Manusia: Ilmu, Keyakinan dan Rasa Malu (Risalah Ngaji dan Ngabdi Edisi 170)

Salah satu nikmat Allah yang dianugerahkan kepada manusia adalah pakaian yang berfungsi sebagai penutup badan dan aurat kemanusiaannya. Dalam hal ini Allah menjelaskan dalam surat Al-A’raf: 26

يَا بَنِيْٓ اٰدَمَ قَدْ اَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُّوَارِيْ سَوْءٰتِكُمْ وَرِيْشًاۗ وَلِبَاسُ التَّقْوٰى ذٰلِكَ خَيْرٌۗ ذٰلِكَ مِنْ اٰيٰتِ اللّٰهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُوْنَ

(Wahai anak cucu Adam, sungguh Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan bulu (sebagai bahan pakaian untuk menghias diri). (Akan tetapi) pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu merupakan sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Allah agar mereka selalu ingat).
            Dalam ayat itu Allah menjelaskan bahwa anak Adam diberi pakaian untuk menutup auratnya dan bulu sebagai bahan pakaian dalam rangka menghias diri, juga jelaskan tentang pakaian yang baik adalah ketakwaan. Hal ini  harus dipahami oleh manusia itu sendiri supaya mereka selalu meningat akan kebesaran Allah.  Memang manusia adalah makhluq yang paling mulia di antara makhluq yang lain, dan derajat kemuliaan ini harus dijaga  supaya tidak menjadi rendah di bawah makhluq-makhluq yang lain. Dalam rangka menjaga kehormatan manusia ini Allah SW. menurunkan pakaian untuk menutup aurat dan berhias.
            Dari sini dapat dimengerti bahwa Allah menganugerahkan nikmat lahir berupa pakaian yang berfungsi menutup badan sebagai bagian dari auratnya. Pakaian yang menutup badan adalah perspektif lahir yang manfaatnya banyak sekali, di antaranya perlindungan dari panas, kedinginan, virus, bakteri, sehingga manusia aman dari gangguan alam dan sekitarnya. Manusia disuruh berfikir seandainya Allah tidak memberikan anugerah pakaian, niscaya layaknya makhluq-makhluq yang tidak berpakaian itu, yang ini dapat direnungkan ketika kita sebagai manusia menyendiri di kamar mandi, melepas semua pakaian kita, alangkah manusia ini tidak ada bedanya dengan hewan-hewan yang ada di sekitar kita. Maka dalam diskusi hukum Islam aurat harus ditutup, karena kalau aurat tidak ditutup akan memunculkan kemaluan dalam diri manusia.
            Hal ini akhirnya dapat digambarkan bahwa fungsi pakaian secara lahiriyah melindungi manusia dari gangguan alam dan sekitarnya sehingga tetap aman, sehat dan menjaga eksistensinya. Selain itu pakaian secara lahiriyah juga memberikan nilai keindahan (estetika) bagi manusia. Dengan berpakaian manusia lebih cakep, tampan, cantik, sesuai dengan tradisi sosiologis manusia berada. Semakin dinamis interaksi sosial seseorang akan semakin membutuhkan penutup diri yang relevan dengan dirinya. Kedua adalah fungsi maknawiyah yang artinya pakaian tidak hanya menutup badan, tetapi menutupi diri dari sifat malu jika terbuka. Maka dalam hal ini dalam Al-Qur’an disebutkan libas al-taqwa, pakaian ketaqwaan. Artinya untuk menjaga eksistensi manusia sebagai makhluq yang mulia, tidak cukup dengan pakaian lahiriyah yang menutup badannya dan juga sebagai hiasan. Tetapi manusia diperintahkan untuk memakai pakaian ketaatan kepada Allah SWT yang dinamakan taqwa. Taat dalam menjalankan perintah-perintah Allah untuk selalu berlaku baik dengan Allah, Rasulullah, sesama manusia dan alam sekitarnya. Juga harus dapat menghindar dari semua larangan-larangan Allah, baik yang berhubungan dengan dirinya, lingkunganya atau sesama makhluqnya.
 Dalam hubungannya dengan ayat ini dalam kitab Ihya Ulum Al-Din, dijelaskan tiga hal 1. al-libas diartikan Ilmu, 2. Wa risya:  keyakinan dan libas al-taqwa adalah sifat malu. Maka jika diartikan ayat di atas maksudnya “Wahai anak cucu Adam, sungguh Kami telah menurunkan kepadamu ilmu untuk menutupi auratmu dan keyakinan (akan tetapi) pakaian takwa, mempunyai rasa malu itulah yang paling baik. Yang demikian itu merupakan sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Allah agar mereka selalu ingat.
Ilmu pengetahuan memang menurut Al-Ghazali adalah pengetahuan yang menjadi bekal bagi manusia yang menjalankan ibadah kepada Allah. Dengan pengetahuan inilah yang akan memberikan bimbingan kepada hamba untuk meraih keyakinan, keimanan, melakukan tindakan baik dan buruk, berguna dan tidak berguna dalam melakukan penghambaan kepada Allah. Kalau tidak mempunyai ilmu, seorang hamba layaknya orang buta (al’ama), sehingga tidak dapat melakukan segala sesuatu dalam hidupnya. Beribadah tidak bisa, bergaul tidak bisa, bahkan untuk memenuhi kebutuhan dirinya sehari-hari saja akan mengalami kesulitan. Tetapi dengan ilmu pengetahuan yang dia dapatkan seseorang dapat melakukan apa saja sesuai dengan kemampuannya, baik untuk kepentingan duniawi mau pun untuk kepentingan ukharawi-nya.
Juga yang diturunkan Allah adalah keyakinan sebagai bentuk justifikasi terhadap keilmuan yang dia terima. Kebenaran ajaran yang dijalankan oleh manusia dengan berbasis ilmu dan keyakinan akan menampilkan pribadi-pribadi yang memiliki kehormatan yang harus dijaga. Kalau manusia tidak mempunyai ilmu dan keyakinan sama saja dia tidak dapat menjaga kehormatannya alias malu, al-haya’. Maka anak Adam yang disebut oleh ayat itu harus mempunyai ilmu dan keyakinan sebagai metode untuk membuktikan kebesaran Allah SWT (ayat Allah).
Hikmahnya dalam kehidupan manusia, segala sesuatu dalam kehidupan ini harus selalu membawa tiga hal penting yaitu ilmu, keyakinan dan sifat malu. Yang ketiganya berperan semuanya tanpa meninggalkan salah satu, supaya tetap terjaga kehormatannya sebagai anak Adam. Tradisi Ilmu pengetahuan memiliki norma rasional untuk dipedomani sebagai basis pengetahuan manusia. Keyakinan adalah sisi terpenting sebagai hamba Allah dalam melakukan penghambaan di muka bumi. Sifat malu adalah standar ukuran untuk tetap menjadi manusia yang terhormat, baik di sisi Allah atau di tengah masyarakat. Manusia bertindak berdasarkan ilmu tetapi tidak mempunyai keyakinan tidak akan sampai kepada tujuan yang ingin dicapainya. Bertindak berdasarkan keyakinan tetapi tidak mempunyai ilmu juga tidak bisa, kalaupun bisa akan terjadi kesalahan dan kesesatan, tanpa ada bimbingan dari orang yang berilmu. Dua hal ilmu dan keyakinan harus selalu menyertai perbuatan manusia sehingga dia akan tetap terhormat, disertai dengan sifat malu yang ada dalam dirinya. Inilah anak adam sebagai manusia yang telah ditunjuk oleh Allah untuk memakmurkan, mngelola bumi seisinya ini dengan sebutan khalifah fi al-ardl.
Ini juga berhubungan dengan hakikat manusia yang terdiri dari lahir dan batin, lahir saja hanya badaniyah akan ada kecenderungan biologis lataknya hewan ternak (bahimiyah). Sisi bathiniyah saja tanpa ada jasadnya layaknya seperti ruh tanpa jasad, yang tidak dapat meramaikan bumi dan alam sekitarnya. Maka manusia juga harus dua-duanya aspek lahiriyah dan bathiniyah. Dan Allah dalam hal mempertahankan eksistensi diantara makhluq yang lain, diberilah kehormatan yang harus dijaga, yang dalam hal ini standar minimalnya adalah al-haya’ malu. Inilah kalau kita ingin melihat manusia secara utuh. Sebagaimana dawuh jeng Nabi SAW.

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

(sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupamu dan hartamu tetapi melihat kepada hati dan perbuatanmu). Untuk itu melihat manusia dengan hati dan perbuatannya (akhlaqnya) bukan melihat kepada kepada penampilan dan harta.) Wa Allahu A’lam!
*Penulis : Prof. Dr. KH. Asmawi Mahfudz, M.Ag
(Pengajar UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, PCNU, Khadim PP al-Kamal Blitar dan Yayasan Baiturahman Kediri)

Tags :

Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *