin, di dalam NU sudah menunjukkan progresifitasnya dengan landasan Ahlu Sunnah wal al-Jamaah, yang kemudian diderivasikan ke dalam berbagai pemikiran keislaman dan keindonesiaan. Di antaranya, “waliyul amri al-dharuri bi alsyaukah”, tentang “kembali ke khittah 1926”, tentang “ukhuwah Islamiyah”, tetang “Pribumisasi Islam”, tentang “Zakat dan Pajak”, Tentang “Islam substantif” tentang “Fiqih Social”, tentang “kesetaraan gender” tentang “Islam Nusantara” yang kemudian dilanjutkan dengan “Fiqih Peradaban” tentang “eco green”. Tema-tema ini jika dilanjutkan dalam berbagai program-program NU, akan menghasilkan kontribusi yang bernilai global, tidak sebatas keindonesiaan, melainkan ajaran-ajaran NU dalam berbagai programnya akan dirasakan oleh masyarakat internasional secara umum. Untuk itu berbagai tantangan NU ke depan harus dapat mempertahankan kontribusi positif peradaban yang sifatnya keindonesiaan dan menjawab isu-isu global internasional dalam percaturan geopolitik dunia. Inilah yang kemudian kita sebut dengan Fiqih Peradaban. Akhirnya kalaupun dalam muktamar tahun 2026 ini salah satu agendanya adalah memilih pemimpin organisasi maka nanti yang terpilih harus dapat menjawab berbagai tantangan tersebut, yaitu dapat menjaga marwah keulamaan, keindonesiaan, menjawab problematika pendidikan, kepesantrenan, ekonomi, politik, budaya, hubungan luar negeri, yang sifatnya lokal keindonesiaan dan global rahmatan lil alamin. Dan inilah sebenarnya gambaran logo bola dunia yang dimiliki oleh NU, sebuah organisasi yang menyemai berkembang menjadi bagian kemajuan peradaban dunia. Sebagaimana dawuh Allah Swt. “Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam”. Wa Allahu A’lam!
*Khadim PP Terpadu al-Kamal, PCNU Blitar, Yayasan Baiturrahman Kediri dan UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung