Lazuardi Imani Bulan Suci Ke-Indonesiaan (Risalah Ngaji dan Ngabdi Edisi 172)

Lazuardi, sering merujuk pada warna langit biru yang cerah atau permata biru yang berharga, yang dalam bahasa Arab, ini menggambarkan batu mulia berwarna biru. Untuk itu ekspresi warna biru dapat diartikan dengan ketenangan, keluasan, atau keindahan. Dikaitkan dengan Ramadhan banyak eksperimentasi umat Islam dalam mengambil hikmah dari ibadah di bulan suci yang akhirnya Ramadhan dapat mewujudkan ketenangann hidup, Ramadhan dapat menampilkan keluasan makna dan keindahan ajaran Islam yang membumi di tengah-tengah kehidupan muslim.   Jika dikaitkan dengan kata imani sebagai penyandaran bahwa apa yang dilakukan oleh umat Islam di bulan Ramadhan tentunya tidak hanya  ketepatan waktunya di bulan Ramadhan, tetapi memang didasarkan kepada keimanan adanya ajaran puasa dan amal-amal di dalamnya, yang pada akhirnya dinamai dengan istilah Lazuardi Imani Ramadhan. Di antara amal-amal ibadah yang dikatagorikan lazuardi Imani adalah;
Mengaji dan kajian ilmu-ilmu agama Islam. Kegiatan ini dilakukan hampir seluruh lapisan masyarakat, mulai santri dan kyai di pesantren, kampus-kampus perguruan tinggi, para pejabat di kantornya masing-masing, para pekerja, organisasi masyarakat dan kegamaan, di desa-desa, majlis ta’lim, petani, militer, kepolisian, di stasiun televisi, radiso, media sosial, rumah makan, hotel, hampir seluruh umat muslim melaksanakan kegiatan ngaji dengan format yang berbeda-beda. Memang yang relatif serius adalah mengaji di pesantren, yang dalam kesehariaanya adalah melakukan pendalaman (tafaquh fi al-din). Di pesantren ketika Ramadhan madrasahnya diliburkan, diganti dengan mengaji bersama para kyai dengan materi diluar kurikulum madrasah. Materinya biasanya banyak berhubungan dengan fiqih, Hadits, Al-Quran, sejarah, akhlaq, tashawuf, tafsir, ijazah doa-doa mustajab, dan lain-lain. Dan biasanya dijalani selama sebulan sudah selesai atau khatam dengan satu atau beberapa kitab. Lazuardi Imani dari kegiatan pengajian ini sudah jelas menebar banyak manfaat, karena para santri akan mendapatkan informasi-informasi ilmiyah dari berbagai sumber yang otoritatif, sehingga lebih mendalam pemahaman keagamannya. Selain itu santri yang pernah mengikuti pengajian Ramadhan di pesantren akan merasakan kenikmatan, kelezatan dari mengaji. Karena dijalankan dengan ikhlas, seadanya, sambil ngantuk, berpuasa dalam keadaan hati bersih, dan hikmah lainnya. Sehingga mengaji Ilmu saat Ramadhan digemari oleh santri-santri yang berharap akan kenikmatan ilmiyah dan spiritualitas yang tidak didapatkan ketika di luar Ramadhan. Hal ini dikarenakan dorongan spiritualitas agama yang berakar dari sifat sabar lebih besar dan mengalahkan hawa nafsunya
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
(sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya)
 Kegiatan ngaji model lain misalnya kajian, seminar, kuliah tujuh menit, safari Ramadhan dan lain sebagainya dalam rangka pengajaran dan dakwah kepada masyarakat, supaya mereka dalam satu bulan ini benar-benar mendapatkan hikmah yang banyak, terutama tambah wawasan dan ilmu untuk meningkatkan kualitas ibadah dan ketaqwaan keapada Allah SWT. Format yang lain sebagai pengayaan wawasan adalah diskusi tentang tema-tema penelitian kontemporer yang dilakukan oleh para intelektual muslim Indonesia, terutama terhadap tema-tema aktual yang membutuhkan perhatian jawaban dari para ahlinya di kampus-kampus atau organisasi-organisasi profesi yang lain.
Selanjutnya yang menjadi ikon amaliyah di bulan Ramadhan adalah membaca Al-Qur’an (tadarus Al-Qur’an). Dapat diperhatikan, didengarkan waktu Ramadhan, antusias masyarakat muslim untuk membaca Al-Qur’an begitu besar. Di masjid, mushola, langgar, di madarasah, di kantor-kantor diselenggarakan tadarus Al-Qur’an dan khataman. Hal ini memang sesuai dengan namanya bahwa Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an (Syahr Al-Qur’an), bulan diturunkannya Al-Qur’an, dan bulan untuk menggapai kemuliaan dengan cara membaca al-Quran. Ada yang membaca Al-Qur’ansambil tarwih langsung khatam, ada yang tarweh membaca 1 juz sehari, ada yang membaca saja setiap hari dua juz, tiga atau lima juz. Maka dengan membaca Al-Qur’an masyarakat muslim akan mendapatkan hidayah, cahaya, sinar, obat, ketenangan dan hikmah-hikmah yang lain yang kembali kepada pribadi masing-masing atau kelompok masyarakatnya, lebih khusus lagi semoga dengan bacaan Al-Qur’an saudara-saudara kita masyarakat dan bangsa ini mendapatkan  ketaqwaan dan keberkahan sebagai anggota masyarakat  atau bangsa, menjadi Masyarakat Qur’ani, sebagaimana di-dawuh-kan oleh Allah dalam Al-Qur’an, dalam surat Saba’;

قَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

(Sungguh bagi Kaum Saba’ ada tanda (kebesaran Rabb) di kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan:) “Makanlah dari rizki yang dianugerahkan Tuhan kalian dan bersyukurlah kepada-Nya!’. Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr)”. Makna dari ayat ini adalah sebuah profil negara ideal,  sebuah negeri yang aman, tentram, sejahtera, damai, berkeadilan dan selalu dinaungi karunia Allah SWT.
Amaliyah lain dalam rangka menggapai fadhilah Ramadhan adalah santunan anak yatim, fakir miskin, zakat, shadaqah. Dalam hal ini sebenarnya hikmah dijalankannya puasa di bulan Ramadhan, ketika seseorang berpuasa akan merasakan lapar, dahaga, kesulitan, yang dirasakan oleh saudara-saudara yang kurang mampu. Maka saat dia menjalankan puasa, ada sesuatu keadaan yang sama, common sense, kebersamaan sebagai orang yang lemah itu muncul dalam diri shaimin, akhirnya hidayah dari Allah itu membuka hati mereka mengulurkan tangan, memberikan kelebihan harta yang mereka miliki untuk di bagi kepada sesama muslim yang kurang mampu. Bisa dari yatim, fakir, miskin atau golongan yang dinilai kurang mampu. Dan format berdermanya bervariatif, misalnya santunan anak yatim, pembagian zakat, shadaqah, pembagian ta’jil, buka bersama, dan aspek filantropi yang lain sebagai perwujudan hidayah Allah yang dianugerahkan kepada orang-orang mampu untuk dermawan kepada sesama saudaranya.
Pasan, istilah ini muncul pada abad 20-an, ketika di masyarakat ada keinginan untuk memondokkan anaknya di pesantren saat bulan puasa. Pasan di sini tujuannya lebih kepada sisi pendidikan kepada anak dan masyarakat. Misalnya mengaji kitab kuning, tabarukan, ngalap berkah dari kyai atau pesantren, mencari ketenangan hidup untuk menghentikan semua aktifitas sehari-hari diganti dengan berdomisili di pesantren selama sebulan, bersama-sama santri dan kyai untuk beribadah dan ngaji, untuk sementara waktu tidak disibukkan dengan urusan duniawi. Ketika pasan santri baik dewasa atau anak-anak pasti mendapatkan tarbiyah, pendidikan ilmu, ibadah, keberkahan, riyadlah bathin, dan ketenangan jiwa. Praktik pasan ini nampaknya sekarang ini diambil oleh sekolah-sekolah yang mempunyai program pendidikan keagamaan untuk para siswa nya.  Akhirnya pasan beralih nama menjadi pondok ramadhan, ngaji kilatan, yang waktunya kadang hanya  tiga hari, lima hari atau seminggu. Harapannya para pengelola sekolah atau madrasah ini supaya para siswa peserta pondok Ramadhan mendapatkan siraman ilmiyah, amaliyah dan ruhaniyah yang hanya ada di pesantren. Memang pesantren mempunyai tiga dimensi ilmiyah, amaliyah dan ruhaniyah yang dipraktikkan dengan bimbingan para kyai secara istiqamah. Maka tidak heran kemudian pendidikan sebagaimana di pesantren menjadi par-exellence, dengan pasan itu diharapkan para siswa menjadi santri walaupun hanya sebentar sesuai dengan program pondok ramadhan.
Bakti Sosial, oleh masyarakat ini biasanya dilakukan menjelang bulan suci Ramadhan. Mereka gotong royong untuk membersihkan lingkungannya, membersihkan masjid, mushola, madrasah sebagai tempat kegiatan ibadah. Tujuan utamanya adalah tempat-tempat yang dijadikan kegiatan ibadah itu akan terasa nikmat dan nyaman bagi para jamaah, sehingga jamaah akan merasakan nikmat, kerasan di mushola atau masjid, yang pada akhirnya nanti rajin beribadah, shalat berjamaah, tidak hanya di bulan Ramadhan, tetapi nilai-nilai Ramadhan berpengaruh kepada masyarakat. Selain itu mereka biasanya juga mengkombinasikan acara bersih-bersih dengan genduren yang kemudian dinamakan megengan. Doa bersama oleh masyarakat dengan membawa berkat ke masjid, ditukar, dan dimakan bersama. Tujuannya supaya dalam menjalankan ibadah di bulan suci diberi kesehatan, kelancaran, dan keistiqamahan, akhirnya dapat menjadi orang-orang yang bertaqwa. Mereka juga berharap hikmah menyambut datangnya bulan suci Ramadhan yang sering diungkap, “man fariha di dukhuli Ramadhan, haramahu Allah jasadahu ala niran”, barang siapa bergembira akan datangnya bulan Ramadhan maka Allah mengharamkan jasadnya tersentuh api neraka.
 Hal menarik pada saat Ramadhan yang tidak terunggah dalam kajian, adalah potret peran para ibu-ibu rumah tangga pada saat menjalankan puasa. Tradisi orang Indonesia yang memberikan peran lebih kepada para ibu-ibu dalam hal mengurusi bidang domistik. Misalnya bersih-bersih rumah, memasak, mencuci, menyiapkan makan, menunggui anak, dan urusan rumah yang lain, membuat kegiatannya begitu dinamis pada saat Ramadhan. Karena kerepotan Ramadhan di Indonesia tidak hanya berhubungan dengan puasa saja, tetapi kegiatan-kegiatan lain sebagai bagian menyemarakkan Ramadhan juga menjadi peran istri dalam melakukannya. Ini dapat dilihat ketika mau ramadhan menyiapkan belanja untuk selametan megengan, bersih-bersih rumah, dan peralatan selama ibadah, menyiapkan buka puasa, sahur, mempersiapkan pembayaran zakat, ta’jil Ramadhan, sampai kepada perayaan idul fitri dengan yang diisi dengan baju baru, kue-kue daerah, kebersihan rumah, perabotan baru, dan halal bi halal semuanya lebih dominan peran perempuan dibanding laki-laki. Maka kalau memakai kaidah fiqih nya “ma kana aktsaru fi’lan kana aktsaru fadzlan” sesuatu yang lebih banyak dilakukan akan mendapatkan lebih banyak keutamaan. Maka dari itu dalam konteks keIndonesiaan, sangat mungkin kemuliaan Ramadhan akan lebih banyak didapatkan oleh kaum perempuan dibanding oleh para bapak-bapak. Apalagi kalau diperhatikan dalam momentum ceremonial keagamaan, nampaknya kuantitas jamaahpun sekarang sudah didominasi oleh ibu-ibu.
Sholat Malam (qiyam al-layli), salah satu ikon ibadah yang membedakan bulan Ramadhan dengan hari lain adalah puasa dan shalat malam yang kemudian disebut dengan shalat tarawih. Yang telah menjadi tradisi kita sebagai muslim, ibadah shalat tarwih biasanya dilaksanakan di masjid, mushola, dan tempat-tempat lain. Pemahaman masyarakat ibadah ini hukumnya sunnah dan dijalankan hanya di bulan Ramadhan. Sementara shalat sunnah yang lain dapat dilakukan sehari-hari, walaupun itu belum tentu terlaksana. Tetapi semangat masyarakat dengan pemahaman bahwa shalat ini hanya di bulan ramadhan membuat shalat tarwih itu istimewa. Walau pun sebenarnya yang harus diutamakan adalah shalat wajib lima waktu, itu yang harus dijaga secara serius dan konsisten yang tidak boleh ditinggal sama sekali dan dijalankan dengan berjamaah pula. Tetapi dimotivasi saja, demi syiar Ramadhan dan soliditas umat Islam, kegiatan shalat malam tarwih harus terus digelorakan, harapannya adalah keramaian shalat sunnah berjamaah tidak hanya saat ramdhan tetapi tetap istiqamah berjalan di luar Ramadhan. Semoga kita muslim Indonesia, semua dapat hikmah dari Lazuardi Imani Ramadhan dari semua amaliyah yang memang diperintahkan oleh Allah dan Rasulullah SAW. Akhirnya menjadi pribadi-pribadi yang bertaqwa dan berkualitas untuk menjemput kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat.   Wa Allahu A’lam!
*Penulis : Prof. Dr. KH. Asmawi Mahfudz, M.Ag. (Pengajar UIN Tulungagung, Khadim PP Al-Kamal, Pengurus MUI Blitar dan Yayasan Baiturrahman Kras kediri)

Tags :

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *