Religiousitas dan Historisitas dalam Majlis Dzikir (Ngaji dan Ngabdi Edisi 164 dalam Hari Jadi Kabupaten Kediri ke-1222)

Hari Minggu, 8 Februari 2026 mulai jam 07.00-11.30, kita menghadiri undangan Majlis Dzikir dan Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jaylani yang diselenggarakan oleh Pengurus Daerah Jamaah Al-Khidmah Kabupaten dan Kota Kediri dalam rangka memperingati hari jadi Kabupaten Kediri yang ke-1222. Sebuah umur yang sudah panjang dalam perjalanan sejarah dalam membangun Kabupaten Kediri, mulai zaman kerajaan yang genuine original, masa pendirian bangsa Indonesia sejak pra kemerdekaan yang terjadi change, perubahan dalam struktur sosialnya, dan masa orde baru sampai sekarang yang bisa disebut dengan develop, terjadinya pengembangan dari berbagai dimensinya. Tentunya sejak didirikan oleh para tokoh sejarah banyak yang sudah dilakukan untuk membangun Kabupaten Kediri sehingga Kediri dapat menjadi sebagaimana yang dilihat hari ini. Dilihat dari sisi sosial keagamaan, religiousitas di Kabupaten Kediri relatif harmonis dengan dominasi kehidupan muslim yang berinteraksi dengan baik dengan agama-agama lain yang ada di Kediri. Kelompok-kelompok organisasi kegamaan pun juga beragam, terutama organisasi besar Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, kelompok Thariqah Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Syadhiliyah, Akmaliyah dan sebagainya juga berkembang dengan baik. Di samping organisasi-organisasi lain berbasis sosial kemasyarakatan, baik di level remaja, pemuda atau orang tua. Artinya harmonisasi hubungan yang baik antar kelompok terjaga, sehingga masyarakat merasakan kenyamanan dalam menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya masing-masing.
            Dari sisi sosial pendidikan, baik lembaga pendidikan berbasis keagamaan atau pun umum, yang formal maupun non formal juga menjadikan tingkat pemahaman ilmu pengetahuan bagi masyarakat Kediri terpenuhi dengan baik. Yang formal berkembang lembaga pendidikan mulai pendidikan usia dini sampai perguruan tinggi, yang non formal terdapat pesantren-pesantren, madrasah diniyah, taman pendidikan Al-Qur’an, lembaga tahfidh, lembaga kursus, majlis pengajian dan lain sebagainya. Apalagi Kediri selain dikenal tempat berkembangnya pesantren, juga menjadi pusat kajian Bahasa Inggris yang terletak di Kecamatan Pare Kediri. Lembaga Kajian Bahasa Inggris ini sudah menjadi jujugan bagi para pelajar di seluruh Nusantara yang menginginkan pendalaman Bahasa Inggris.
            Dari sisi ekonomi Kabupaten Kediri termasuk daerah yang mayoritas memenuhi kebutuhan kehidupannya dalam pertanian, terutama petani tebu. Ini kalau diamati dari jalan raya nasional mulai perbatasan Jombang sampai kepada perbatasan Tulungagung, di sana dipenuhi dengan tanaman tebu, apalagi wilayah ini didukung dengan adanya 3 pabrik gula yang berada di Kabupaten Kediri, yaitu Pabrik Gula Pesantren, Pabrik Gula Mrican dan Pabrik Gula Ngadirejo. Maka kelihatan bidang pertanian yang dikembangkan di Kabupaten Kediri adalah tebu, untuk menyuplai bahan dasar gula untuk ketiga pabrik tersebut, tetapi  tidak menutup kemungkinan ada yang mengembangkan pertanian jenis yang lain misalnya palawija, padi, jagung dan yang lainnya.
 Dari sisi sejarah sosial budaya Kabupaten Kediri tentu dikenal nama-nama yang terkenal di antaranya Joyoboyo, Kerajaan Kediri (Dhaha) dengan beberapa situs sejarah yang ada. Terakhir dan menjadi fenomenal, menjadi ikon Kediri adalah monument simpang Lima Gumul, representasi dari kemajuan Kabupaten Kediri. Dari monumen ini teringat dengan kemajuan kota-kota besar di dunia Islam, misalnya di Mesir ada Piramida dan Universitas Al-Azhar, di Baghdad ada Baytul Hikmah dan Masjid Agung Samarra, di Andalusia Spanyol ada Istana Al-Hamra dan Masjid Agung cordoba, di India ada monument Taj mahal dan Universitas Aligarg, Di Jakarta ada tugu Monas dan Masjid istiqlal, kubah Batu di Yerusalem, di Turki ada Hagia Sofi, di Qatar ada Museum Of Islamic Art dan lain sebagainya. Monumen-monumen ini adalah simbol kemajuan bagi daerah dan negara masing-masing ketika mencapai puncak keemasannya. Yang patut dimengerti oleh generasi selanjutnya adalah melanjutkan perjuangan para pendahulu, cerita perjuangan untuk daerah tercinta.  Sebagaimana disingalir oleh dawuh, “laqad gharasu man qablana hatta akalna, wa nahnu qad naghrisu hatta ya’kula ba’dana” orang-orang sebelum kita telah menanam prestasi dan jasanya sehingga kita dapat menikmatinya. Maka kita juga harus menanam sehingga anak cucu kita nanti dapat menikmatinya.
 Dalam perspektif yang lain,  kemarin dalam forum majlis itu kita sampaikan sebuah nukilan dari Al-Zarnuji dalam syarah ta’limnya,

 البركة مع اكابركم اى البركة مع صحبة اكابركم واقدمكم زمانا لانهم جربوا الاشياء كثيرا فيعلمون ان الفائدة فى اى فعل وفى اى قول

(Barakah itu dapat diperoleh melalui kebersamaan para sesepuh (ulama sepuh), maksudnya barakah itu ketika bersama-sama dengan para kyai sepuh, orang-orang yang lebih tua dari sisi ilmu dan masanya. Karena mereka telah melakukan uji coba, pengamalan (eksperimentasi) terhadap segala sesuatu, terus mengetahui bahwasanya faedah dari ilmu ada dalam perkataan dan perbuatan)
 Dari dasar itu dapat dikatakan bahwa Kabupaten Kediri adalah daerah yang penuh dengan keberkahan, baik dari sisi kegamaannya, ekonominya, interaksi sosialnya, budayanya, pendidikannya. Apalagi dari sisi kegamaan Kediri merupakan tempat berkembangnya pesantren-pesantren tua, misalnya Pesantren Lirboyo, Jampes, Ploso, Mayan, Ringin Agung, yang telah menghasilkan para tokoh dan ulama-ulama yang memberikan kontribusi kepada bangsa. Maka untuk mensyukuri daerah ini hal yang harus dilakukan adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Maka inisiatif inilah yang kemudian diadakan majlis dzikir dan manaqib yang terselenggara kemarin hari Ahad itu. Selanjutnya adalah merenungkan jasa-jasa para tokoh sejarah baik berbagai elemen masyarakat, yang telah mendirikan, memberikan kontribusi dalam pembangunan Kabupaten Kediri sehingga penuh keberkahan. Harus diingat dalam sebuah Hadits Rasulullah, “Barang siapa tidak bersyukur kepada sesama manusia, maka sama saja dia tidak bersyukur kepada Allah SWT”. Para pejuang dalam bahasa dalil di atas telah mengisi, berkreasi, inovasi, eksperimentasi untuk Kediri dari berbagai dimensinya, patut diapresiasi setinggi-tingginya, sehingga amalnya dapat diteladani bagi generasi-generasi selanjutnya.
Selanjutnya dalam momentum majlis dzikir kemarin juga dinasehatkan, potongan sebuah ayat,

يَٰٓأَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ , ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةًۚ فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ

 “Wahai jiwa yang tenang, tenteram, damai, dan tidak takut apa pun serta tidak merasa sedih karena apa pun. Kembalilah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan mendidikmu, dengan hati yang ridla atas pahala dan nikmat yang Allah siapkan untukmu, dan di ridlai-Nya karena Allah telah menerima amalan shalehmu. Maka kini masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku yang shaleh, seperti para Nabi, orang yang jujur, pecinta kebenaran, dan syuhada. Dan masuklah bersama mereka ke dalam surga-Ku yang telah Aku persiapkan untukmu, surga yang penuh kenikmatan. Kekallah di sana selama-lamanya. Terima dan nikmatilah anugerah-Ku yang agung ini.”
Dari ayat ini ada beberapa hal penting untuk dilakukan oleh para jamaah implementasi dari dzikirnya yang rutin dan istiqamah;
1). Jiwa yang tenang, tentram, damai karena telah menjalani ketaatan dalam hal menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Juga dipadu dengan olah batin yang istiqamah, sehingga seorang ahli dzikir mendapatkan ketenangan, kemantapan hati dalam menjalankan ibadah, tidak ada keragu-raguan dalam imannya. Dalam posisi ini seorang ahli dhikir bersikap ridla.
2).  Ridla akan Keputusan Allah, dalam bahasa tafsir Al-Misbah kondisi ridla dengan maksud “puas” terhadap semua amal yang telah dilakukan selama hidup di dunia. Untuk itu orang yang ridla sewaktu-waktu dipanggil oleh Allah dikarenakan telah merasa puas, dia merasa senang, gembira. Ini bisa di lihat ketika orang menjalani sakarat al-maut, aura wajahnya tampak kesenangan, tersenyum karena akan menghadap dhat yang diharapkan, dicintainya yakni Allah SWT.
3). Secara internal orang ridla, dihadapan Allah dia akan mendapatkan Ridla (mardliyah). Maka dalam hal ini para malaikat akan mempersilahkan, menghormatinya masuk surga bersama para Nabi SAW dan orang-orang shalih.
 Selamat hari jadi Kabupaten Kediri ke-1222, semoga menjadi wilayah yang disebut dalam Al-Qur’an “Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur”, sebuah daerah yang makmur, adil, Sejahtera dalam naungan perlindungan Allah SWT. Amiin! Wa Allahi A’lam!
*Penulis : Prof. Dr. KH. Asmawi Mahfudz, M. Ag (Pengajar UIN Tulungagung, Pengurus MUI, Khadim PP Al-Kamal Blitar, dan Yayasan Baiturrahman Kediri)

Tags :

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *