Tipologi Calon Ilmuwan (Risalah Ngaji dan Ngabdi 171)

Hari ini dan bulan-bulan yang akan datang adalah waktunya anak-anak kita untuk melanjutkan “thalab al-ilmi”, mencari ilmu pengetahun dalam jenjang yang lebih tinggi. Bagi yang selesai ditingkatan dasar akan melanjutkan ke jenjang sekolah menengah, bagi yang selesai di level sekolah menegah dia akan melanjutkan ke jenjang Perguruan Tinggi. Lembaga-lembaga yang dipilih pun juga variative ada yang lembaga sekolah formal atau non formal, ada Lembaga Lembaga Agama dan non agama atau Lembaga-lembaga profesi, juga ada yang negeri dan swasta, semua menawarkan menu pendidikan untuk anak-anak mencapai cita-citanya sebagai calon ilmuwan. Tulisan ini tidak bermaksud membahas dari aspek kelembagaan dari sekolah atau madrasah yang menjadi tujuan bagi santri atau anak didik, tetapi di sini ada kutipan dari al-Ghazali dalam kitab bidayat al-hidayah tentang tipologi para pencari ilmu ditinjau dari sisi niat atau tujuan mendalami ilmu pengetahuan. Karena membahas niat atau tujuan adalah penting dalam ajaran Islam, dikarenakan baik dan tidaknya segala sesuatu, sah dan tidaknya perbuatan diukur dari niatnya. Ini di dasarkan kepada Hadits Nabi Saw, sebagaimana dikutip oleh Al-Nawawi dalam Hadits Arbain,

 إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإنَّمَا لِكُلِّ امْرِىءٍ مَا نَوَى،….

 “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, bahwasanya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang diniatkannya…. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
 Memang niat sesuatu yang menentukan amal dan ibadah seseorang, apakah sebuah perbuatan bernilai Ibadah di sisi Allah atau tidak, poros utamanya adalah niat seseorang. Dalam Hal mencari ilmu juga demikian al-Ghazali membaginya dalam tiga golongan,

واعلم ان الناس فى طلب العلم على ثلاثة احوال رجل طلب العلم ليتخذه زاده الى المعاد ولم يقصد به الا وجه الله والدار الاخرة فهذا من الفائزين

(Seseorang mencari ilmu untuk bekal menuju akhirat dan tidak ada tujuan lain selain mencari ridla Allah dan tempat di akhirat. Kelompok ini termasuk orang-orang yang beruntung). Dalam kelompok yang pertama ini adalah orang yang memang mendedikasikan hidupnya untuk ilmu. Ilmu diperuntukkan untuk bekal hidup di akhirat dan mendapatkan ridla Allah. Memang akhirat dan ridh Allah adalah sesuatu yang abstrak, yang dalam pelaksanaannya harus didasarkan keimanan kepada Allah, tanpa harus melihat kepada sesuatu yang lain. Dengan niyat totalitas untuk akhirat dan ridla Allah inilah sebuah ibadah menjadi murni, tidak ada kemusyrikan dalam melakukannya. Hal ini menjadi derajat tertinggi dalam ibadah apapun, tak terkecuali adalah mendalami ilmu hanya untuk akhirat dan beribadah kepada Allah. Dengan niat seperti ini ilmu apapun yang dia tekuni akan dapat membuktikan kebesaran Allah Swt. Misalnya dia menekuni ilmu kedokteran, dengan ilmunya dia dapat membuktikan kebesaran Allah dan dia sendiri akan merasa dekat dengan-Nya. Berbeda Ketika tujuannya bukan Allah atau akhirat, pasti ada oenyelewengan-penyelewengan duniawi dalam memperoleh ilmu pengetahuan, yang pada akhirnya ilmu yang diperoleh tidak dimanfaatkan dengan baik sesuai dengan diturunkan ilmu kepada manusia.
 Tipe selanjutnya dari pencari ilmu adalah

ورجل طلبه ليستعين به على حياته العاجلة وينال به العز والجاه والمال وهو عالم بذلك مسثشعر فى قلبه ركاكة حاله وخسة مقصده فهذا من المخاطرين

(Seseorang yang mencari ilmu digunakan untuk kehidupan duniawi memperoleh kemuliaan, kedudukan dan harta. Dia mengetahui bahwa dengan tujuan seperti ini di dalam hatinya terdapat kelemahan perilaku dan kehinaan tujuan. Dan kelompok ini termasuk orang-orang yang mengkhawatirkan).
 Maksud dari kelompok yang kedua ini adalah ilmu dimaksudkan untuk membantu mendapatkan duniawi, status sosial, dan harta. Harta dan kedudukan memang menjadi penggoda utama bagi hamba yang beribadah, maka tantangan bagi yang menuntut ilmu juga urusan duniawi. Dalam konteks kekinian, urusan kedudukan, kekuasaan, harta adalah menjadi magnet utama dalam kehidupan umat manusia. Maka ketika seorang ilmuwan atau pengkaji ilmu hidup zaman sekarang juga akan dihadapkan hal-hal tersebut. Hal ini memang perlu diperhatikan oleh para ilmuwan yang akan masuk ke dunia ilmu, sebiasa mungkin ilmu sebagai fasilitas untuk mendapatkan tujuan yakni ridla Allah, tidak hanya kepentingan pragmatis mendapatkan kedudukan atau harta duniawi yang nilai kemanfaatnnya kadang kala hanya untuk dirinya sendiri. Misalnya mahaisswa yang mengambil jurusan kedokteran, yang dilihat bahwa dokter mudah bekerja, status social tinggi di Masyarakat, dari sisi gaji juga menjanjikan asalkan dia praktiknya juga dikenal oleh Masyarakat.
 Atau seseorang yang berkehendak masuk jurusan hukum biasanya tujuannya adalah menjadi advokat, hakim, yang rata-rata mereka gajinya adalah tinggi dan status sosialnya juga mapan. Pertimbangan-pertimbangan materi seperti itulah kelompok kedua, yang tentunya mengkhawatirkan untuk kehidupan di masa-masa yang akan datang adakah ilmunya dapat menjamin dia Bahagia diakhirat, dikarenakan fungsi ilmu sudah tidak sebagaimana tujuan awal.
 Tingkatan ketiga adalah;

 ورجل ثالث استحوذ عليه الشيطن فاتخذ علمه ذريعة الى التكاثر بالمال والتفاخر بالجاه والتعزز بكثرة الاتباع يدخل علمه كل مدخل رجاء ان يقضي من الدنيا وطره وهو مع ذلك يضمر فى نفسه انه عندالله بمكانة لاتسامه بسسيمة العلماء وترسمهم برسومهم فى الزى والمنطق مع تكلبه على الدنيا ظاهرا وباطنا فهذا من الهالكين

 Kelompok ketiga adalah yang dikalahkan oleh syaithan, dia menjadikan ilmunya untuk perantara mendapatkan harta yang banyak, kebanggaan dalam hal kedudukan atau status sosial, kemuliaan dengan banyaknya pengikut. Dia dengan ilmunya masuk dalam berbagai lini kehidupan dengan harapan dapat memenuhi kebutuhan duniawinya. Dia juga merasa bahwa dia mempunyai kedudukan di sisi Allah Swt, karena penampilannya sebagaimana para ulama dalam hal pakaian dan ucapannya disertai permainannya terhadap dunia. Kelompok ini adalah orang-orang yang rusak.
 Dari ketiga tipologi para calon ilmuwan itu, hendaklah anak-anak santri terus berpegangan terhadap kelompok yang pertama, yang memang dalam misinya adalah dari Ilmu, untuk ilmu dan dalam kehidupan sehari-hari juga konsisiten dalam urusan ilmu. Bukan karena status social, kedudukan, materi, jabatan atau rasa kemanusiaan yang lain. Tetapi memang bertujuan untuk mendapatkan ilmu supaya ibadahnya benar menurut Allah Swt, kemudian juga pahalanya di akhirat. Karena sebagai generasi muslim urusan ilmu dan ibadah adalah sesuatu yang dapat berjalan bersama-sama. Tetapi ketika iman dan Islam dalam konteks ilmu pengetahuan sejak dini para generasi muslim juga harus digerakkan, supaya ilmuwan-ilmuwan yang berbasis religiousitas tetap ada di muka bumi ini. Sekarang mungkin timbul kekhawatiran, bahwa generasi sekarang sudah jarang yang menekuni ilmu, mengajarkan ilmu, supaya dapat ditunjukkan kepada Masyarakat, bahwa masih banyak kader-kader sekolah agama kita, berada di daerah-daerah yang misi ilmu dan agama dipegang terus sebagai nadi dalam kehidupannya. Mereka menuntut ilmu memang bertujuan untuk mendalami ilmu, mengembangkannya, mengajarkannya di tengah-tengah Masyarakat sehingga membawa kemanfaatan dan faedah. Inilah kemudian yang kita sebut dengan ilmu al-nafi’ Ilmu yang dapat memberikan kemanfaatan kepada ahli ilmu dan Masyarakat untuk berubah menjadi lebih baik, lebih taat, lebih dekat kepada Allah Swt. Maka ada dawuh mengatakan “ man izdada ilman wa lam yazdad huda lam yazdad min Allahi illa bu’da, barang siapa bertambah ilmunya, dengan tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah melainkan jauh dari Allah Swt.
*Pengajar UIN Tulunaggung, PCNU Khadim PP Al Kamal Blitar, dan Yayasan Baiturahman Kras Kediri

Tags :

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *